Dunia seni sering kali digambarkan sebagai ruang penuh romantisasi: studio yang berantakan, kilasan inspirasi yang datang tiba-tiba, dan mahakarya yang lahir dalam semalam. Namun, realitas di balik layar industri kreatif jauh dari sekadar romantis. Ini adalah medan pertempuran yang kompetitif, penuh dengan penolakan, kritik, dan keraguan diri.
Ragu adalah sifat dasar manusia yang dipicu oleh rasa takut, ketidakpastian, atau bentuk proteksi diri agar tetap aman. Namun, ketika keraguan mulai menghalangi kita untuk melakukan hal yang kita sukai—seperti menggambar dan berkarya—kita tidak boleh membiarkannya menang.