Anak Malas Belajar?: Rahasia Sains Mengapa Melatih Motorik Anak Lebih Penting Sebelum Memutuskan Les Tambahan!
Share
Mengatasi Anak Sulit Fokus dengan Pendekatan Brain-Based Parenting
Banyak orang tua sering merasa pusing saat menghadapi anak yang sulit fokus, mudah terdistraksi, atau terkesan tidak sabaran saat belajar. Ketika anak menunjukkan perilaku seperti ini—terutama pada usia sekolah—reaksi pertama kita sering kali adalah langsung memberikan les tambahan atau mengisolasi mereka di kamar agar fokus belajar.
Namun, menurut Irene Phiter, seorang certified play therapist dan penulis buku Brain Sculptor, perilaku anak hanyalah bentuk komunikasi luar dari apa yang terjadi di dalam otaknya. Untuk mengatasi masalah fokus, kita harus memahami root cause (akar masalahnya) menggunakan pendekatan Brain-Based Parenting.
Apa itu Brain-Based Parenting?
Brain-based parenting adalah metode pengasuhan di mana orang tua menambahkan pengetahuan tentang cara kerja otak anak ke dalam pola asuh sehari-hari. Dengan memahami sains di balik perkembangan otak, tugas mendidik anak akan terasa lebih terarah, terukur, dan tidak membuat orang tua mudah stres.
Otak anak berkembang secara bertahap hingga usia 25 tahun. Pada usia Golden Age (0–6 tahun), otak anak sangat fleksibel (neuroplasticity), artinya ia sangat reseptif terhadap semua stimulasi dan rekaman informasi dari lingkungan sekitar.
Ada 5 area utama otak yang berkembang pada masa ini:
- Sensori dan Motorik (kemampuan fisik dan gerak)
- Visual (ketelitian melihat, memproses apa yang dilihat)
- Auditori (pemrosesan bahasa dan pendengaran)
- Emosi (limbic system, pusat pemrosesan emosi)
- Frontal Lobes (otak depan untuk berpikir, logika, dan mengambil keputusan)
Akar Masalah Anak Sulit Fokus: Cek Motoriknya!
Miskonsepsi terbesar orang tua saat melihat anak SD tidak bisa diam atau sulit fokus mengerjakan PR matematika adalah langsung melabeli anak malas atau mencarikan guru les akademik. Padahal, saat di tempat les, anak dipaksa untuk kembali duduk diam, yang justru bisa membuatnya semakin frustrasi.
Irene Phiter menjelaskan bahwa akar masalah anak sulit fokus sering kali bukan pada kemampuan akademiknya, melainkan pada area motorik yang belum kuat.
Sebelum otak bagian depan bisa fokus berpikir, tubuh anak harus belajar untuk tenang dan diam terlebih dahulu. Jika otot inti (core muscle) atau koordinasi tubuh anak masih lemah, tubuhnya akan merasa resah. Duduk sebentar saja sudah membuatnya lelah, sehingga ia mulai gelisah, mengganggu teman, atau kakinya tidak bisa diam. Selain motorik, masalah eye tracking (kemampuan mata mengikuti bacaan secara fluent) yang lemah juga bisa membuat anak kesulitan fokus saat membaca.
Rumus Mengukur Durasi Fokus Anak
Orang tua sering kali berekspektasi terlalu tinggi terhadap durasi fokus anak. Agar tidak salah menilai, ada rumus sederhana yang bisa dijadikan patokan minimal:
Durasi Fokus Minimal (Menit) = 2 X Usia Anak
- Anak usia 2,5 tahun: Minimal fokusnya adalah 5 menit. Jika mereka sudah bisa duduk melihat buku selama 5 menit, itu sudah sangat ideal.
- Anak usia 8 tahun: Minimal fokusnya adalah 15–16 menit.
Jadi, memberikan tugas atau PR sekolah yang membutuhkan waktu duduk terus-menerus selama satu jam tanpa henti pada anak SD adalah hal yang tidak realistis. Solusinya, terapkan sistem break (istirahat pendek) setiap 20–30 menit sebelum melanjutkan kembali.
Melatih Kendali Diri Anak melalui Pendekatan Bottom-Up dan Top-Down
Selain masalah fokus, anak-anak juga sering kesulitan mengendalikan dorongan diri atau emosi (impulse control), seperti tantrum berlebihan saat keinginannya tidak dituruti. Untuk melatih rem otak (brain brake system) anak ini, orang tua bisa memadukan dua pendekatan:
1. Pendekatan Bottom-Up (Memperkuat Sistem Internal Otot & Sensori)
Banyak orang tua yang sudah belajar berbagai teori parenting (top-down) tetapi merasa gagal menenangkan anak yang tantrum. Masalahnya mungkin ada pada sistem internal anak yang belum matang.
Melatih motorik secara terarah terbukti efektif mengurangi intensitas tantrum pada anak di bawah 6 tahun. Yang dimaksud di sini bukan sekadar membiarkan anak bebas berlari di playground, melainkan gerakan terstruktur yang membutuhkan instruksi dan kontrol diri. Contohnya: permainan melompat di trampolin sambil membaca atau bergerak mengikuti ketukan ritme tertentu. Aktivitas terarah ini melatih otak anak kapan harus mengerem dan kapan harus mengegas gerakan tubuhnya, yang nantinya berbanding lurus dengan kemampuan mereka meregulasi emosi.
2. Pendekatan Top-Down (Edukasi Pengasuhan Eksternal)
Ini adalah usaha luar dari orang tua, seperti memvalidasi emosi anak (“Mama tahu kamu sedih..”), memeluknya, serta mengajarkan mereka untuk menenangkan diri sebelum mencari solusi bersama.
Dampak Gadget (Screen Time) Pasif pada Otak Anak
Sains di balik mengapa anak-anak sangat terhipnotis oleh gawai berkaitan dengan prinsip kerja otak: Input > Processing > Output.
Aktivitas seperti bermain Lego dengan instruksi atau membaca buku bersama orang tua melibatkan proses aktif hingga menghasilkan output. Sebaliknya, screen time yang berlebihan umumnya hanya bersifat input pasif. Anak hanya menerima visual dan suara tanpa dilatih memberikan respons (output). Jika otot output ini jarang dilatih sejak dini, anak berisiko mengalami keterlambatan perkembangan saat memasuki usia sekolah, di mana mereka dituntut untuk aktif fokus dan berinteraksi.
Jalan Tengahnya: Screen time sebenarnya tidak dilarang total, asalkan orang tua mendampingi dan mengubahnya menjadi aktivitas aktif. Caranya, setelah anak menonton, ajak mereka berdialog atau meminta mereka menceritakan kembali apa yang baru saja dilihat agar otak mereka menghasilkan output.
Orang Tua Adalah Pemahat Otak Anak
Sebagai orang tua, kita adalah brain sculptor (pemahat otak) bagi anak-anak kita. Kunci utama dari pembentukan jalur koneksi otak yang kuat (neuroplasticity) bukanlah memberikan terlalu banyak jenis kegiatan karena ikut-ikutan tren atau FOMO. Kuncinya adalah konsistensi dan repetisi (pengulangan).
Ketika memilih suatu aktivitas atau stimulasi untuk anak, berkomitmenlah untuk menjalaninya secara terstruktur minimal 6 bulan hingga 1 tahun agar jaringan di otak anak benar-benar terbentuk dengan kuat dan matang. Jangan terburu-buru melabeli anak, amati perilakunya, dan carilah akar masalahnya dengan sabar.
Sumber: #BossMama 48 | Anak Sulit Fokus? Ternyata Ini Akar Masalahnya | Irene Phiter
