Type to search

ART FIGURES ENTERTAINMENT VALUABLE ARTICLES

Buntut Tragedi 1965: Kisah 33 Lukisan Maestro Indonesia yang Terdampar dan Dirawat di Rusia

Share

Saksi Bisu Sejarah: 33 Lukisan Maestro Indonesia yang Terdampar dan Dirawat di Rusia

Politik sering kali menjadi roda penggilas yang mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali dunia seni rupa. Sejarah mencatat bahwa karya-karya seni bernilai tinggi milik para maestro Indonesia pernah terpaksa “diselamatkan” akibat gelombang gejolak politik, hingga akhirnya terdampar dan menetap di Museum State Museum of Oriental Art, Moskow, Rusia.

A. Rustamadji. Genre scene, 1960-s

Titik Balik Bermula: Pameran Budaya yang Berubah Arah

Kisah ini bermula pada medio 1960-an, ketika pemerintah Indonesia aktif mengenalkan kebudayaan Nusantara ke kancah internasional. Pada tahun 1962, sebuah pameran seni besar diselenggarakan di Kolombo, Sri Lanka.

Saat itu, Harmain Rusdi selaku Duta Besar RI untuk Sri Lanka mengemban tanggung jawab penuh untuk menjaga mahakarya serta “harta warisan” seni yang tak ternilai harganya tersebut. Namun, badai sejarah besar yang meletus lewat peristiwa kelam tahun 1965 mengubah segalanya secara drastis. Situasi politik dalam negeri yang tidak stabil membuat Harmain Rusdi terpaksa meninggalkan posnya, hijrah ke Uni Soviet, dan akhirnya menetap di Eropa.

Menyelamatkan Pusaka Seni di Negeri Orang

Sebelum meninggalkan posnya, Harmain Rusdi dihadapkan pada dilema besar demi menyelamatkan karya-karya seni tersebut dari kehancuran atau penyitaan akibat pergolakan politik. Lukisan-lukisan berharga itu kemudian dihadiahkan kepada rekan-rekan Rusianya agar tetap aman.

Sebagian besar dari koleksi berharga tersebut kemudian dihibahkan secara resmi ke museum oleh Prof. Vilen Sikorskiy (seorang pengamat/ahli Indonesia asal Rusia) bersama Natalia Chevtaikina.

Sebelum akhirnya mendapatkan rumah permanen di museum, banyak dari lukisan tersebut sempat berada dalam kondisi yang memprihatinkan akibat penyimpanan yang kurang optimal selama lebih dari 50 tahun. Pihak museum di Rusia kemudian mendedikasikan waktu hingga 5 tahun untuk melakukan restorasi intensif oleh dua ahli restorasi museum, I. Solovyev dan I. F. Kuznetsov. Mereka melakukan serangkaian tindakan teliti, mulai dari:

  • Perbaikan cat yang mengelupas
  • Penguatan struktur kanvas dan duplikasi dengan dasar baru
  • Penataan kembali pada bingkai kayu
  • Rekonstruksi fragmen-fragmen lukisan yang sempat hilang

Berkat kerja telaten tersebut, sebanyak kurang lebih 33 koleksi lukisan langka karya maestro Indonesia kini dapat disaksikan dengan baik dan menjadi koleksi tetap di Moskow. Bahkan, pada tahun 2016, karya-karya ini sempat diangkat ke permukaan dalam pameran khusus bertajuk “Kehidupan Baru. Kesenian Indonesia” bertepatan dengan momentum Tahun Kebudayaan Rusia-ASEAN.

Resobowo. Keluarga, 1960. Press photo

Jejak Estetika Realisme Sosialis

Koleksi yang tertahan di Rusia ini merepresentasikan periode penting dalam sejarah artistik Indonesia, menandai babak baru perkembangan seni rupa tanah air. Para seniman yang karyanya terpajang di sana merupakan nama-nama besar yang turut membidani dunia seni rupa Indonesia, di antaranya:

  • A. Rustamaji (1932–1990) – melalui karya spesifik seperti “Perempuan dengan Keranjang” dan “Pembangunan di Berlin” (1961)
  • Basuki Resobowo (1916–1990)
  • Joko Pekik (lahir 1938)
  • Idji Tarmizi (1939–2001)
A. Rustamaji (1932–1990) “Perempuan dengan Keranjang”

Perlu dicatat bahwa pada tahun 1947, Harmain Rusdi bersama pelopor seni seperti Affandi, Sudarso, Kusnadi, Trubus, Sutioso, dan seniman lainnya pernah mendirikan sanggar “Pelukis Rakyat”. Dari rahim sanggar inilah lahir tokoh-tokoh besar seperti Fajar Sidik dan G. Sidharta.

Karya-karya dari kelompok seniman ini sangat kental dengan corak realisme sosialis, dengan tema utama yang mengangkat denyut kehidupan rakyat jelata serta semangat perlawanan terhadap kolonialisme. Sayangnya, karena pergeseran orientasi ideologi di Indonesia pasca-1965, karya-karya bernafaskan realisme sosialis dari era 1950–1960-an kini sudah sangat langka dan sulit ditemukan di negeri sendiri.

Karya Seni Dalam Carut Marut Politik

Kisah tertahannya puluhan lukisan maestro Indonesia di Moskow menjadi pengingat pahit bagaimana seni bisa terperangkap dalam pusaran sejarah. Di sisi lain, terselamatkannya karya-karya tersebut di Rusia—melalui proses restorasi panjang dan dedikasi para penyelamatnya—secara tidak langsung telah merawat potongan sejarah penting estetika seni rupa Indonesia yang hampir hilang di tanah airnya sendiri.

(BP/CA)

Tags:

Leave a Comment