Jordan Peterson: Membesarkan Anak yang “Disukai Dunia”
Share
Di tengah berbagai tren parenting modern yang menekankan kebebasan berekspresi dan kebahagiaan anak, pandangan Jordan Peterson menawarkan sudut pandang yang cukup tajam—bahkan bagi sebagian orang, terasa “tidak nyaman”. Ia menyatakan bahwa salah satu tujuan utama parenting adalah memastikan anak menjadi pribadi yang “diinginkan” oleh lingkungan sosialnya, terutama sebagai teman bermain.
Pernyataannya yang terkenal, “Your job as a parent is to make your child as desirable as possible as a playmate by the age of four,” bukan sekadar soal sopan santun. Ini adalah fondasi dari bagaimana anak akan diterima atau ditolak oleh dunia di sekitarnya.

Anak Tidak Otomatis Siap Bersosialisasi
Peterson menolak anggapan bahwa anak lahir sebagai makhluk yang “secara alami baik” dan akan berkembang dengan sendirinya. Menurutnya, anak perlu dibimbing, dilatih, dan didisiplinkan agar mampu hidup dalam struktur sosial seperti keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Tanpa proses ini, anak berisiko menjadi individu yang:
- Sulit bekerja sama
- Tidak memahami batasan
- Cenderung ditolak oleh teman sebaya
Dalam konteks ini, parenting bukan hanya soal kasih sayang, tetapi juga tanggung jawab moral untuk mempersiapkan anak menghadapi realitas sosial.
Disiplin Bukan untuk Mengontrol, Tapi Membebaskan
Salah satu poin penting dalam pemikiran Peterson adalah bahwa disiplin bukan bertujuan mengekang anak, melainkan membantu mereka menjadi pribadi yang menyenangkan untuk diajak berinteraksi.
Anak yang:
- Bisa berbagi
- Menghormati orang lain
- Mengikuti aturan sederhana
akan lebih mudah diterima dalam lingkungan sosial. Sebaliknya, anak yang tidak memiliki batasan sering kali dianggap “beban” oleh orang lain—baik oleh teman, guru, bahkan lingkungan yang lebih luas.
Di sinilah disiplin menjadi alat untuk membuka pintu kesempatan sosial bagi anak.
Aturan Empat Tahun: Masa Kritis yang Tak Terulang
Peterson menekankan bahwa usia 0–4 tahun adalah periode emas yang tidak bisa diulang. Pada fase ini, anak:
- Belajar dasar perilaku sosial
- Menyerap pola interaksi dari orang tua
- Mengembangkan kebiasaan yang akan terbawa hingga dewasa
Jika pada fase ini anak tidak dibimbing dengan baik, konsekuensinya bisa terasa dalam jangka panjang, terutama dalam kemampuan mereka membangun relasi.
Mengajarkan Kemandirian, Bukan Sekadar Kebahagiaan
Banyak orang tua saat ini berfokus pada satu tujuan utama: membuat anak bahagia. Namun, Peterson mengingatkan bahwa kebahagiaan tanpa karakter adalah fondasi yang rapuh.
Ia mendorong orang tua untuk:
- Menanamkan tanggung jawab
- Memberi kesempatan anak menghadapi tantangan
- Tidak selalu “menyelamatkan” anak dari kesulitan
Tujuannya bukan membuat anak nyaman setiap saat, tetapi membentuk mereka menjadi individu yang tangguh dan mandiri.
Jangan Mengidolakan Anak
Dalam budaya modern, anak sering ditempatkan sebagai pusat segalanya. Namun menurut Peterson, sikap ini berbahaya jika berlebihan.
Mengidolakan anak dapat:
- Menciptakan rasa berhak (entitlement)
- Menghambat kemampuan anak menerima kritik
- Menyulitkan mereka beradaptasi dengan dunia nyata
Sebaliknya, anak perlu dicintai sekaligus diajarkan batasan dan tanggung jawab.
Parenting sebagai Investasi Sosial
Pada akhirnya, gagasan utama dari Jordan Peterson adalah bahwa parenting bukan hanya urusan keluarga, tetapi juga kontribusi terhadap masyarakat.
Anak yang:
- Sopan
- Menyenangkan
- Kompeten secara sosial
akan lebih mudah:
- Membangun relasi
- Mendapat kesempatan
- Beradaptasi di berbagai lingkungan
Dengan kata lain, membentuk anak yang “disukai” bukan soal popularitas, tetapi tentang membekali mereka dengan kemampuan untuk hidup berdampingan dengan orang lain.
Penutup
Pandangan ini mungkin terasa kontras dengan pendekatan parenting yang terlalu permisif. Namun, ada pesan penting yang bisa dipetik:
kasih sayang saja tidak cukup.
Orang tua juga perlu:
- Menjadi pembimbing
- Menetapkan batas
- Menanamkan nilai sosial sejak dini
Karena pada akhirnya, dunia tidak hanya menilai seberapa bahagia seorang anak, tetapi juga seberapa baik ia bisa hidup bersama orang lain.
Jordan Peterson adalah psikolog klinis, penulis, dan komentator media asal Kanada yang terkenal karena pandangan-pandangannya mengenai psikologi, filosofi, dan budaya. Ia adalah mantan profesor di Universitas Toronto dan Harvard, yang dikenal luas melalui buku 12 Rules for Life dan kuliah-kuliahnya yang membahas tentang tanggung jawab pribadi serta makna hidup.
(BP/CA)
