Type to search

NEWS VALUABLE ARTICLES

Nenek Moyang Kita Pelaut atau Seniman? Penemuan Lukisan Gua Baru di Indonesia

Share


Nenek moyangku seorang pelaut atau seorang seniman?

Lukisan gua tertua di Indonesia yang terbaru, berusia setidaknya 67.800 tahun (stensil tangan di Pulau Muna, Sulawesi), dipublikasikan pada awal 2026. Temuan ini melampaui rekor sebelumnya (51.200 tahun) di Leang Karampuang, Maros, yang dipublikasikan pada 4 Juli 2024 di jurnal Nature. Penelitian dilakukan tim gabungan BRIN dan Griffith University

Selama bertahun-tahun, narasi besar tentang nenek moyang Indonesia selalu berputar pada satu identitas: pelaut ulung. Dari teori migrasi Austronesia hingga kejayaan maritim Nusantara, laut seolah menjadi pusat segalanya. Namun, penemuan terbaru pada 2026 kembali mengguncang cara pandang tersebut. Lukisan gua tertua yang ditemukan di wilayah Sulawesi Selatan bukan hanya soal usia—tetapi tentang siapa kita sebenarnya sebagai manusia.

Lukisan ini menjadi salah satu seni naratif tertua dalam sejarah manusia!

Tim penelitian kerja sama antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University dan Southern Cross University berhasil membuat suatu penemuan penting terkait lukisan gua di wilayah Sulawesi, Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian berjudul, “Narrative cave art in Indonesia by 51,200 years ago” yang dipublikasikan dalam jurnal nature tersebut, diyakini seni cadas (rock art) yang menggambarkan tiga figur menyerupai manusia sedang berinteraksi dengan seekor babi hutan, adalah lukisan gua tertua yang pernah ditemukan hingga saat ini.

Peneliti Ahli Muda dari Pusat Riset Arkeometri, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adhi Agus Oktaviana

Ahli seni cadas Indonesia dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adhi Agus Oktaviana yang menjadi ketua tim dalam penelitian bersama tersebut, menyatakan, bahwa penemuan lukisan di goa kapur, di Leang Karampuang, Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan adalah seni cadas pertama di Indonesia yang umurnya melampaui 50.000 tahun. Penemuan oleh Oktaviana dan tim Griffith University ini mengindikasikan bahwa lukisan gua yang bersifat naratif merupakan bagian penting dalam budaya seni manusia awal Indonesia pada masa itu.


Penemuan yang Menggemparkan Dunia Arkeologi

Penemuan ini melibatkan kolaborasi peneliti internasional dan tim Indonesia dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Salah satu tokoh penting dari Indonesia dalam penelitian ini adalah arkeolog Adi Agus Oktaviana, yang selama ini dikenal aktif meneliti seni cadas di Sulawesi. Bersama timnya, ia mengidentifikasi lukisan gua di kawasan karst yang juga mencakup situs terkenal seperti Leang Tedongnge.

Lukisan tersebut diperkirakan berusia lebih dari 50.000 tahun, menjadikannya salah satu karya seni figuratif tertua di dunia. Gambar yang ditemukan menampilkan bentuk hewan dan simbol-simbol abstrak dengan teknik pewarnaan yang kompleks.

Menyaingi Situs Dunia

Temuan ini langsung menarik perhatian global karena posisinya yang setara—bahkan berpotensi lebih tua—dibandingkan situs seni gua terkenal dunia seperti Gua Chauvet dan Gua Lascaux.

Lukisan ini menegaskan bahwa Indonesia bukan sekadar jalur migrasi manusia purba, tetapi juga pusat perkembangan awal kreativitas manusia.


Lebih dari Sekadar Gambar: Jejak Imajinasi

Menurut para peneliti, termasuk Adam Brumm, lukisan ini adalah bukti kemampuan berpikir simbolik manusia purba. Ini adalah fondasi dari bahasa, budaya, hingga peradaban. Dengan kata lain, nenek moyang kita tidak hanya bertahan hidup—mereka juga menciptakan makna.

Gambar hias gua tertua di dunia sekaligus narasi seni paling awal yang pernah ditemukan dan diteliti hingga saat ini/https://pslh.ugm.ac.id/

Selama ini, kita mengenal nenek moyang Indonesia sebagai pelaut ulung. Mereka menjelajah dari Asia Timur ke seluruh Nusantara hingga Samudra Pasifik dengan teknologi sederhana.Narasi ini membentuk identitas kita sebagai bangsa maritim—kuat, tangguh, dan adaptif. Namun, apakah itu cukup untuk menggambarkan siapa mereka sebenarnya?


Perspektif Baru: Seniman Sebelum Penjelajah?

Penemuan yang dipimpin oleh Adi Agus Oktaviana ini membuka kemungkinan lain: bahwa dorongan untuk mencipta seni sudah ada jauh sebelum eksplorasi besar-besaran terjadi. Lukisan gua menunjukkan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk mengekspresikan diri, memahami dunia, dan mungkin bahkan berkomunikasi secara simbolik. Ini adalah sisi manusia yang sering terlupakan dalam narasi “penakluk lautan.”


Mengapa Ini Penting Hari Ini?

Penemuan ini memberi dampak besar, tidak hanya bagi dunia akademik tetapi juga bagi masyarakat luas:

  • Identitas yang Lebih Utuh
    Kita bukan hanya bangsa pelaut, tetapi juga bangsa kreator sejak ribuan tahun lalu.
  • Peran Ilmuwan Indonesia
    Keterlibatan peneliti seperti Adi Agus Oktaviana menunjukkan bahwa ilmuwan lokal memiliki peran penting dalam mengungkap sejarah dunia.
  • Inspirasi Kreativitas Modern
    Bagi generasi sekarang, ini adalah bukti bahwa kreativitas bukan tren—melainkan warisan.

Antara Laut dan Dinding Gua

Pertanyaan “pelaut atau seniman?” mungkin akan menjadi semangat baru buat kita. Nenek moyang kita adalah keduanya. Mereka mampu membaca bintang di langit sekaligus menuangkan imajinasi di dinding batu. Mereka menjelajah dunia luar, sekaligus menjelajah dunia batin. Dan mungkin, justru kombinasi itulah yang membuat mereka menjadi manusia seutuhnya. Kita patut bangga karena nenek moyang kita memiliki sejarah kreativitas yang tinggi!


Penutup: Mengingat Siapa Kita

Penemuan ini bukan hanya soal masa lalu, tetapi juga tentang masa depan. Tentang bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Di tengah dunia yang semakin modern, kita sering lupa bahwa akar kita bukan hanya pada keberanian menjelajah, tetapi juga pada keberanian mencipta. Dan berkat temuan yang dipelopori oleh Adi Agus Oktaviana, kita diingatkan kembali:

Bahwa jauh sebelum kita dikenal sebagai pelaut, kita harus bangga karena nenek moyang kita mungkin sudah menjadi seniman!

(BP/CA)

Tags:

Leave a Comment