Type to search

PARENTING AND GROWTH

Jangan Hanya Dipuji!: Ini Alasan Mengapa Anak Perlu “Gagal” untuk Bisa Percaya Diri

Share

Banyak orang tua percaya bahwa cara terbaik untuk membangun kepercayaan diri anak adalah dengan memberikan pujian setinggi langit. Kalimat seperti “Kamu pintar sekali!” atau “Kamu adalah artis terbaik!” seringkali dilontarkan dengan harapan anak akan merasa berharga. Namun, riset psikologi perkembangan menunjukkan hal yang berbeda.

Menurut Dr. Alisa Pressman, seorang psikolog perkembangan terkemuka, kepercayaan diri yang kokoh tidak datang dari kata-kata manis orang tua, melainkan dari kompetensi.


Mengapa Pujian Saja Tidak Cukup?

Pujian yang berlebihan atau tidak spesifik dapat menciptakan beban bagi anak. Ketika seorang anak terus-menerus diberitahu bahwa ia “pintar”, ia mungkin menjadi takut mencoba hal baru karena takut gagal dan kehilangan label tersebut.

Pujian tanpa dasar kompetensi seringkali terasa “kosong” di telinga anak. Mereka tahu ketika mereka sebenarnya belum menguasai sesuatu. Sebaliknya, ketika mereka berhasil melakukan sesuatu dengan tangan sendiri, mereka tidak butuh validasi eksternal untuk merasa bangga.


Kompetensi: 5 Tahap Fondasi Kepercayaan Diri yang Teruji

Kompetensi adalah kemampuan nyata untuk menyelesaikan tugas atau menghadapi tantangan. Ketika anak belajar sebuah keterampilan, mereka melewati 4 proses penting yang akan membentuk rasa percaya diri mereka:

1. Tahap Mencoba: Menghadapi Hambatan Awal

Setiap keterampilan baru dimulai dengan ketidaknyamanan. Saat anak pertama kali memegang kuas, mencoba mengikat tali sepatu, atau belajar perkalian, saraf mereka sedang dipaksa untuk bekerja dengan cara yang baru.

  • Pentingnya Tahap Ini: Di sini anak belajar keberanian. Kepercayaan diri dimulai saat seorang anak berkata, “Aku tidak tahu cara melakukannya, tapi aku akan mencobanya.”
  • Peran Orang Tua: Cukup hadir secara emosional tanpa langsung mengambil alih tugas tersebut.

2. Tahap Gagal: Belajar Bahwa Kegagalan adalah Data

Ini adalah titik paling krusial. Jika anak tidak pernah diizinkan gagal, mereka akan tumbuh menjadi orang dewasa yang rapuh. Dr. Alisa Pressman menekankan bahwa kegagalan kecil (misalnya, menara balok yang runtuh) adalah latihan untuk menghadapi kegagalan besar di masa depan.

  • Pentingnya Tahap Ini: Anak belajar bahwa kegagalan bukanlah identitas (“Aku bodoh”), melainkan informasi (“Oh, cara ini tidak berhasil”).
  • Efek Psikologis: Menurunkan tingkat kecemasan terhadap perfeksionisme.

3. Tahap Berusaha: Membangun Growth Mindset

Setelah gagal, anak akan mencoba lagi dengan strategi yang berbeda. Inilah saat di mana karakter terbentuk. Mereka mulai memahami hubungan antara usaha (effort) dan hasil (outcome).

  • Pentingnya Tahap Ini: Membangun daya tahan mental (grit). Anak mulai menyadari bahwa kecerdasan atau bakat bukanlah sesuatu yang statis, melainkan sesuatu yang bisa “dilatih” seperti otot.
  • Contoh: Saat anak mencoba menyusun puzzle berkali-kali, mereka sedang melatih fokus dan pemecahan masalah.

4. Tahap Menguasai: Merasakan Kepuasan Intrinsik

Inilah momen “Eureka!”. Ketika anak akhirnya berhasil melakukan sesuatu yang tadinya mustahil bagi mereka, otak mereka melepaskan dopamin—zat kimia yang memicu rasa senang dan bangga.

  • Pentingnya Tahap Ini: Rasa bangga ini bersifat intrinsik (datang dari dalam). Mereka tidak butuh orang tua bertepuk tangan untuk tahu bahwa mereka hebat; mereka merasakannya sendiri karena mereka melihat buktinya.
  • Dampak Jangka Panjang: Anak menjadi lebih mandiri dan tidak haus akan validasi orang lain.

5. Tahap Resiliensi: Membangun “Sepatu” yang Kuat

Setelah melewati siklus mencoba-gagal-berusaha-menguasai berkali-kali dalam berbagai bidang (akademik, sosial, maupun rumah tangga), anak akan memiliki “bank pengalaman”.

  • Hasil Akhir: Saat menghadapi tantangan baru di masa depan, mereka akan merujuk pada bank pengalaman ini. Mereka akan berpikir: “Dulu aku tidak bisa naik sepeda dan aku jatuh berkali-kali, tapi akhirnya aku bisa. Jadi, meskipun tugas matematika ini sulit, aku pasti bisa mempelajarinya.”
  • Analogi: Kita tidak bisa meratakan semua jalanan berbatu untuk anak, tapi melalui kompetensi, kita memberikan mereka “sepatu” yang sangat kuat agar mereka bisa berjalan di atas batu apa pun tanpa terluka.

Proses inilah yang membangun otot resiliensi. Anak yang kompeten akan berpikir, “Aku pernah menghadapi kesulitan sebelumnya dan aku bisa melaluinya,” bukan sekadar “Ibuku bilang aku hebat.”


4 Cara Membangun Kompetensi di Rumah

1. Jangan Lakukan Segalanya untuk Mereka

Sebagai orang tua, kita sering merasa kasihan melihat anak kesulitan. Namun, setiap kali kita mengambil alih tugas yang sebenarnya bisa mereka lakukan sendiri—seperti merapikan mainan atau menyiapkan tas sekolah—kita merampas kesempatan mereka untuk merasa kompeten.

2. Fokus pada Proses, Bukan Hasil

Alih-alih memuji hasil akhir (“Gambarmu bagus!”), pujilah usaha dan strategi mereka (“Ibu lihat kamu sangat teliti memilih warna untuk pohon itu,” atau “Ayah bangga kamu terus mencoba meski puzzle ini sulit”). Ini mendorong growth mindset.

3. Ajarkan Keterampilan Hidup Praktis

Kompetensi tidak harus selalu tentang prestasi akademik atau olahraga. Mengajarkan anak cara memasak telur, menyiram tanaman, atau memperbaiki sesuatu yang rusak memberikan rasa keberdayaan (self-efficacy). Mereka merasa menjadi anggota keluarga yang berkontribusi.

4. Biarkan Mereka Menjadi “Guru”

Salah satu cara terbaik untuk mengukuhkan kompetensi adalah dengan meminta anak mengajarkan apa yang mereka tahu kepada kita. Jika anak Anda jago dalam sebuah game atau mahir menggunakan fitur teknologi, mintalah mereka mengajari Anda. Ini membalik posisi dan memberi mereka rasa otoritas yang sehat.


Menuju Kepercayaan Diri yang Autentik

Membangun kepercayaan diri anak adalah investasi jangka panjang yang membutuhkan kesabaran untuk melihat mereka berjuang. Tugas kita bukan untuk menyingkirkan semua kerikil dari jalan mereka, tetapi untuk membekali mereka dengan sepatu yang kuat (kompetensi) agar mereka bisa berjalan di medan apa pun.

Saat anak tahu bahwa mereka mampu, mereka tidak lagi membutuhkan dunia untuk terus-menerus bertepuk tangan bagi mereka. Mereka sudah memiliki kepuasan itu di dalam diri mereka sendiri.

Dr. Aliza Pressman adalah seorang psikolog perkembangan terkemuka, penulis bestseller New York Times, dan pembawa acara podcast yang berfokus pada pengasuhan anak.

Sumber: #1 Parenting Psychologist: What Is Over-Parenting & Are You Doing It?/Youtube/Jay Shetty

(BP/CA)

Leave a Comment