Dr. Daniel Amen: Stop Mulai Sekarang, 10 Pola Asuh Ini Justru Merusak Kepercayaan Diri Anak
Share

Setiap orang tua tentu mendambakan anak yang tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, tangguh, dan mandiri. Namun, tanpa disadari, beberapa kebiasaan atau pola asuh sehari-hari justru dapat mengikis rasa percaya diri dan kemandirian anak.
Menurut psikiater Amerika dr. Daniel Amen berikut adalah 10 hal yang sebaiknya TIDAK dilakukan oleh orang tua, beserta solusi apa yang sebaiknya DILAKUKAN untuk membangun kepercayaan diri anak:
1. Mengabaikan Kesehatan Otak Anak
Sebaiknya TIDAK Dilakukan: Mengabaikan pentingnya mengajarkan dan mencontohkan kesehatan otak sejak dini.
Sebaiknya Dilakukan: Ajarkan kebiasaan kecil (tiny habits) dengan memainkan permainan sederhana seperti “Is this good for your brain or bad for it?”. Libatkan anak saat memilih makanan sehat atau beraktivitas, sehingga mereka belajar memikirkan dampak setiap tindakan terhadap kesehatan tubuh dan otaknya.
2. Kurang Mengalokasikan Waktu Berkualitas (Bonding)
Sebaiknya TIDAK Dilakukan: Terlalu sibuk dengan urusan sendiri atau terus-menerus terdistraksi oleh gadget. Anak yang kurang mendapatkan perhatian positif cenderung melakukan perilaku negatif demi mendapatkan perhatian orang tua.
Sebaiknya Dilakukan: Luangkan Special Time setidaknya 20 menit sehari. Lakukan aktivitas yang diinginkan anak tanpa memberi perintah, koreksi, atau pertanyaan yang menghakimi. Dengarkan cerita mereka saat berkendara bersama atau bermain game untuk mempererat ikatan emosional.
3. Selalu Menggurui dan Tidak Mau Mendengarkan
Sebaiknya TIDAK Dilakukan: Terus-menerus menumpahkan nasihat atau ceramah tanpa memberi ruang bagi anak untuk bicara. Memaksa nilai-nilai tanpa ikatan emosional justru membuat anak mencari nilai yang bertolak belakang.
Sebaiknya Dilakukan: Terapkan mendengarkan secara aktif (active listening). Respons ucapan anak berdasarkan apa yang Anda dengar, bukan langsung memberi penilaian atau solusi. Ketika anak merasa didengar, rasa percaya diri dan hubungan saling percaya akan menguat.
4. Selalu Menyelamatkan Anak dari Kesalahan Kecil
Sebaiknya TIDAK Dilakukan: Terlalu protektif (helicopter parenting) dan selalu mengambil alih saat anak menghadapi masalah, seperti lupa membawa PR, bekal, atau jaket . Sikap ini secara tidak langsung mengirimkan pesan bahwa anak tidak kompeten menyelesaikan masalahnya sendiri.
Sebaiknya Dilakukan: Biarkan anak merasakan konsekuensi alamiah ketika dampaknya masih relatif kecil dan aman. Gunakan pendekatan Love and Logic: tunjukkan empati tanpa mengambil alih tanggung jawab mereka, agar anak belajar mendengarkan kompas internal mereka sendiri.
5. Melakukan Terlalu Banyak Hal untuk Anak (Memanjakan)
Sebaiknya TIDAK Dilakukan: Melayani semua kebutuhan anak atau buru-buru menghibur mereka setiap kali mereka merasa bosan. Terlalu memanjakan anak dapat menciptakan sikap merasa berhak (entitled) yang merusak rasa percaya diri mereka.
Sebaiknya Dilakukan: Berikan tanggung jawab dan tugas rumah tangga (chores) sesuai usia. Keterampilan yang teruji akan membangun kompetensi, dan kompetensi itulah yang membentuk self-esteem sejati. Jika anak mengaku bosan, kembalikan tanggung jawab tersebut: “Kira-kira apa yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi rasa bosanmu?”.
6. Gagal Memberikan Pengawasan yang Cukup
Sebaiknya TIDAK Dilakukan: Bersikap terlalu pembiar (permissive) tanpa batas yang jelas atau tidak tahu dengan siapa dan di mana anak berada.
Sebaiknya Dilakukan: Jadilah “korteks prefrontal” bagi anak selama otak mereka masih berkembang hingga usia pertengahan 20-an. Tetapkan batasan yang jelas dengan kombinasi bersikap tegas namun penuh kasih (firm and kind). Pengawasan yang konsisten membuat anak merasa aman dan dipedulikan.
7. Mencontohkan Perilaku yang Tidak Sehat
Sebaiknya TIDAK Dilakukan: Menuntut anak melakukan kebiasaan baik sementara orang tua mencontohkan pola hidup buruk atau emosi yang tidak stabil.
Sebaiknya Dilakukan: Anak meniru apa yang dilakukan orang tua, bukan apa yang dikatakan . Jadilah teladan nyata dalam menjaga pola makan, mengelola stres, dan menerapkan gaya hidup sehat secara konsisten.
8. Lupa Bagaimana Rasanya Menjadi Anak-Anak / Remaja
Yang TIDAK Dilakukan: Bersikap seolah-olah orang tua dahulu adalah anak yang sempurna tanpa cela. Hal ini menciptakan jarak dan membuat anak enggan terbuka.
Yang Sebaiknya Dilakukan: Tunjukkan empati dan ingat kembali betapa tidak mudahnya melewati fase anak-anak maupun remaja. Posisikan diri sebagai pembimbing (coach) yang aman untuk diajak berdiskusi dan berkonsultasi ketika anak menghadapi masalah.
9. Memuji Anak dengan Label “Pintar”
Yang TIDAK Dilakukan: Terus-menerus memuji hasil akhir atau memberi label “kamu pintar sekali”. Pujian ini dapat membuat anak takut gagal, malas berusaha, atau mudah menyerah saat menemui kendala yang sulit.
Yang Sebaiknya Dilakukan: Puji proses, usaha, dan kerja keras anak (growth mindset). Selain itu, ajarkan bahwa ada ribuan cara untuk menyelesaikan suatu masalah sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang fleksibel dan pantang menyerah.
10. Selalu Fokus pada Kesalahan Anak
Yang TIDAK Dilakukan: Terus-menerus mengkritik, mencari-cari kekurangan, dan jarang memberikan pujian atas perilaku positif. Kritik yang terus menerus merusak rasa percaya diri anak.
Yang Sebaiknya Dilakukan: Gunakan prinsip “Catch them doing things right” . Perhatikan dan beri apresiasi ketika anak melakukan hal yang baik. Ke mana fokus perhatian orang tua diarahkan, di situlah perilaku anak akan terbentuk.
Apa Tujuan Pengasuhan yang Sebenarnya?
Tujuan utama pengasuhan bukanlah menjadi teman terbaik sejak awal atau membuat anak selalu senang setiap saat, melainkan mendidik anak menjadi pribadi yang bertanggung jawab, kompeten, dan mandiri. Dengan menerapkan pola asuh yang tegas dan penuh kasih (firm and kind), orang tua memberikan fondasi yang kuat bagi anak untuk tumbuh menjadi individu yang penuh percaya diri.
Daniel Gregory Amen adalah seorang dokter selebriti Amerika yang berpraktik sebagai psikiater. Ia adalah pendiri dan kepala eksekutif Amen Clinics. Ia juga pendiri Change Your Brain Foundation, BrainMD, dan Amen University. Hingga tahun 2023, ia telah dua belas kali menjadi penulis buku terlaris New York Times.
Sumber: 10 Things Parents Should Never Do (& What To Do To Build Confidence)
(CA/BP)
