Merayakan Inspirasi Kartini: Manifesto Pendidikan dan Mimpi yang Tak Pernah Padam
Share
Tak bisa dipungkiri pemikiran Raden Ajeng Kartini yang terangkum dalam bukunya menunjukkan pemikirannya yang melampaui jamannya. Bahkan hingga hari ini pemikirannya masih terdengar sangat relevan dan masih cukup keras untuk mendobrak nila-nilai jaman. Raden Ajeng Kartini bukan sekadar nama jalan atau sosok berbaju kebaya dalam buku sejarah. Ia adalah simbol ledakan intelektual di tengah kekangan tradisi. Sebagai pionir emansipasi wanita di Indonesia, kisahnya tetap relevan bagi siapa saja yang merasa suaranya sedang dibungkam.
Kartini menjadi simbol emansipasi karena pemikirannya yang seakan tak bisa dibatasi oleh pingitan yang ia jalani semasa hidupnya. Pemikiran Kartini adalah buah dari perenungan yang sangat jujur, tulus dan visioner yang digerakkan oleh kepeduliannya pada berbagai keresahannya sebagai seorang perempuan.

Gagasan RA Kartini Tentang Perempuan dan Hidup Lewat Tulisan-Tulisannya.
Pada usia 14 tahun, Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat (RA Kartini) telah melahirkan sejumlah tulisan, seperti “Upacara Perkawinan pada Suku Koja” yang terbit di Holandsche Lelie. Ia telah belajar menulis dan mengirimkan surat berbahasa Belanda kepada teman-teman korespondensi dari negeri Kincir Angin tersebut. Salah satu sahabatnya adalah Rosa Abendanon. Sejak tahun 1899 hingga 1904, Kartini mengirimkan puluhan surat kepada Abendanon. Surat-surat tersebut menguraikan pemikirannya terkait berbagai masalah. Termasuk tradisi feodal yang menindas, pernikahan paksa dan poligami bagi perempuan Jawa kelas atas, dan pentingnya pendidikan bagi anak perempuan. Dalam surat-suratnya, perempuan kelahiran 21 April 1879 itu juga menuliskan keluhan dan gugatannya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Di sisi lain, surat-surat tersebut juga mencerminkan pengalaman hidup Kartini sebagai putri seorang bupati Jawa.
Setelah Kartini meninggal, Abendanon menerbitkan surat-surat Kartini dalam bentuk sebuah buku dengan judul Bahasa Belanda, Door Duistrnis tot Licht. Di Indonesia, Door Duistrnis tot Licht diterjemahkan Armijn Pane dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang dan diterbitkan Balai Pustaka sejak 1938 hingga 1978. Terbitan ini tidak memuat seluruh surat-surat Kartini secara lengkap dengan maksud supaya buku tersebut tidak terlalu mahal untuk dibeli masyarakat luas. Tujuannya agar ide atau cita-cita Kartini dapat menyebar di kalangan banyak orang.
Pengaruh Kartini Pada Tokoh-Tokoh Nasional
Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja, Pram melihat Kartini sebagai pemikir modern pertama di Indonesia yang mampu membedah persoalan bangsanya secara intelektual.
W.R. Supratman terinspirasi oleh semangatnya, ia menciptakan lagu “Ibu Kita Kartini” yang kini menjadi lagu nasional wajib untuk menghormati jasanya.
Sukarno presiden pertama RI menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Nasional pada 1964 dan menyatakan bahwa perjuangan nasional tidak akan lengkap tanpa partisipasi aktif kaum perempuan.
Saskia Wieringa sosiolog asal Belanda ini memandang Kartini bukan hanya simbol emansipasi, tapi juga simbol perlawanan terhadap kolonialisme melalui kritik budayanya.
Kutipan-Kutipan Raden Ajeng Kartini yang Menjadi Penerang dan Kekuatan Perempuan Indonesia
“Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam.”
“Tahukah engkau semboyanku? ‘Aku mau!’ Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata ‘Aku tiada dapat!’ melenyapkan rasa berani. Kalimat ‘Aku mau!’ membuat kita mudah mendaki puncak gunung.”
“Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.”
“Bukanlah laki-laki yang hendak kami lawan, melainkan pendapat kolot dan adat uang.”
“Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya.”
“Ibu adalah pusat kehidupan rumah tangga. Kepada mereka dibebankan tugas besar mendidik anak-anaknya, pendidikan akan membentuk budi pekertinya.”
“Seorang perempuan yang mengorbankan diri untuk orang lain, dengan segala rasa cinta yang ada dalam hatinya, dengan segala bakti yang dapat diamalkannya, itulah perempuan yang patut disebut sebagai “ibu” dalam arti sebenarnya.”
“Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang.”
“Terkadang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu.”
“Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.”
“Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal soleh, orang yang bergelar Graaf atau Baron? Tidak dapat mengerti oleh pikiranku yang picik ini.”
“Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya turut membantu mengadakan jalan menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri.”
“Saat suatu hubungan berakhir, bukan berarti orang berhenti saling mencintai. Mereka hanya berhenti saling menyakiti.”
“Saat membicarakan orang lain, Anda boleh saja menambahkan bumbu, tapi pastikan bumbu yang baik.”
“Tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan, selain menimbulkan senyum di wajah orang lain, terutama wajah yang kita cintai.”
“Agama memang menjauhkan kita dari dosa, tapi berapa banyak dosa yang kita lakukan atas nama agama.”
“Sampai kapanpun, kemajuan perempuan itu ternyata menjadi faktor penting dalam peradaban bangsa.”
“Jangan kau katakan saya tidak dapat, tetapi katakan saya mau.”
“Lebih banyak kita maklum, lebih kurang rasa dendam dalam hati kita. Semakin adil pertimbangan kita dan semakin kokoh dasar rasa kasih sayang. Tiada mendendam, itulah bahagia.”
“Adakah yang lebih hina, daripada bergantung kepada orang lain?”
“Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.”
RA Kartini membuktikan bahwa ideologi tidak bisa dipingit. Meski raganya terkurung, pikirannya melanglang buana menembus batas. Merayakan Kartini hari ini bukan sekadar memakai kebaya, melainkan melanjutkan semangatnya untuk terus belajar, berpikir kritis, dan memberikan akses setara bagi setiap manusia untuk berkembang.
Selamat Merayakan Semangat Kartini!
Sumber: https://elle.co.id/culture/21-kutipan-kartini-buku-habis-gelap-terbitlah-terang
(BP/CA)
