Ibu Menjaga, Ayah Mendorong: Peran Ayah dan Ibu Dalam Pola Asuh Anak Menurut Jordan Peterson
Share

Menjadi orang tua adalah salah satu tantangan terbesar sekaligus petualangan paling berharga yang akan dihadapi seseorang sepanjang hidupnya. Tidak ada hal lain yang menawarkan puncak kebahagiaan setinggi atau lembah tantangan sedalam dunia parenting.
Dalam salah satu diskusi mendalamnya, psikolog klinis ternama Dr. Jordan B. Peterson membedah dinamika penting mengenai peran ibu dan ayah dalam parenting, serta bagaimana pengorbanan sukarela ini membebaskan manusia dari kehampaan hidup yang egosentris.
Dinamika Peran: Ibu Menjamin Keamanan, Ayah Mendorong Keberanian
Secara psikologis, terdapat perbedaan mendasar yang indah dalam cara ibu dan ayah memandang serta berinteraksi dengan anak mereka:
- Peran Ibu (Menjaga Sisi Emosional Saat Ini): Ibu cenderung berada di sisi “siapa anak itu saat ini”. Ibu berfungsi sebagai zone of security—pulau stabilitas, kenyamanan, dan prediktabilitas tempat anak berlindung ketika menghadapi rintangan di dunia luar.
- Peran Ayah (Mendorong Potensi Masa Depan): Ayah cenderung berada di sisi “akan menjadi siapa anak tersebut di masa depan”. Peran maskulin ini berfokus pada dorongan, tantangan, dan mempersiapkan anak menghadapi petualangan dunia luar dengan berani.
Catatan Penting: Peterson menegaskan bahwa ini bukan berarti peran tersebut kaku. Baik ibu maupun ayah harus bisa memainkan kedua peran ini secara bergantian, namun diferensiasi alamiah ini adalah fondasi yang baik bagi perkembangan psikologis anak.
Pesan untuk Ibu: Dekap Mereka, tetapi Biarkan Mereka Pergi
Bagi para ibu, salah satu tantangan terbesar adalah waktu. Masa-masa anak masih kecil dan membutuhkan perhatian penuh berjalan jauh lebih cepat dari yang dibayangkan. Menghargai setiap momen kecil adalah kunci mengasuh anak tanpa penyesalan di masa depan.
Namun, Peterson memberikan dua peringatan krusial untuk para ibu dalam menjalankan peran ibu dan ayah dalam parenting:
- Jangan Menjadikan Anak “Kaisar Kecil” (Little God Emperor): Jangan menuruti semua kemauan anak hingga mereka merasa menjadi pusat semesta. Hal ini adalah jalur cepat menuju sifat narsisme yang merusak tumbuh kembangnya.
- Aturan Emas Kemandirian: Jangan pernah melakukan sesuatu untuk anak Anda jika mereka sudah bisa melakukannya sendiri. Biarkan mereka belajar memakai sepatu, merapikan mainan, atau menata meja makan. Membantu terlalu cepat demi efisiensi waktu justru merampas kesempatan mereka membangun rasa percaya diri (self-esteem) yang nyata lewat menjadi pribadi yang berguna.
- Tarian Kemandirian: Seiring anak tumbuh, mundurlah secara perlahan mengikuti kesiapan kemandirian mereka. Jika Anda rela “kehilangan” mereka saat mereka berpetualang ke dunia luar, Anda akan mendapatkan mereka kembali dalam bentuk hubungan orang dewasa yang sehat dan setara di masa depan.
Pesan untuk Ayah: Menjadi Sosok Dewasa yang Layak Ditiru
Menjadi seorang ayah bukan sekadar status biologis, melainkan sebuah hubungan dan peran yang harus dibangun secara aktif melalui waktu berkualitas bersama anak.
Esensi dari peran ayah (maskulinitas) mencakup hal-hal berikut:
- Menetapkan Visi dan Berkomitmen: Mengajarkan ketahanan (resilience) dan tetap setia pada tujuan saat menghadapi kegagalan di depan anak.
- Menjadi Gembala yang Melindungi: Sama seperti kisah kuno tentang gembala yang menghalau serigala, ayah bertugas melindungi keluarga dari bencana kehidupan dan menjaga mereka yang paling rentan.
- Modelling (Menjadi Teladan): Anak-anak tidaklah bodoh; mereka sangat memperhatikan dan meniru apa yang orang tua lakukan. Jadilah pria dewasa yang bertanggung jawab, jujur, dan berani mengejar tujuan yang bermakna agar anak Anda memiliki kompas moral yang jelas untuk ditiru.
Memeluk Tanggung Jawab: Keluar dari Kehampaan Egosentris
Banyak orang di era modern takut berkomitmen menjadi orang tua karena merasa kebebasan mereka akan terenggut. Namun, Jordan Peterson membalikkan sudut pandang tersebut dengan tajam: “Kebebasan untuk apa? Kebebasan untuk menjadi egois, kesepian, dan sengsara?”.
Penderitaan manusia sering kali berakar dari fokus yang terlalu sempit pada diri sendiri (egosentris). Obat dari hal tersebut adalah mengadopsi tanggung jawab secara sukarela demi orang lain dan masa depan. Memikul beban mengasuh anak tidak hanya membuat kita produktif, tetapi juga memberikan makna mendalam yang menopang kita melewati masa-masa sulit dalam hidup.
Menariknya, anak-anak membalas pengorbanan itu secara instan. Menemani anak-anak melihat dunia memberikan kegembiraan murni karena mereka melihat segala sesuatu dengan mata yang segar dan penuh keajaiban.
Latihan Refleksi untuk Orang Tua
Di akhir pemaparannya, Dr. Peterson memberikan sebuah tugas refleksi kecil yang bisa Anda lakukan hari ini untuk mengevaluasi pola asuh Anda:
- Tuliskan 3 hal yang dilakukan ayah Anda dengan sangat baik, dan 3 hal yang bisa beliau lakukan dengan lebih baik lagi.
- Lakukan hal yang sama untuk ibu Anda: 3 kelebihan dan 3 kekurangan dalam pola asuh mereka.
- Renungkan bagaimana Anda bisa memanfaatkan hal positif yang Anda warisi dan memperbaiki hal-hal yang kurang optimal tersebut agar tidak terulang pada anak-anak Anda.
Sumber: Jordan Peterson Reveals Crucial Differences Between Mothers & Fathers | Parenting/Youtube/Jordan B Peterson
