Menanamkan Self-Worth: Kunci Melahirkan Anak Bermental Kuat, Percaya Diri, dan Memiliki Purpose Besar
Share
(Carrot Academy) Sebagai orang tua, kita sering kali terjebak dalam upaya membuat anak merasa “hebat” dengan memberikan pujian setinggi langit. Namun, di era media sosial yang penuh tekanan dan standar kecantikan serta kesuksesan yang semu, merasa “hebat” saja tidak cukup. Anak membutuhkan sesuatu yang lebih dalam dan lebih stabil: Self-Worth (keberhargaan diri).
Self-worth adalah keyakinan mendalam bahwa “Saya berharga karena saya adalah saya,” bukan karena prestasi, penampilan, atau validasi orang lain. Ketika seorang anak memiliki self-worth yang kokoh, mereka tidak hanya akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, tetapi juga memiliki “purpose” atau tujuan hidup yang besar karena mereka merasa mampu memberikan dampak bagi dunia.
Memahami Perbedaan Antara Self-Worth dan Self-Esteem

Banyak orang tua menyamakan self-esteem dengan self-worth, padahal keduanya memiliki perbedaan fundamental dalam psikologi.
- Self-Esteem (Harga Diri): Biasanya bersifat eksternal dan fluktuatif. Ini tentang bagaimana kita merasa setelah memenangkan lomba, mendapatkan nilai A, atau dipuji guru. Bahayanya, jika anak hanya memiliki self-esteem yang tinggi tanpa self-worth, mereka akan hancur saat mengalami kegagalan.
- Self-Worth (Keberhargaan Diri): Ini adalah fondasi internal. Ini adalah nilai intrinsik yang tetap ada bahkan ketika anak gagal, ditolak oleh teman, atau melakukan kesalahan.
Menurut Dr. Christina Hibbert, penulis Who Am I Without You?, self-esteem adalah tentang apa yang kita lakukan, sementara self-worth adalah tentang siapa kita. Menanamkan self-worth berarti mengajari anak bahwa nilai mereka tidak bisa dinegosiasikan oleh faktor luar.
Mengapa Self-Worth Menghasilkan Mental Kuat dan “Purpose” Hidup?
Anak yang merasa dirinya berharga secara utuh cenderung memiliki resilience atau ketangguhan mental. Mereka melihat kegagalan sebagai umpan balik, bukan sebagai bukti bahwa mereka tidak berguna.
Selain itu, Purpose (Tujuan Hidup) lahir dari rasa keberhargaan. Ketika anak merasa dirinya berharga, mereka mulai berpikir: “Jika saya berharga, maka keberadaan saya di dunia ini pasti ada tujuannya.” Hal ini memicu mereka untuk mengejar cita-cita yang lebih besar dari sekadar mencari kekayaan, yakni memberikan kontribusi bagi sesama.
Pendapat Para Pakar Parenting Dunia
1. Dr. Shefali Tsabary (Parenting Sadar/Conscious Parenting)
Dr. Shefali menekankan bahwa self-worth anak sering kali merupakan cerminan dari bagaimana orang tua memperlakukan diri mereka sendiri. Jika orang tua selalu mengeluh tentang kekurangan diri, anak akan belajar melakukan hal yang sama. “Anak tidak mendengar apa yang kita katakan, mereka menyerap siapa kita,” ujarnya.
2. Dr. Becky Kennedy (Good Inside)
Dalam teorinya, Dr. Becky menjelaskan bahwa setiap anak pada dasarnya adalah “baik di dalam” (good inside). Tugas orang tua adalah memisahkan perilaku buruk anak dengan identitas mereka. Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua harus mengoreksi perilakunya tanpa merusak rasa keberhargaan diri sang anak.
3. Carol Dweck (Growth Mindset)
Profesor dari Stanford ini menekankan pentingnya memuji proses, bukan hasil. Memuji kecerdasan (“Kamu pintar sekali!”) justru bisa merusak self-worth karena anak akan takut gagal di masa depan. Sebaliknya, memuji usaha (“Ayah bangga melihat cara kamu mencoba berbagai cara untuk menyelesaikan puzzle ini”) membangun keyakinan bahwa mereka berdaya.
Bagaimana Langkah Menanamkan Self-Worth Sejak Dini?
Berikut adalah strategi yang bisa Anda terapkan di rumah:
1. Validasi Emosi, Bukan Hanya Tindakan
Banyak anak merasa tidak berharga karena emosi mereka sering ditepis. “Jangan menangis, begitu saja kok sedih,” adalah kalimat yang membunuh self-worth secara perlahan.
- Solusi: Gunakan teknik Active Listening. Katakan, “Ibu lihat kamu kecewa karena tidak menang lomba tadi. Wajar kok merasa sedih. Ibu di sini untukmu.” Ini menunjukkan bahwa perasaannya valid dan dia berharga meski sedang kalah.
2. Berikan Tanggung Jawab yang Bermakna
Anak merasa berharga saat mereka merasa “dibutuhkan”. Berikan tugas rumah tangga yang sesuai usia bukan sebagai hukuman, tapi sebagai kontribusi.
- Contoh: Membiarkan anak membantu menyiapkan meja makan atau menyiram tanaman. Katakan, “Terima kasih ya, bantuanmu membuat makan malam keluarga jadi lebih nyaman.”
3. Ajarkan “Self-Talk” Positif
Suara orang tua di masa kecil sering kali menjadi suara hati anak saat mereka dewasa. Berhentilah menggunakan label negatif seperti “pemalas”, “nakal”, atau “lambat”.
- Latihan: Ajarkan anak untuk mengatakan, “Saya sedang belajar” daripada “Saya tidak bisa”.
4. Dorong Pengambilan Risiko dan Kegagalan
Anak yang tidak pernah gagal akan memiliki self-worth yang rapuh. Biarkan mereka mencoba hal baru, jatuh, dan bangkit kembali.
- Strategi: Ceritakan kegagalan Anda sendiri di meja makan. Tunjukkan bahwa gagal itu manusiawi dan tidak mengubah kasih sayang Anda kepada mereka.
Menanamkan “Purpose” yang Besar
Untuk memiliki tujuan hidup yang besar, anak perlu merasa bahwa mereka adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
- Ekspos pada Masalah Dunia: Ajak anak berdiskusi tentang lingkungan, kemanusiaan, atau hewan yang butuh pertolongan dengan bahasa sederhana.
- Temukan Minat Unik Mereka: Jangan memaksakan anak menjadi dokter jika mereka mencintai seni. Self-worth tumbuh subur ketika anak merasa didukung untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri, bukan versi yang diinginkan orang tua.
Penghargaan Pada Diri Sendiri Awal Pribadi yang Kuat
Menanamkan self-worth adalah investasi jangka panjang yang paling berharga bagi seorang anak. Ini bukan tentang memanjakan atau melindungi mereka dari kesulitan dunia, melainkan tentang membekali mereka dengan “jangkar” internal yang kuat. Dengan self-worth yang tinggi, anak Anda tidak akan mudah goyah oleh opini orang lain, berani mengambil risiko untuk tujuan yang mulia, dan tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya sukses secara materi, tetapi juga kaya secara mental dan spiritual.
Ingatlah pesan dari psikolog ternama, Nathaniel Branden: “Harga diri adalah reputasi yang kita peroleh dengan diri kita sendiri.” Bantu anak Anda membangun reputasi yang baik terhadap dirinya sendiri sejak hari ini.
(BP/CA)
