Type to search

INSPIRATION VALUABLE ARTICLES

Tidak Harus Jago Gambar!: Ayo Manfaatkan Doodle untuk Media Membangun Mental Health!

Share

Mengurai Stres Lewat Coretan: Memanfaatkan Doodle untuk Kesehatan Mental

Di tengah padatnya rutinitas, menemukan metode relaksasi yang sederhana dan terjangkau menjadi kebutuhan banyak orang. Salah satu teknik ekspresi diri yang semakin populer untuk menjaga kesehatan mental adalah menggambar doodle. Messy lines atau coretan acak yang kerap dianggap bentuk ketidakfokusan ini ternyata menyimpan manfaat terapeutik yang signifikan bagi pikiran.

Apa Itu Doodle?

Doodle adalah gambar sederhana yang dibuat secara spontan saat pikiran seseorang sedang teralih atau terfokus pada hal lain. Berbeda dengan karya seni komersial atau seni rupa murni yang membutuhkan teknik khusus dan perencanaan matang, doodle tidak memiliki aturan bentuk, struktur, atau standar keindahan.

Bentuknya bisa sangat bervariasi—mulai dari pola geometris, garis meliuk, sketsa wajah, hingga bentuk abstrak tanpa makna fisik tertentu. Inti dari doodle terletak pada proses pembuatannya yang bebas dan tanpa beban penilaian (judgment-free).

Doodling untuk Semua Orang: Tanpa Perlu Bakat Menggambar!

Image: Pinterest

Salah satu hambatan terbesar seseorang saat ingin mencoba seni visual sebagai media terapi adalah anggapan bahwa mereka “tidak bisa menggambar.” Padahal, doodling sangat inklusif dan dapat dilakukan oleh siapa saja.

  • Tidak Membutuhkan Keterampilan Khusus: Doodle tidak menilai ketepatan proporsi, perspektif, atau pencahayaan. Garis melengkung yang miring atau lingkaran yang tidak simetris tetaplah doodle yang sah dan berfungsi penuh secara terapeutik.
  • Fokus pada Proses, Bukan Hasil: Seni akademis dinilai dari produk akhirnya, sedangkan manfaat doodle untuk kesehatan mental terletak 100% pada proses fisik dan emosional saat jemari menggoreskan alat tulis di atas kertas.
  • Pelepas Beban Perfeksionisme: Bagi siapa saja yang sering merasa cemas akan penilaian orang lain, doodling memberikan ruang aman (safe space) di mana standar “salah” dan “benar” sama sekali tidak berlaku. Jika Anda bisa membuat titik atau garis acak, Anda sudah memiliki syarat yang cukup untuk mulai.
Image: Tombow USA

Pandangan Para Ahli tentang Doodle dan Kesehatan Mental

Gagasan mengenai manfaat doodle bagi psikologis manusia didukung oleh berbagai riset dan praktisi kesehatan mental:

  • Dr. Jackie Andrade (Universitas Plymouth): Dalam studinya pada tahun 2009, Dr. Andrade menemukan bahwa aktivitas doodle saat mendengarkan informasi kompleks dapat meningkatkan retensi memori hingga 29%. Doodle membantu mencegah pikiran melamun (daydreaming) berlebihan yang menguras energi kognitif.
  • Dr. Girija Kaimal (Drexel University): Melalui penelitian neurosains, Dr. Kaimal menemukan bahwa melakukan aktivitas seni visual sederhana selama 45 menit—termasuk mencoret-coret secara bebas—dapat menurunkan kadar hormon kortisol (hormon stres) dalam tubuh secara signifikan.
  • Cathy Malchiodi, Ph.D. (Pakar Terapi Seni): Menggambar bebas berfungsi sebagai media regulasi emosi non-verbal yang memungkinkan otak melepaskan ketegangan tanpa perlu merangkai kata-kata yang rumit.

Bagaimana Cara Kerja Doodle dalam Membantu Kesehatan Mental?

Doodle memengaruhi sistem saraf dan kognitif manusia melalui beberapa mekanisme:

  • Mengaktifkan Keadaan Flow: Aktivitas motorik halus yang berulang mengalihkan perhatian otak dari pikiran yang memicu kecemasan, membawa pikiran ke kondisi present-moment awareness (kesadaran saat ini).
  • Ekspresi Emosional Tanpa Kata: Banyak beban emosional yang sulit diverbalisasi. Coretan garis yang tegas, lembut, atau melingkar menjadi saluran fisik untuk melepaskan tekanan emosi yang terpendam.
  • Menurunkan Aktivitas Default Mode Network (DMN): DMN adalah jaringan otak yang aktif saat seseorang merenungi masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan. Doodle memberikan stimulasi ringan yang cukup untuk menenangkan area otak ini.
  • Menstimulasi Pelepasan Dopamin: Menyelesaikan pola-pola kecil pada kertas memberikan rasa pencapaian (sense of accomplishment) instan yang memicu hormon kebahagiaan.

Tips Praktis Mulai Membuat Doodle untuk Regulasi Emosi

1. Singkirkan Ekspektasi Hasil: Tanamkan dalam pikiran bahwa tujuan utama adalah merilis beban emosional, bukan menghasilkan karya pameran.

2. Pilih Alat yang Nyaman: Gunakan kertas kosong atau buku catatan biasa dengan pulpen, spidol, atau pensil warna yang paling disukai.

3. Mulai dari Pola Berulang: Jika bingung, mulailah dengan pola sederhana seperti lingkaran bertingkat, garis zigzag, gelombang air, atau bentuk daun.

4. Menjadikan Tulisan/Ekspresi sebagai Bagian dari Opsi Doodle Masukkan aktivitas menuliskan kata-kata emosional ke dalam variasi gerakan doodle itu sendiri.

5. Menggunakan Tipografi dalam Kata Ekspresif: Selain garis atau bentuk geometris, Anda bisa menuliskan satu kata atau quotes yang sedang dirasakan (seperti “Lelah”, “Cemas”, atau “Tenang”) lalu membingkainya dengan coretan garis berulang hingga perasaan tersebut terasa meluruh.

6. Alokasikan Waktu Singkat: Luangkan waktu 5 hingga 10 menit di sela-sela jam kerja, saat jeda istirahat, atau sebelum tidur.

7. Fokus pada Sensasi Fisik: Rasakan gesekan ujung pulpen pada permukaan kertas dan gerakan tangan Anda untuk memperkuat efek relaksasi.

Menggabungkan Doodle dan Journaling (Doodle Journaling)

Image: Pinterest

Menggabungkan teknik menulis jurnal (expressive writing) dengan seni coretan menciptakan metode regulasi emosi yang seimbang antara otak kiri (logika, bahasa) dan otak kanan (visual, emosi):

  • Menjangkau Emosi Kompleks: Perasaan cemas yang sulit dijelaskan lewat tulisan dapat diwakili lewat goresan garis tebal, pemandangan abstrak, atau pola acak di samping catatan harian.
  • Mengatasi Writer’s Block: Mengisi pinggiran halaman kosong dengan coretan visual dapat meredakan ketegangan mental dan memancing ide atau perasaan mengalir lebih mudah.
  • Visualisasi Afirmasi Positif: Menggambar pola di sekitar kalimat motivasi atau daftar rasa syukur (gratitude list) membantu memperkuat pesan positif tersebut ke dalam memori.
  • Pelacak Suasana Hati (Mood Tracker): Doodle sederhana dapat dimanfaatkan untuk mencatat dinamika emosi harian melalui simbol atau warna yang mewakili tingkat stres dan energi sepanjang minggu.

Inspirasi dari Para Seniman Dunia

Beberapa seniman dan kreator ternama secara aktif memanfaatkan seni coretan sebagai sarana menjaga kesehatan mental dan terapi emosional:

  • Mr. Doodle (Sam Cox): Seniman asal Inggris ini memanfaatkan aliran Obsessive Compulsive Drawing sebagai bentuk meditasi visual untuk mengelola kecemasan dan mengalirkan energi hiperaktifnya menjadi karya positif.
  • Shantell Martin: Dikenal dengan doodle garis hitam-putih spontan, Shantell menggunakan goresan tanpa rencana (stream-of-consciousness) sebagai metode meditatif untuk memahami identitas diri dan melatih kesadaran penuh (mindfulness).
  • Jon Burgerman: Memelopori gerakan Quiet Drawings, Jon secara terbuka membagikan bagaimana doodle sederhana membantunya mengatasi kepenatan mental (burnout) dan meredakan stres harian.
  • Yellena James: Menciptakan doodle bermotif organik dan bentuk abstrak mikro seluler sebagai sarana penyembuhan diri (self-healing) dan menciptakan ketenangan batin.
  • Mattias Adolfsson: Menggunakan rutinitas menggambar doodle di buku sketsa harian sebagai terapi untuk melepaskan tekanan perfeksionisme dan menguraikan keriuhan pikiran.
Photo: Shantel Martin

Pada akhirnya, doodle adalah pengingat bahwa seni tidak selalu tentang estetika, melainkan tentang koneksi kembali dengan diri sendiri. Di tengah dunia yang menuntut segalanya harus sempurna dan terstruktur, secarik kertas kosong dan sebuah pulpen memberi kita kebebasan penuh untuk berbuat salah, berantakan, dan memproses emosi tanpa perlu dinilai. Luangkanlah waktu beberapa menit setiap hari untuk membiarkan tangan Anda bergerak bebas—sebab terkadang, cara terbaik untuk menguraikan benang kusut di dalam pikiran adalah dengan membiarkannya mengalir menjadi coretan sederhana di atas kertas.

(BP/CA)

Tags:

Leave a Comment