Teknik Rahasia Memotivasi Anak: Mengapa Anak Perlu “Mundur Selangkah” Sebelum Menghadapi Tantangan Besar?
Share

Sebagai orang tua, kita sering kali merasa cemas saat melihat anak tiba-tiba mundur atau menolak ketika dihadapkan pada sebuah tantangan. Apakah itu tugas matematika yang sulit, mencoba perosotan tinggi di kolam renang, atau memulai aktivitas baru.
Reaksi spontan kita biasanya adalah mendorong, membujuk, atau bahkan memaksa mereka dengan harapan mereka bisa “melawan rasa takut” dan belajar melakukan hal-hal sulit. Namun, tahukah Anda bahwa dorongan yang terlalu kuat justru bisa mematikan motivasi intrinsik anak?
Menurut Dr. Betsy Blackard, seorang pakar psikologi perkembangan anak, ada sebuah rahasia besar tentang bagaimana anak-anak sebenarnya membangun motivasi mereka untuk mempersiapkan diri melakukan sebuah tindakan yang mereka anggap menantang. Konsep ini ia sebut sebagai “The Running Leap” (Lompatan Sambil Berlari) atau Ancang-ancang sebelum berlari.
Konsep The Running Leap: Mengapa Mundur Itu Perlu?
Dr. Betsy mengajak kita membayangkan seseorang yang ingin melompati sebuah aliran sungai kecil. Jika sungai itu sempit, kita bisa melangkahinya begitu saja. Namun, apa yang terjadi jika sungai itu jauh lebih lebar?
Tentu saja, kita akan berjalan mundur terlebih dahulu. Mengapa? Untuk mengambil ancang-ancang agar memiliki kecepatan dan energi yang cukup saat melakukan lompatan besar (running leap).
Anak-anak pun mendekati tantangan hidup dengan cara yang persis sama. Semakin besar tantangan yang mereka hadapi, semakin jauh mereka perlu mundur ke belakang untuk memastikan lompatan mereka sukses. Sayangnya, orang tua sering kali salah mengira proses “mundur untuk mengambil ancang-ancang” ini sebagai tindakan menyerah, malas, atau takut.
Kisah dari Kolam Renang dan Meja Belajar
Dr. Betsy membagikan dua contoh nyata yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari:
- Kasus Anak di Perosotan Besar:Seorang anak perempuan berusia sekitar 7 tahun membeku ketakutan di atas perosotan air yang tinggi. Akhirnya, ia memilih turun lewat tangga. Alih-alih menyerah, anak ini pergi ke area balita dan bermain di perosotan yang sangat kecil dengan berbagai gaya. Ibunya sempat membujuknya untuk kembali ke perosotan besar karena menganggap perosotan kecil itu “hanya untuk bayi.” Padahal, anak tersebut sedang menguasai tantangan yang lebih kecil terlebih dahulu untuk membangun kembali rasa percaya dirinya. Benar saja, setelah puas bermain di perosotan kecil, ia kembali ke perosotan besar dan meluncur ke kolam dalam sendirian tanpa bantuan.
- Kasus Drama Tugas Matematika:Seorang anak kelas 2 SD merasa sangat tertekan dengan tugas matematikanya hingga berteriak, “Aku mau meledak!” lalu melompat dari kursi dan merangkak ke bawah meja. Alih-alih memaksa anak tersebut duduk diam dan fokus—yang berisiko memicu perebutan kekuasaan (power struggle)—Dr. Betsy mengikuti proses mundurnya anak tersebut. Mereka membuat kesepakatan: setiap kali menyelesaikan satu soal, anak tersebut boleh “meledak” dan merangkak mengitari meja sebelum kembali mengerjakan soal berikutnya. Prosesnya memang lebih lama, tetapi anak tersebut berhasil menyelesaikan seluruh tugasnya tanpa stres.
Apa yang Terjadi Jika Kita Memaksa Anak Melompat?
Ketika kita memaksa anak melakukan lompatan sebelum mereka merasa siap, hal itu sering kali menjadi bumerang. Hasil terbaik yang mungkin didapat hanyalah “kepatuhan yang penuh rasa kesal.”
Namun dampak buruknya, anak bisa merasa dirinya tidak kompeten, bodoh, atau malas. Perasaan-perasaan negatif ini justru menurunkan rasa percaya diri mereka. Akibatnya, “aliran sungai” tantangan di depan mereka akan terlihat jauh lebih lebar, dan di kemudian hari, mereka akan membutuhkan langkah mundur yang jauh lebih banyak lagi.
Bagaimana Orang Tua Bisa Membantu Proses Ini?
Alih-alih menjadi sumber motivasi eksternal yang melelahkan bagi diri sendiri dan anak, orang tua bisa mengambil peran sebagai pengamat yang mendukung. Berikut adalah langkah yang bisa Anda lakukan:
- Ambil Napas Dalam-Dalam dan Amati: Saat anak terlihat menghindari tugas, jangan langsung menghakimi. Cari tahu apakah mereka sedang mengambil langkah mundur untuk membangun kepercayaan diri.
- Validasi Proses Mereka: Gunakan kalimat yang mengakui strategi mereka. Jangan katakan “Tuh kan, makanya jangan takut,” melainkan katakan:
- “Kamu tadi merasa matematika ini susah ya, tapi kamu hebat bisa cari cara main sebentar untuk menyegarkan pikiran sebelum lanjut lagi.”
- “Kamu tahu persis apa yang kamu butuhkan untuk siap mencoba perosotan besar itu.”
- Tumbuhkan Motivasi Intrinsik: Percayalah bahwa anak-anak pada dasarnya ingin berhasil. Mereka tidak bodoh; mereka hanya tidak akan melompat jika tahu mereka akan jatuh di tengah jalan. Tugas kita adalah memastikan “langkah mundur” mereka sekokoh mungkin agar lompatan mereka berakhir dengan kesuksesan yang gemilang.
Sumber: “What kids know about motivation (and we don’t) | Betsy Blackard | TEDx
(BP/CA)
