Type to search

PARENTING AND GROWTH

Masa ‘The Forgotten Years’: 9 Hal Penting yang Anak Usia 6–11 Tahun Butuhkan Tapi Tak Pernah Dikatakan

Share
Photo: Pexels/Tiago Fagundes Soares

Pernahkah Anda merasa anak Anda yang berusia 8 tahun tiba-tiba tidak lagi meminta dipeluk, tidak lagi merengek minta diantar, atau tampak bisa mengurus semuanya sendiri? Banyak orang tua menganggap masa ini sebagai tanda bahwa anak sudah mandiri dan “tidak terlalu membutuhkan” bimbingan seperti saat mereka masih balita.

Namun, penelitian menunjukkan hal yang berbeda. Para peneliti menyebut rentang usia 6 hingga 11 tahun sebagai “The Forgotten Years” (Tahun-tahun yang Terlupakan) dalam perkembangan anak. Bukan karena orang tua berhenti mencintai mereka, melainkan karena orang tua sering menganggap anak sudah semakin mandiri, tepat di saat mereka sebenarnya paling membutuhkan dukungan.

Memasuki usia 8 tahun, anak sering kali berhenti meminta hal-hal yang sebenarnya masih sangat mereka butuhkan. Bukan karena mereka sudah tidak membutuhkannya, melainkan karena mereka belajar untuk berhenti bertanya atau mengungkapkan keinginannya.

Di rentang usia ini, anak sedang secara diam-diam membentuk keyakinan mendasar dalam diri mereka:

“Apakah aku mampu?” atau “Apakah aku tidak cukup baik?”

Dan apa yang mereka dengar di rumah membentuk keputusan tersebut lebih dari sekolah, teman sebaya, atau nilai pelajaran mereka.

Meskipun bertubuh makin tinggi, mulai bisa memutar bola mata (roll their eyes), atau sering berkata “Aku tidak apa-apa”, berikut adalah hal-hal penting yang tetap sangat dibutuhkan anak dari orang tuanya:


1. Tetap Ingin Dipeluk (To Still Be Held)

Anak-anak yang tumbuh besar tetap membutuhkan kasih sayang fisik, meskipun mereka tidak lagi memintanya secara terbuka. Dr. Gordon Neufeld menyebutnya sebagai “the gathering instinct”—sebuah dorongan alami untuk terhubung yang tetap krusial hingga masa remaja. Bentuknya bisa sangat sederhana: usapan lembut di bahu, pelukan hangat sebelum berangkat sekolah, atau sekadar duduk berdekatan di sofa.

2. Didengarkan Tanpa Langsung “Dibenarkan” (To Be Listened To Without Being Fixed)

Saat anak datang membawa masalah, naluri alami orang tua adalah langsung menyelesaikan masalah tersebut (solve). Namun, yang sebenarnya diinginkan anak adalah didengar (heard).

  • Hindari: “Nah, makanya kamu harusnya…”
  • Cobalah: “Itu terdengar sangat sulit ya. Coba ceritakan lebih lanjut…”

Memberikan jalan keluar secara langsung sering kali menghentikan percakapan, sedangkan mendengarkan dengan empati membangun jembatan komunikasi.

3. Diapresiasi Saat Melakukan Hal-Hal Kecil (To Be Seen Doing the Small Things)

Dalam tahap perkembangan ini (Industry vs. Inferiority), anak sedang membangun rasa kompetensi diri. Ketika mereka mengikat tali sepatu sendiri, menyelesaikan tugas rumah, atau merapikan meja makan, mereka butuh orang tua menyatakannya secara lisan: “Ibu/Ayah lihat kamu bisa melakukan itu sendiri.” Satu kalimat sederhana ini dapat menjadi suara positif di dalam kepala mereka hingga puluhan tahun mendatang.

4. Diberi Ruang Membuat Kesalahan Tanpa Takut Kehilangan Koneksi (To Mess Up Without Losing You)

Studi dari University of British Columbia terhadap 1.400+ anak usia 9–12 tahun menemukan fakta bahwa pada kelas 6 SD, anak-anak merasa secara signifikan kurang terhubung dengan orang dewasa di rumah dan menghabiskan lebih banyak waktu sendirian setelah sekolah. Pemutusan hubungan (disconnect) ini ternyata tidak dimulai saat usia remaja, melainkan sejak usia 9 tahun. Tetaplah hadir dan berada di dekat mereka terutama saat mereka mengalami kegagalan.

5. Memiliki Ritual Kecil Bersama (To Have a Ritual That’s Just Yours)

Koneksi tidak harus dibangun lewat liburan mewah atau momen besar. Dr. Becky Kennedy menyebut momen koneksi (connection moments) seperti membuat sarapan bersama di hari Sabtu, berjalan kaki ke sekolah, atau ngobrol santai di dalam mobil saat perjalanan pulang sebagai fondasi utama rasa aman (security) seorang anak.

6. Dipercaya Mengatur Hal-Hal Nyata (To Be Trusted With Real Things)

Berikan kepercayaan pada anak untuk mengambil peran nyata: membuat daftar belanjaan, membawa anjing jalan-jalan sendiri, atau menentukan rencana akhir pekan keluarga. Penelitian menyebut ini sebagai bagian dari effortful control—kemampuan untuk mengambil keputusan mandiri yang menjadi prediktor kuat kesejahteraan (well-being) anak di masa middle childhood. Saat orang tua mempercayai mereka, anak belajar untuk percaya pada diri mereka sendiri.

7. Mendengar Ungkapan “Aku Menyukaimu”, Bukan Sekadar “Aku Menyayangimu” (To Hear “I Like You” Not Just “I Love You”)

Kalimat “I love you” bersifat tanpa syarat dan anak-anak umumnya sudah mengetahui hal itu. Namun, ungkapan “I like you” adalah sesuatu yang sangat mereka dambakan. Kalimat seperti “Ibu/Ayah suka berada di dekatmu”, “Kamu menyenangkan diajak bicara”, atau “Ibu/Ayah akan memilihmu sebagai teman” membangun bagian dalam diri anak yang membuat mereka percaya bahwa mereka layak dan berharga untuk dipilih.

8. Melihat Orang Tua Memperbaiki Hubungan Setelah Melakukan Kesalahan (To See You Repair After You Mess Up)

Orang tua tidak pernah sempurna. Suatu saat Anda bisa saja berteriak atau bersikap keliru. Hal paling berharga yang bisa dilakukan adalah datang kembali dan mengakuinya: “Ayah/Ibu tadi salah. Maaf ya, itu bukan salahmu.” Penelitian Dr. Daniel Siegel menunjukkan bahwa kelekatan yang aman (secure attachment) tidak dibangun dari ketiadaan konflik, melainkan dari proses pemulihan hubungan (repair).

9. Mengetahui Bahwa Mereka Tetap Orang Favorit Anda (To Know They Are Still Your Favorite Person to Be With)

Sekitar usia 11 atau 12 tahun, struktur otak anak mulai berubah (rewires). Teman-teman mulai menjadi pusat perhatian mereka, sementara orang tua bergeser ke pinggir—dan hal ini wajar terjadi. Sebelum masa itu berlalu, manfaatkan kesempatan ini untuk sering-sering berkata secara langsung bahwa berada bersama mereka adalah bagian terbaik dalam hari Anda.


Momen Singkat yang Tak Boleh Terlewatkan

Masa middle childhood ini kerap berlalu tanpa kita sadari karena perhatian kita sering kali teralihkan oleh kemandirian fisik anak yang tampak begitu cepat. Namun, di balik kepribadian mereka yang makin berani dan mandiri, anak-anak usia 6 hingga 11 tahun masih sangat membutuhkan kehadiran, pelukan, dan validasi dari orang tuanya. Jangan biarkan tahun-tahun ini berlalu begitu saja menjadi “The Forgotten Years” dalam ingatan mereka. Selagi pintu kesempatan ini masih terbuka lebar, luangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan, mempercayai, dan menikmati setiap momen bersama mereka—sebab bagi anak Anda, kehadiran dan penerimaan Anda adalah fondasi utama yang akan membentuk cara mereka memandang diri sendiri sepanjang hidupnya.

(BP/CA)

Tags:

Leave a Comment