7 Pelukis Perempuan: Para Perempuan Hebat yang Memperkaya Sejarah Seni Indonesia
Share
Dalam sejarah seni lukis Indonesia, nama-nama pelukis perempuan tidak sebanyak dan sebesar nama-nama pelukis pria seperti Affandi atau Raden Saleh. Beberapa nama tercatat berkiprah dan berjuang untuk memperkaya dunia seni lukis perempuan di Indonesia. Inilah 7 di antara pelukis perempuan yang ikut mewarnai sejarah seni lukis Indonesia.
1. Emiria Sunassa
Boki Emiria Soenassa (Tanawangko, 1895 – 7 April 1964) Dianggap sebagai “Ibu Seni Rupa Indonesia,” Emiria adalah pionir pelukis wanita di era kemerdekaan. Karyanya sering mengeksplorasi identitas Nusantara dan kehidupan masyarakat adat. Namanya telah tercatat dalam sejarah seni rupa dunia sebagai sosok pemberani yang menentang pakem kolonial. Disebut sebagai pelukis gerakan feminis awal di Indonesia.
Dalam berbagai lukisan-lukisannya, Emiria menjadikan perempuan sebagai subyek bukan obyek layaknya pelukis kebanyakan. Ia salah seorang pelopor senirupa Indonesia modern. S Sudjojono yang dikenal Bapak Seni Modern Indonesia menyebut Emir ia Sunassa sebagai pelukis yang jenius.

2. Kustiyah (1935–2012)
Wanita kelahiran Probolinggo, 2 September 1935, itu lulus dari Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta pada 1956. Ia kemudian menikah dengan Edhi Sunarso, pematung kesayangan Presiden Sukarno, yang karya-karyanya menghiasi kota Jakarta.
Menurut Dhiyah Istina dalam “Penjenamaan Griya Seni Hj. Kustiyah Edhi Sunarso”, tesis di Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 2023, Kustiyah ikut serta dalam sejumlah pameran sejak tahun 1950-an. “Terdapat arsip yang menunjukkan bahwa Kustiyah menjadi salah satu pelopor pameran yang diduga sebagai pameran perempuan pertama yang diselenggarakan di Indonesia pada 1956 di Yogyakarta,” tulis Dhiyah.



3. Kartika Affandi
Kartika Affandi, yang dikenal luas sebagai Kartika, lahir dalam keluarga seniman ‘bintang’ modernis pertama di Indonesia. Ia muncul pada tahun 1960-an sebagai pelukis wanita terkemuka, yang berkarya dalam gaya figuratif-ekspresionistik.
Ia termasuk di antara seniman Indonesia pertama yang tumbuh besar dengan dikelilingi oleh material, aroma, tekstur, eksperimen, percakapan, dan perjalanan internasional seni modern. Ayahnya, Affandi (1907–1990), adalah guru pertamanya dan yang paling berpengaruh. Seperti ayahnya, pelatihan formalnya tersebar di banyak tempat: sekolah seni Kala Bhavana milik Tagore di Shantiniketan, India (1950); program sekolah musim panas di London (1952); dan, lima belas tahun kemudian, di tempat yang kemudian menjadi Frans Masereel Centrum, di Kasterlee, Belgia. Di atas segalanya, Kartika belajar melalui praktik. Seperti ayahnya, ia akhirnya meninggalkan kuas, untuk mengaplikasikan cat langsung dari tabung dengan jari-jarinya, menggunakan tangannya sebagai palet.

4. Siti Ruliyati
Sejak usia dini, Siti Ruliyati ingin menjadi seorang seniman. Menentang keinginan orang tuanya, S. Ruliyati mendaftarkan diri di ASRI Yogyakarta yang baru didirikan pada tahun 1950, di mana ia menjadi salah satu mahasiswi perintis ASRI. Sekolah tersebut memperkenalkannya pada praktik menggambar di luar ruangan atau en plein air, yang menjadi dasar pembuatan karya seninya sepanjang hayat. Dari tahun 1950-an hingga 1970-an, subjek karyanya berkisar pada kehidupan sehari-hari dan pemandangan di kota tua Yogyakarta; hiruk pikuk pasar tradisional, perempuan yang bekerja di sawah, dan sekilas kehidupan di sebuah desa kecil. Sketsa-sketsa awalnya tentang subjek-subjek ini ditampilkan dalam majalah budaya lokal yang diterbitkan setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1945), seperti Zenith, Budaja, dan Indonesia.
Setelah lulus dari ASRI pada tahun 1957, ia mengajar menggambar di sebuah sekolah pelatihan guru di Yogyakarta. Salah satu dari sedikit lukisan karyanya yang masih ada dari periode ini, berjudul Kampung [Desa, 1957], tersimpan dalam koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta.

5.Sriyani Hudyonoto
Sriyani Hudyonoto (6 Mei 1930 – 6 Desember 2006) adalah seorang pelukis perempuan terkemuka asal Indonesia yang lahir di Yogyakarta. Sebagai salah satu pelukis angkatan pertama dari sekolah seni ITB (Bandung) pada tahun 1950-an, ia dikenal melalui berbagai karya seni, termasuk lukisan “Kambing” (1973) yang dikoleksi oleh Galeri Nasional Indonesia.

6. Umi Dachlan
Umi Dachlan (Umajah Dachlan, 13 Agustus 1942 – 1 Januari 2009) adalah seorang pelukis perempuan terkemuka Indonesia. Ia merupakan lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung dan juga menjadi menjadi wanita pertama yang menjadi dosen di almamaternya. Karyanya dikenal dengan mencampurkan Ekspresionisme Abstrak dengan pendekatan lirisisme.

7. Lucia Hartini
Lucia Hartini (10 Januari 1959 – 27 Agustus 2025) adalah maestro pelukis surealisme terkemuka Indonesia asal Temanggung, Jawa Tengah, yang berbasis di Yogyakarta. Dikenal sebagai “Arus Baru” Yogyakarta, karyanya berciri kosmos, spiritualitas, dan detail halus. Ia adalah seniman perempuan legendaris yang karya surealis-wayangnya berpengaruh besar pada era 2000-an.

Di masa modern peran pelukis perempuan Indonesia mulai mengambil peran yang sama di dunia seni. Banyak nama-nama pelukis era masa kini yang namanya mulai mendunia seperti Christine Ay Tjoe: Seniman kontemporer yang dikenal secara internasional dengan lukisan abstrak dan media campuran atau artist yang cukup berperan di dunia industri kreatif seperti Diela Maharani. Mereka menjadi nama-nama yang memperkaya dunia seni Indonesia, semoga karya mereka makin menginspirasi generasi muda untuk berkarya dan mewarnai dunia seni.
(BP/CA)
