Type to search

PARENTING AND GROWTH VALUABLE ARTICLES

Bukan Sekadar Hobi, Menggambar Menjadi Cara Mudah Melatih Kemampuan “Learning to Learn” Anak

Share

Banyak dari kita yang menganggap aktivitas menggambar pada anak hanyalah sekadar sarana hiburan, mengisi waktu luang, atau cara agar anak bisa “duduk tenang.” Namun, dari kacamata sains kognitif (cognitive science), menggambar sebenarnya merupakan proses mental yang sangat kompleks. Lewat coretan-coretan di atas kertas, anak sebenarnya sedang belajar mengasah kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah.

Hal ini sejalan dengan penjelasan menarik dari Prof. Stella Christie, Ph.D. (Pakar Sains Kognitif) dalam wawancaranya di kanal YouTube TirtoID yang bertajuk “Membangun Kecerdasan Anak Tanpa Banyak Biaya Bersama Prof Stella”. Prof. Stella menekankan bahwa esensi utama pendidikan anak bukanlah sekadar menjejalkan konten atau hafalan, melainkan membentuk kemampuan “learning to learn” (belajar bagaimana cara belajar) dan problem solving skill (keterampilan memecahkan masalah).

Bagaimana aktivitas menggambar bisa menjadi stimulus yang mudah dilakukan dan efektif untuk membangun struktur berpikir anak?:

1. Mengaktifkan Core Knowledge (Pengetahuan Inti) Sejak Dini

Prof. Stella menjelaskan bahwa manusia tidak lahir dengan otak yang kosong (tabula rasa). Sejak bayi, kita sudah dibekali oleh apa yang disebut sebagai core knowledge atau pengetahuan inti. Dua di antaranya adalah pengetahuan ruang (fisika dasar) dan pengetahuan angka (matematika dasar). Apa hubungannya dengan menggambar?

Saat anak menggambar, mereka sedang mengaktifkan dan menguji pengetahuan inti ini secara visual:

  • Logika Ruang: Ketika anak menggambar rumah, pohon, dan matahari, mereka harus berpikir secara spasial. “Mengapa matahari di atas?” atau “Bagaimana agar rumah tidak menabrak pohon?”. Ini adalah latihan fisik-spasial yang nyata di atas kertas.
  • Estimasi & Ukuran: Menggambar memaksa anak melakukan perhitungan matematika dasar tanpa mereka sadari. Mereka harus mengestimasi ukuran kertas, membagi proporsi tubuh karakter, atau menghitung jumlah roda pada gambar mobil mereka.

2. Melatih Kemampuan Menstrukturkan Pikiran secara Mandiri

Salah satu masukan Prof. Stella bagi orang tua adalah menghindari memberikan les atau pembelajaran yang terlalu terstruktur pada anak usia dini. Mengapa? Karena porsi yang terlalu terstruktur membuat anak bersikap pasif, selalu menunggu perintah, dan kehilangan kemampuan untuk mendesain jalannya sendiri.

Menggambar adalah kebalikannya—ini adalah aktivitas bebas yang menuntut anak menjadi “arsitek” bagi pikirannya sendiri:

  • Anak harus memutuskan sendiri dari mana mereka akan memulai coretannya.
  • Mereka belajar menstrukturkan sebuah cerita visual dari selembar kertas yang tadinya kosong melompong.
  • Proses ini melatih kemandirian berpikir yang menjadi fondasi penting bagi pemikiran inovatif di masa depan.

3. Jembatan Melatih Relational Thinking (Berpikir Relasional)

Dalam risetnya, Prof. Stella menemukan bahwa salah satu keunggulan luar biasa manusia (yang bahkan sulit ditiru oleh hewan maupun Artificial Intelligence) adalah kemampuan berpikir relasional—yahu kemampuan melihat struktur, pola, dan hubungan antara satu hal dengan hal lainnya.

Aktivitas menggambar melatih anak menghubungkan konsep abstrak di kepala mereka dengan dunia nyata. Misalnya, saat anak menggambar seekor burung, mereka harus mengaitkannya dengan pola gerakan (“burung punya sayap untuk terbang, jadi sayapnya harus lebar”). Proses membandingkan visualisasi ini memperkuat sinapsis otak anak dalam menangani informasi yang rumit.

4. Menggambar sebagai Sarana “Problem Solving” dan Eksperimen

Saat memegang krayon atau pensil warna, anak sebenarnya sedang melakukan eksperimen sains skala kecil.

  • Menghadapi Masalah: “Aduh, tangan karakternya terlalu panjang,” atau “Krayon birunya patah.” Di sinilah anak dituntut melakukan problem solving. Apakah gambar tangannya akan diubah menjadi sayap? Apakah warna langitnya diganti jadi jingga?
  • Kurva Tantangan yang Optimal: Prof. Stella menyebutkan tentang pentingnya memberikan tantangan yang optimal pada anak—tidak terlalu gampang (bikin bosan) dan tidak terlalu susah (bikin stres). Menggambar memberikan level tantangan yang pas karena batasannya ditentukan sendiri oleh kemampuan anak saat itu, namun selalu ada ruang untuk berkembang.

Membuat anak cerdas ternyata tidak selalu membutuhkan biaya mahal atau fasilitas mewah. Alih-alih buru-buru memasukkan anak ke berbagai les akademis yang kaku, berikan mereka selembar kertas kosong dan sekotak pensil warna.

Biarkan mereka menggambar, lalu ajak mereka mengobrol tentang apa yang mereka gambar. Kombinasi antara kebebasan berekspresi lewat gambar dan stimulasi percakapan harian adalah kunci murah meriah untuk melatih otak anak berpikir dengan kritis, mandiri, dan terstruktur.

(BP/CA)

Tags:

Leave a Comment