Era Baru Parenting Digital: Indonesia Mulai Batasi Media Sosial untuk Anak
Share
Pembatasan Gadget untuk Anak di Indonesia: Langkah Penting Melindungi Generasi Digital
(Carrot Academy, 14 Maret 2026) Perkembangan teknologi digital membawa manfaat besar bagi pendidikan dan komunikasi. Namun di sisi lain, penggunaan gadget yang tidak terkontrol pada anak juga menimbulkan berbagai risiko serius. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak negara mulai menyadari dampak negatif media sosial dan game terhadap anak-anak. Indonesia menjadi salah satu negara yang mengambil langkah tegas untuk melindungi generasi muda dengan membatasi akses anak terhadap platform digital tertentu.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital mengumumkan kebijakan pembatasan penggunaan media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun. Kebijakan ini mulai diterapkan secara bertahap pada tahun 2026. Platform yang termasuk dalam kategori berisiko tinggi antara lain:
- YouTube
- TikTok
- Threads
- X (Twitter)
- Bigo Live
- Roblox
Akun media sosial yang terdaftar atas nama pengguna di bawah usia tersebut akan dihapus atau dinonaktifkan secara bertahap oleh platform hingga mereka memenuhi ketentuan usia yang ditetapkan. Kebijakan ini dibuat untuk melindungi anak dari berbagai ancaman digital seperti pornografi, cyberbullying, penipuan online, dan kecanduan internet.
Langkah ini juga menjadi bagian dari respons pemerintah terhadap meningkatnya penggunaan internet oleh anak-anak. Survei menunjukkan bahwa hampir 48% anak di bawah usia 12 tahun di Indonesia telah mengakses internet, dan sebagian besar menggunakan media sosial populer.
Negara-negara yang memiliki kebijakan serupa.
Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengambil langkah ini. Beberapa negara lain juga memiliki regulasi pembatasan media digital bagi anak:
Australia
Australia telah mengambil langkah tegas dengan menghapus jutaan akun media sosial yang dimiliki pengguna di bawah umur sebagai upaya melindungi kesehatan mental anak.
Prancis dan Spanyol
Beberapa negara di Eropa mulai mengusulkan pembatasan usia penggunaan media sosial serta kewajiban verifikasi usia untuk platform digital.
Korea Selatan
Negara ini pernah menerapkan kebijakan terkenal bernama Shutdown Law yang melarang anak di bawah 16 tahun bermain game online pada tengah malam hingga pagi hari.
Kebijakan-kebijakan ini menunjukkan bahwa perlindungan anak di dunia digital telah menjadi isu global.
Dukungan Positif dari Tokoh Parenting di Indonesia
Kebijakan pembatasan gadget pada anak mendapat sambutan positif dari banyak pihak, terutama para pemerhati pendidikan dan parenting. Banyak pakar parenting menilai bahwa regulasi ini membantu orang tua menghadapi tekanan teknologi yang semakin kuat terhadap anak-anak.
Beberapa tanggapan yang sering disampaikan oleh para ahli dengan pembatasan gadget ini antara lain:
1. Anak membutuhkan masa tumbuh yang sehat tanpa tekanan digital.
Tokoh parenting menilai anak-anak seharusnya lebih banyak mengalami interaksi sosial langsung, bermain, dan belajar melalui pengalaman nyata.
2. Orang tua tidak bisa melawan algoritma sendirian.
Algoritma media sosial dirancang untuk membuat pengguna terus kembali menggunakan aplikasi. Regulasi pemerintah dianggap membantu orang tua mengontrol lingkungan digital anak.
3. Ini langkah awal membangun literasi digital keluarga.
Kebijakan ini diharapkan mendorong orang tua lebih aktif mengawasi aktivitas digital anak serta memperkenalkan penggunaan teknologi yang sehat.
Efek Buruk Gadget dan Media Sosial bagi Anak
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan gadget secara berlebihan dapat memberikan dampak negatif terhadap perkembangan anak.
1. Gangguan perkembangan sosial
Anak yang terlalu sering menggunakan gadget cenderung memiliki interaksi sosial yang lebih rendah. Mereka lebih banyak berinteraksi dengan layar dibandingkan dengan orang lain. Hal ini dapat menghambat perkembangan kemampuan komunikasi, empati, dan kerja sama.
2. Gangguan emosi dan perilaku
Kecanduan gadget juga dapat memengaruhi regulasi emosi anak. Penelitian menunjukkan anak yang terlalu lama menggunakan gadget lebih mudah mengalami:
- tantrum
- mudah marah
- sulit mengendalikan emosi
Hal ini terjadi karena stimulasi cepat dari layar membuat anak kesulitan mengelola rasa bosan dan frustrasi.
3. Penurunan fokus belajar
Penggunaan gadget lebih dari beberapa jam sehari dapat mengganggu waktu belajar dan konsentrasi anak di sekolah. Banyak anak lebih memilih menonton video atau bermain game dibandingkan belajar.
4. Risiko kecanduan digital
Data menunjukkan sebagian besar anak usia sekolah sudah memiliki akses terhadap gadget dan menggunakannya dalam waktu yang cukup lama setiap hari. Hal ini meningkatkan risiko kecanduan teknologi sejak usia dini.
Apa sih yang bisa dilakukan orang tua agar anak bisa memahami perlunya menggunakan gadget dengan bijak?
Saran Ahli Parenting untuk Mengurangi Ketergantungan Gadget
Para ahli parenting memberikan beberapa strategi praktis agar anak tidak bergantung pada gadget.
1. Tetapkan aturan waktu layar (screen time)
Banyak ahli merekomendasikan batas penggunaan gadget maksimal 1–2 jam per hari untuk anak usia sekolah.
2. Jadikan gadget sebagai alat, bukan hiburan utama
Gadget sebaiknya digunakan untuk kegiatan produktif seperti belajar atau mencari informasi.
3. Orang tua menjadi contoh
Anak cenderung meniru perilaku orang tua. Jika orang tua terlalu sering menggunakan gadget, anak juga akan melakukan hal yang sama.
4. Sediakan aktivitas alternatif

Anak membutuhkan kegiatan yang menarik di dunia nyata seperti:
- olahraga
- bermain di luar
- membaca buku
- kegiatan seni
Aktivitas ini membantu mengalihkan perhatian dari gadget.
Kesimpulan
Penggunaan gadget memang tidak dapat dihindari di era digital saat ini. Namun tanpa pengawasan yang tepat, gadget dapat memberikan dampak negatif bagi perkembangan anak.
Menghentikan sebuah kebiasaan akan lebih mudah dengan menggantikannya dengan kebiasaan lain. Karena itu, penting bagi orang tua untuk membatasi penggunaan gadget dan menyediakan aktivitas alternatif yang lebih sehat bagi anak.
(CA/BP)
