Type to search

PARENTING AND GROWTH VALUABLE ARTICLES

Balita Mulai Suka Bilang “Enggak Mau”?: Tips dari Pakar Saat Balita Mulai Berkata Tidak

Share
Photo: pexels-cottonbro

Bagi orang tua, mendengar kata “tidak” belasan kali sehari bisa sangat menguras emosi. Namun, dari kacamata psikologi perkembangan, ini sebenarnya adalah tanda bahwa anak Anda tumbuh dengan sehat. Fase ketika balita mulai sering berkata “tidak” biasanya terjadi di usia 2 hingga 3 tahun—periode yang sering disebut secara populer sebagai the terrible twos.


Mengapa Balita Suka Berkata “Tidak”?

Menurut Erik Erikson, seorang psikolog perkembangan terkenal dengan teori perkembangan psikososialnya, balita usia 1 hingga 3 tahun sedang berada dalam fase Autonomy vs. Shame and Doubt (Otonomi vs. Rasa Malu dan Ragu).

Pada fase ini, anak mulai menyadari bahwa mereka adalah individu yang terpisah dari orang tuanya. Mereka menyadari memiliki kehendak, preferensi, dan kendali sendiri atas tubuh serta pilihan mereka. Kata “tidak” bukanlah bentuk pemberontakan atau kenakalan, melainkan alat utama yang mereka gunakan untuk menguji dan menegaskan otonomi tersebut.

Psikolog anak klinis terkemuka, Dr. Becky Kennedy (penulis buku Good Inside), menambahkan sudut pandang modern yang menenangkan: ketika anak berkata tidak, mereka sebenarnya sedang mengekspresikan batasan diri (boundaries). Anak yang merasa cukup aman untuk menolak orang tuanya menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan yang kuat (secure attachment), di mana mereka tahu bahwa mengekspresikan diri tidak akan membuat mereka kehilangan kasih sayang orang tua.


Bagaimana Orang Tua Menghadapi Anak yang Mulai Berkata Tidak?

1. Berikan Pilihan Terbatas (Bukan Pertanyaan Terbuka)

Janet Lansbury, seorang pendidik anak usia dini dan penulis buku No Bad Kids: Toddler Discipline Without Shame, menyarankan orang tua untuk menghindari pertanyaan yang memicu jawaban “ya atau tidak” jika hal tersebut memang bukan pilihan.

  • Salah: “Yuk, pakai sepatunya sekarang, mau?” (Anak otomatis akan menjawab “Tidak!”)
  • Benar: “Kita harus berangkat sekarang. Kamu mau pakai sepatu yang merah atau yang biru?”

Janet Lansbury: Memberikan dua pilihan yang sama-sama bisa Anda terima memberi anak rasa kendali (sense of control) tanpa merusak batasan yang sudah Anda tetapkan.

2. Validasi Perasaannya Terlebih Dahulu

Dr. John Gottman, psikolog dan pencetus metode Emotion-Focused Parenting, menekankan pentingnya menjadi “pelatih emosi” bagi anak. Sebelum mendebat kata “tidak” dari anak, akui dulu apa yang mereka rasakan.

  • Contoh: Ketika anak menolak berhenti bermain, jangan langsung memarahi. Katakan, “Kamu masih asyik main ya, makanya bilang enggak mau berhenti. Ibu tahu berhenti main itu enggak seru. Tapi sekarang sudah jam mandi.”

Ketika anak merasa didengar, resistensi atau penolakan di dalam otak mereka akan menurun, membuat mereka lebih kooperatif.

3. Gunakan Metode “Koneksi Sebelum Koreksi”

Dr. Daniel J. Siegel dan Tina Payne Bryson, penulis buku terlaris No-Drama Discipline, menjelaskan bahwa saat balita berkeras berkata tidak, otak emosional mereka sedang aktif. Membentak atau memaksa hanya akan memicu respons fight-or-flight.

  • Dekati anak secara fisik, sejajarkan mata Anda dengan mereka, berikan sentuhan lembut, baru sampaikan maksud Anda. Ketika anak merasa terhubung (connected) secara emosional dengan orang tua, mereka jauh lebih mudah untuk diarahkan (directed).

4. Ubah Cara Anda Menyampaikan Perintah

Adele Faber dan Elaine Mazlish, pakar komunikasi anak dan penulis buku legendaris How to Talk So Kids Will Listen & Listen So Kids Will Talk, menyarankan untuk mengganti kalimat perintah langsung dengan informasi atau keterlibatan mainan.

  • Dibanding berteriak, “Ayo pakai bajunya, jangan bilang enggak terus!”, Anda bisa mengubahnya menjadi permainan: “Wah, kaus gambar dinosaurus ini nanya, siapa ya yang mau pakai aku sekarang?” atau sekadar memberi informasi singkat: “Dek, lima menit lagi kita berangkat ya.”

Menghadapi balita yang gemar berkata tidak memang membutuhkan stok kesabaran ekstra. Namun, mengingat bahwa ini adalah batu loncatan penting bagi perkembangan mental dan kemandirian mereka akan membantu Anda meresponsnya dengan kepala dingin. Anda tidak sedang membesarkan anak yang pembangkang, Anda sedang membesarkan anak yang kelak berani bersikap tegas di masa depannya.

(BP/CA)

Tags:

Leave a Comment