Type to search

PARENTING AND GROWTH

Membangun Otot Emosi Anak:Tugas Orang Tua Bukan Membuat Anak Selalu Bahagia?

Share
Photo by RDNE Project/Pexels.com

“Tugas Orang Tua Bukan Membuat Anak Selalu Bahagia” sebuah ungkapan yang sering kali menjadi bagian yang paling sulit diterima secara emosional oleh orang tua.

Secara insting, kita ingin melihat anak kita tersenyum dan terbebas dari penderitaan. Namun, menurut seorang pakar Dr. Becky, mengejar kebahagiaan instan anak justru bisa menjadi bumerang bagi kesehatan mental mereka di masa depan. Otot emosi anakpun perlu dilatih agar menjadi pribadi yang kuat secara emosi di masa depan.


Bagaimana konsep pembentukan otot emosi?:

1. Perbedaan antara “Bahagia” dan “Tangguh”

Jika kita selalu mengintervensi setiap kali anak merasa kecewa—misalnya langsung membelikan mainan baru saat mainan lamanya rusak atau membela anak saat mereka kalah dalam permainan—kita sedang mencuri kesempatan mereka untuk belajar toleransi terhadap rasa tidak nyaman.

  • Anak yang selalu “dibahagiakan” akan tumbuh menjadi orang dewasa yang panik saat menghadapi hambatan kecil, karena mereka tidak pernah berlatih merasakan emosi negatif.
  • Anak yang tangguh adalah mereka yang pernah merasakan sedih, kecewa, dan marah, namun tahu bahwa mereka bisa melaluinya karena orang tuanya menemani (bukan menghilangkan) perasaan tersebut.

2. Membangun “Otot” Regulasi Emosi

Dr. Becky sering menganalogikan emosi seperti otot. Emosi sulit seperti kekecewaan, frustrasi, dan kegagalan adalah “beban” yang melatih otot mental anak.

  • Jika kita selalu mengangkat beban tersebut untuk mereka, otot mereka akan lemah.
  • Tugas orang tua bukan membuang bebannya, tapi berdiri di samping mereka sambil berkata, “Ini memang berat, tapi Ibu/ayah tahu kamu bisa memegangnya sebentar. Mari kita tarik napas bersama.”

3. Mengapa “Optimasi Kebahagiaan” Memicu Kecemasan?

Di video tersebut disebutkan bahwa mengoptimalkan kebahagiaan di masa kecil bisa memicu anxiety (kecemasan) di masa dewasa. Mengapa? Sebab, dunia nyata tidak akan selalu membuat mereka bahagia. Jika seorang anak terbiasa bahwa “dunia harus selaras dengan keinginanku agar aku merasa oke,” maka saat ia dewasa dan menghadapi atasan yang galak atau kegagalan proyek, ia akan merasa dunianya runtuh. Ia tidak memiliki “kamus internal” tentang bagaimana cara tetap stabil di tengah ketidakbahagiaan.

4. Pergeseran Fokus: Dari “Happiness” ke “Resilience”

Dr. Becky menyarankan kita untuk mengubah tujuan utama parenting:

  • Dulu: “Bagaimana cara menghentikan tangisannya agar dia senang lagi?”
  • Sekarang: “Bagaimana cara membantu anakku merasa mampu (capable) menghadapi perasaan tidak enak ini?”

5. Contoh Penerapan dalam Keseharian

Bayangkan anak Anda tidak diundang ke pesta ulang tahun temannya.

  • Reaksi “Membuat Bahagia”: “Jangan sedih, nanti kita pergi ke mall saja beli es krim yang paling besar!” (Ini adalah bentuk distraksi untuk membungkam emosi).
  • Reaksi Dr. Becky: “Ibu/ayah tahu itu rasanya sedih sekali dan tidak enak. Wajar kalau kamu merasa ditinggalkan. Ibu/ayah di sini bersamamu.”

Dengan melakukan ini, kita memberikan pesan yang sangat kuat: “Emosi negatif itu tidak berbahaya, kamu bisa mengatasinya, dan kamu tidak sendirian.”

Apakah kita pernah merasa bersalah atau “gagal” sebagai orang tua saat melihat anak sedang menangis atau merasa kecewa? Jadi apa yang sebaiknya harus dilakukan orang tua?


Menghadapi situasi di mana kita harus membiarkan anak merasa tidak nyaman memang sangat menantang secara emosional. Berikut adalah langkah-langkah praktis (solusi) untuk menerapkan poin tersebut tanpa membuat Anda merasa sebagai “orang tua yang jahat”:

Photo by Cottonbro/Pexels.com

1. Gunakan Formula “Dua Hal yang Benar” (Two Things Are True)

Ini adalah teknik andalan Dr. Becky untuk menyeimbangkan antara ketegasan dan empati. Kita mengakui perasaan anak, tetapi tetap pada batasan yang ada.

  • Skenario: Anak menangis karena waktu bermain gadget sudah habis.
  • Aplikasi: “Ibu/ayah tahu kamu sedih sekali harus berhenti main game (Hal Benar 1), dan sudah waktunya mematikan tablet sekarang (Hal Benar 2).”
  • Mengapa ini berhasil? Kita tidak menyuruhnya berhenti menangis, namun kita juga tidak memberikan tambahan waktu bermain hanya agar dia berhenti menangis.

2. Teknik “Duduk di Samping” (Being With)

Saat anak mengalami emosi negatif (marah, kecewa, sedih), jangan langsung memberikan solusi atau nasihat. Cukup hadir secara fisik dan emosional.

  • Tindakan: Duduklah di dekatnya, jika dia mau, berikan sentuhan fisik ringan atau pelukan.
  • Kalimat kunci: “Ibu/ayah di sini. Ibu/ayah tahu ini rasanya berat, tapi kamu aman.”
  • Mengapa ini berhasil? Ini mengajarkan anak bahwa emosi negatif bukanlah “keadaan darurat” yang harus segera dihilangkan, melainkan sesuatu yang bisa dilalui.

3. Berhenti Melakukan “Distraksi Instan”

Seringkali saat anak menangis, kita refleks berkata, “Lihat ada burung!” atau “Ayo makan cokelat saja supaya tidak sedih.”

  • Solusi: Tahan keinginan untuk mengalihkan perhatiannya. Biarkan dia memproses rasa kecewanya sampai tuntas.
  • Manfaat: Anak belajar bahwa dia punya kapasitas untuk kembali tenang (recovery) tanpa bantuan stimulasi luar.

4. Narasi Masa Depan (Membangun Prediktabilitas)

Anak sering merasa cemas atau meledak karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi. Memberikan gambaran bisa membantu mereka merasa lebih memegang kendali.

  • Aplikasi: “Nanti di toko mainan, kita hanya akan melihat-lihat. Kita tidak akan membeli apa pun hari ini. Mungkin nanti kamu akan merasa sedih saat kita keluar tanpa membawa mainan, dan itu tidak apa-apa. Ibu/ayah akan memegang tanganmu.”
  • Manfaat: Ini menyiapkan “mental” anak untuk menghadapi rasa kecewa sebelum rasa itu datang.

5. Latihan Pasca-Kejadian (Reviewing)

Setelah emosi anak mereda (bisa beberapa jam kemudian atau sebelum tidur), diskusikan apa yang terjadi tanpa nada menghakimi.

  • Kalimat kunci: “Tadi sore waktu kita harus pulang dari taman, kamu kesal sekali ya? Tapi Ibu/ayah bangga, meskipun kamu menangis, kamu tetap bisa berjalan sampai ke mobil. Kamu hebat bisa melewati perasaan sesulit itu.”
  • Manfaat: Ini membangun rasa percaya diri anak bahwa mereka adalah orang yang mampu menangani emosi sulit.

6. Kelola Rasa Bersalah Anda Sendiri

Sebagai orang tua, kita perlu menyadari bahwa melihat anak menangis tidak sama dengan gagal mengasuh.

  • Mantra untuk orang tua: “Tugasku adalah menjaga anakku tetap aman dan menemaninya melalui emosinya, bukan menjauhkannya dari kenyataan hidup.”

Dengan menerapkan langkah-langkah ini, Anda tidak sedang menghukum anak dengan membiarkannya sedih, melainkan sedang memberikan “imunisasi mental” agar dia siap menghadapi tantangan hidup di masa depan.


Dr. Becky Kennedy adalah seorang psikolog klinis, penulis, dan pakar pengasuhan anak yang dikenal sebagai “Pakar Pengasuhan Anak Generasi Milenial”. Sebagai pendiri Good Inside, ia menyediakan strategi berbasis riset yang dapat diterapkan untuk para orang tua, dengan fokus pada kepemimpinan yang kuat, koneksi, dan memperbaiki hubungan daripada disiplin yang ketat, bertujuan untuk membantu orang tua merasa berdaya dan percaya diri.

Sumber:Dr. Becky Kennedy: The #1 Mistake Parents Make That Kills Confidence in Their Kids!/Youtube Jay Shetty

(BP/CA)

Tags:

Leave a Comment