Tinggi Badan Anak Melambat? Jangan Tunggu Terlambat: Kenali Growth Hormone Deficiency (GHD) pada Anak
Share

Ketika melihat anak yang memiliki tubuh lebih pendek daripada teman-teman sebayanya, sebagian besar orang tua di Indonesia akan langsung berasumsi bahwa anak tersebut mengalami stunting. Padahal, gangguan tumbuh kembang anak tidak melulu soal masalah gizi atau stunting. Ada kondisi medis lain yang memiliki gejala serupa namun dengan penyebab yang sangat berbeda, salah satunya adalah Growth Hormone Deficiency (GHD) atau Defisiensi Hormon Pertumbuhan.
Mengenali perbedaan ini sangat penting agar anak bisa mendapatkan penanganan yang tepat sejak dini. Yuk, simak penjelasan lengkap mengenai GHD berikut ini!
Apa itu Growth Hormone Deficiency (GHD)?
Growth Hormone Deficiency (GHD), yang juga dikenal dengan istilah pituitary dwarfism, adalah suatu kondisi di mana kelenjar pituitari (kelenjar kecil di bawah otak) tidak memproduksi hormon pertumbuhan (growth hormone) dalam jumlah yang cukup. Akibatnya, proses pertumbuhan fisik anak menjadi terhambat.
GHD sendiri dapat dibagi menjadi beberapa kategori:
- Parsial vs Total: GHD parsial terjadi jika kelenjar pituitari masih memproduksi hormon namun jumlahnya kurang. Sementara GHD total terjadi jika kelenjar tersebut sama sekali tidak memproduksi hormon pertumbuhan.
- Congenital GHD (Bawaan Lahir): Terjadi akibat mutasi genetik atau adanya masalah struktural pada otak bayi sejak dalam kandungan.
- Acquired GHD (Didapat Setelah Lahir): Terjadi karena adanya kerusakan pada kelenjar pituitari setelah anak lahir, misalnya akibat infeksi, cedera kepala, atau tumor.
Perbedaan Utama dengan Stunting: Anak-anak yang menderita GHD memang bertubuh pendek, namun mereka memiliki proporsi tubuh yang normal dan proporsional antara tubuh bagian atas dan bawah. Hal ini berbeda dengan stunting yang umumnya dipicu oleh masalah nutrisi kronis.
Berapa Laju Pertumbuhan Anak yang “Normal”?
Sebagai panduan bagi orang tua, pertumbuhan tinggi badan anak idealnya mengikuti tren grafik berikut sesuai usianya:
- 0–12 bulan: 23–27 cm per tahun
- 1–2 tahun: 10–14 cm per tahun
- 2–5 tahun: 7–8 cm per tahun
- 5 tahun hingga Pubertas: 5–7 cm per tahun
- Masa Pubertas: 8–12 cm per tahun (anak perempuan) dan 10–14 cm per tahun (anak laki-laki)
Jika laju pertumbuhan anak Anda berada jauh di bawah angka-angka tersebut, Anda patut waspada.
Ciri-ciri dan Gejala GHD pada Anak
Selain tubuh yang tampak lebih pendek, ada beberapa gejala klinis lain yang dapat diamati pada anak dengan GHD:
- Pertumbuhan tinggi badan yang sangat lambat, meski proporsi tubuhnya normal.
- Pubertas yang terlambat atau perkembangannya terhambat saat memasuki usia pubertas.
- Pertumbuhan rambut, kuku, dan gigi yang lebih lambat dibanding anak seusianya.
- Kadar gula darah rendah (hipoglikemia) yang sering terjadi pada bayi dan balita.
- Ukuran penis yang sangat kecil (micropenis) pada bayi laki-laki baru lahir.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis GHD?
Mendiagnosis GHD membutuhkan serangkaian pemeriksaan medis yang komprehensif oleh dokter spesialis anak (khususnya ahli endokrinologi). Tahapan diagnosisnya meliputi:
- Pemeriksaan Fisik & Riwayat Medis: Dokter akan mengevaluasi kurva pertumbuhan anak serta mempelajari riwayat tinggi badan dari keluarga.
- Tes Darah Rutin: Untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain yang memiliki gejala mirip.
- Rontgen Tulang (Bone Age Test): Dilakukan pada tangan dan pergelangan tangan untuk melihat apakah perkembangan tulang sesuai dengan usia asli anak dan melihat potensi pertumbuhan tersisa.
- Pemeriksaan Kadar IGF-1 & IGFBP-3: Mengukur protein dalam darah yang produksinya distimulasi oleh hormon pertumbuhan.
- Growth Hormone Stimulation Test: Anak akan diberikan obat khusus untuk merangsang kelenjar pituitari melepaskan hormon pertumbuhan, kemudian sampel darahnya akan diperiksa secara berkala di laboratorium.
- Pemeriksaan MRI: Jika hasil tes darah dan stimulasi mengarah pada GHD, MRI otak dilakukan untuk memeriksa kondisi fisik kelenjar pituitari dan hipotalamus.
Penanganan dan Pentingnya Diagnosis Dini
Jika anak positif didiagnosis menderita GHD, dokter umumnya akan meresepkan terapi berupa injeksi hormon pertumbuhan sintetis. Terapi ini bertujuan untuk menggantikan hormon yang kurang agar anak dapat mengejar ketertinggalan tinggi badannya.
Kunci utama keberhasilan penanganan GHD adalah diagnosis dini. Semakin cepat kondisi ini dideteksi sebelum lempeng pertumbuhan tulang anak menutup (biasanya setelah masa pubertas), semakin besar peluang anak untuk mencapai tinggi badan yang optimal dan normal. Oleh karena itu, jangan ragu untuk memantau status pertumbuhan dan tinggi badan anak secara berkala ke fasilitas kesehatan!
Sumber: https://www.merckgroup.com/id-id/articles/ghd.html
