Dari Meja Istana ke Kanvas Studio: Sisi Lain Tokoh Dunia dan Presiden RI yang Hobi Melukis
Share
Kuas dan Kekuasaan: Ketika Para Pemimpin Dunia Berpaling ke Kanvas
Politik dan seni sering kali dianggap sebagai dua kutub yang berseberangan. Politik dipenuhi dengan kompromi, ketegangan diplomasi, dan perebutan kekuasaan, sementara seni adalah ruang murni untuk ekspresi personal, ketenangan, dan kebebasan emosi. Namun, sejarah mencatat bahwa banyak politisi dan pemimpin dunia yang justru menemukan kedamaian—atau bahkan pelarian—di ujung kuas mereka.
Bagi beberapa pemimpin, seni adalah terapi untuk mengatasi depresi akibat beban jabatan. Bagi yang lain, seni adalah bagian dari identitas mereka jauh sebelum masuk ke panggung kekuasaan. Berikut adalah beberapa politisi dunia yang memiliki hubungan mendalam dengan seni lukis:
1. Winston Churchill: Terapi di Tengah Badai Perang

Mantan Perdana Menteri Inggris, Sir Winston Churchill, baru mulai melukis di usia 40 tahun. Momen itu terjadi pada tahun 1915, setelah ia dicopot dari jabatannya sebagai First Lord of the Admiralty akibat kegagalan fatal dalam Kampanye Gallipoli di Perang Dunia I. Dirundung depresi berat—yang ia sebut sebagai “black dog”—Churchill menemukan pelarian saat melihat adik iparnya melukis dengan cat air.
Sejak saat itu, kuas tidak pernah lepas dari tangannya. Churchill adalah seorang pelukis lanskap bergaya impresionis yang produktif, menghasilkan lebih dari 500 karya sepanjang hidupnya. Ia selalu membawa peralatan melukisnya ke mana pun ia pergi, termasuk saat melakukan perjalanan dinas atau liburan diplomatik. Baginya, melukis adalah cara melatih fokus yang sangat berbeda dengan kepenatan politik.
2. George W. Bush: Menemukan Bakat Baru Pasca-Presidensi

Berbeda dengan Churchill yang melukis di sela-sela karier politiknya, mantan Presiden AS George W. Bush justru baru mulai melukis setelah masa jabatannya berakhir pada tahun 2009. Terinspirasi dari esai Churchill yang berjudul “Painting as a Pastime”, Bush menyewa seorang guru seni dan mulai mendalami seni lukis secara privat.
Bakat rahasianya ini terungkap ke publik pada tahun 2013 setelah akun email adiknya diretas, menyebarkan foto-foto lukisan diri Bush yang sedang mandi. Alih-alih malu, Bush justru merangkul identitas barunya tersebut. Ia kemudian merilis buku kumpulan lukisan seperti Portraits of Courage (2017) yang berisi potret para veteran militer, serta Out of Many, One (2021) yang menampilkan potret para imigran di Amerika Serikat.
3. Edi Rama: Seniman yang Menjadi Perdana Menteri

Jika politisi lain menjadikan seni sebagai hobi, Perdana Menteri Albania, Edi Rama, adalah seorang seniman profesional murni sebelum ia terjun ke dunia politik. Terlahir dari keluarga pemahat, Rama sempat menjadi profesor seni lukis di Academy of Arts di Tirana.
Ketika ia terpilih menjadi Wali Kota Tirana pada tahun 2000, ia menggunakan visinya sebagai seniman untuk mengubah wajah kota yang kelabu peninggalan era komunis menjadi penuh warna, dengan mengecat gedung-gedung publik menggunakan pola-pola abstrak yang cerah. Bahkan setelah menjabat sebagai Perdana Menteri sejak 2013, Rama terkenal sering membuat coretan (doodling) abstrak yang estetis di atas dokumen resmi atau agenda kerjanya saat sedang memimpin rapat-rapat penting.
4. Dwight D. Eisenhower: Sisi Lembut Sang Jenderal

Dwight D. Eisenhower, Jenderal Bintang Lima sekaligus Presiden AS ke-34, mulai melukis di usia akhir 50-an setelah melihat seniman Thomas E. Stephens melukis potret istrinya, Mamie. Eisenhower menemukan bahwa melukis adalah satu-satunya aktivitas yang bisa menjernihkan pikirannya dari ketegangan Perang Dingin.
Meskipun ia menghasilkan sekitar 260 lukisan selama sisa hidupnya—sebagian besar berupa lanskap dan potret patriotik—Eisenhower bersikap sangat rendah hati terhadap kemampuannya. Ia bahkan pernah berseloroh kepada wartawan bahwa lukisannya “memiliki banyak keberanian, tetapi kekurangan bakat.”
5. Susilo Bambang Yudhoyono: Kanvas Kedamaian di Masa Pensiun

Masyarakat Indonesia tentu tidak asing dengan bakat seni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam bidang musik. Namun, pasca-menyelesaikan masa jabatannya sebagai Presiden ke-6 RI dan setelah berpulangnya sang istri tercinta, Ani Yudhoyono, SBY menemukan bentuk ekspresi baru: seni lukis. Ia mulai aktif melukis pada pertengahan 2021 di studio pribadinya di Cikeas.
Bagi SBY, melukis bukan sekadar mengisi waktu luang di masa pensiun, melainkan sebuah terapi jiwa (healing) untuk berdamai dengan rasa kehilangan. Karya-karya SBY didominasi oleh lukisan lanskap alam Indonesia yang megah—mulai dari deburan ombak Pantai Pacitan, matahari terbit di Gunung Merapi, hingga pemandangan Gunung Lawu. SBY dikenal dengan gaya lukisannya yang realis-naturalis dengan sapuan warna yang berani, membuktikan bahwa ruang bagi kreativitas dan ketenangan jiwa tidak pernah mengenal batasan usia.
Jimmy Carter

via Carter Center.
Sebagai presiden AS lainnya yang gemar melukis, Carter secara terbuka memuji pencapaian George W. Bush di depan kanvas, dengan mengatakan bahwa “karyanya sangat menarik.” Carter sendiri mulai melukis setelah meninggalkan Gedung Putih.
Ia juga memiliki hobi membuat kerajinan kayu dan memproduksi anggur, namun lukisan-lukisannyalah yang terjual hingga seharga 250.000 dolar AS. Seluruh keuntungan dari penjualan tersebut disumbangkan untuk mendukung Carter Center, sebuah lembaga yang berupaya mengatasi masalah tunawisma, kelaparan, dan penyakit.
Seni Sebagai Penyeimbang Jiwa
Fenomena ini menunjukkan sisi kemanusiaan yang mendalam dari para tokoh sejarah. Di balik keputusan-keputusan besar yang mengubah arah dunia, ada momen-momen sunyi di mana para pemimpin ini duduk di depan kanvas kosong, mencari ketenangan yang tidak bisa mereka temukan di ruang parlemen maupun medan perang.
(BP/CA)
