Type to search

VALUABLE ARTICLES

Symbolic Drawing: Mengapa Orang yang Tidak Bisa Menggambar Cenderung Menggunakan Simbol?

Share

Ketika seseorang yang tidak terbiasa menggambar diminta menggambar mata, rumah, atau pohon, mereka hampir selalu menghasilkan bentuk ikonis yang seragam: mata berbentuk almond dengan lingkaran di tengah, rumah kotak beratap segitiga, atau pohon bulat berbatang garis lurus. Kecenderungan ini bukan karena keterbatasan fisik tangan, melainkan cara otak memproses informasi visual.

Otak Menggunakan Jalur Pintas (Brain Shortcuts) dan Labeling

Secara alami, otak manusia didesain untuk bekerja efisien. Mengamati kenyataan secara akurat membutuhkan energi kognitif yang besar untuk memproses garis, sudut, bayangan, dan proporsi. Sebagai gantinya, otak menggunakan jalur pintas.

  • Shorthand Mental: Otak mengategorikan objek menggunakan label sederhana dibanding melihat bentuk fisiknya secara langsung.
  • Kebiasaan Masa Kecil: Kebanyakan orang menyimpan simbol-simbol visual dasar (glip) yang dipelajari saat kanak-kanak dan terus menggunakannya hingga dewasa.
  • Melompati Observasi: Menggambar simbol memungkinkan pikiran memotong proses rumit dalam mengukur proporsi visual.

Pakar pendidikan seni Betty Edwards, dalam bukunya Drawing on the Right Side of the Brain, menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena dominasi hemisfer kiri otak. Otak kiri yang bersifat analitis dan verbal cenderung mengategorikan objek menjadi simbol-simbol konseptual, alih-alih membiarkan otak kanan memproses bentuk visual asli yang sedang dilihat.

Seniman dan akademisi Kimon Nicolaïdes dalam The Natural Way to Draw juga menekankan bahwa kegagalan menggambar secara realis terjadi karena orang menggambar pengetahuan mereka tentang suatu objek (konsep abstraknya), bukan pengamatan langsung terhadap bentuk tersebut.

Efisiensi Kognitif dan Komunikasi

Penggunaan simbol saat menggambar memiliki fungsi praktis yang sangat berguna bagi otak manusia.

  • Ekspresi Cepat: Simbol sederhana mampu menyampaikan ide atau pesan secara instan tanpa membutuhkan waktu lama.
  • Meminimalkan Frustrasi: Menggunakan bentuk dasar menghindarkan seseorang dari kesalahan rumit yang sering terjadi saat mencoba menggambar bentuk kompleks.
  • Konsep di Atas Realisme: Fokus utama bergeser dari meniru penampilan asli objek menjadi sekadar “menamai” atau mengidentifikasi objek tersebut melalui gambar.

Pakar psikologi persepsi Rudolf Arnheim melalui karyanya Visual Thinking mengemukakan bahwa gambar simbolis adalah bentuk abstraksi kognitif. Otak manusia pada dasarnya lebih mengutamakan pemahaman makna dan komunikasi efisien daripada kecermatan fotografis.

Mengubah Cara Pandang untuk Menggambar Realis

Menggambar simbolis bukanlah sebuah kesalahan, melainkan moda standar otak untuk berkomunikasi secara visual dengan cepat. Untuk bisa menggambar secara realis, seseorang perlu melatih ulang persepsi visualnya—beralih dari sekadar “mengenali objek” menjadi benar-benar “mengamati hubungan bentuk, ruang, dan cahaya.”

Di Carrot Academy salah satu metode dalam pembelajaran yang digunakan dalam tahap awal adalah merubah cara pandang siswa agar mampu melihat obyek dengan mata “artist” sehingga tidak lagi menggambar dalam bentuk simbol. Fase ini penting sekali untuk dipelajari karena menjadi dasar untuk pemberian materi berikutnya dalam proses belajar menggambar yang baik dan BENAR. Metode ini cukup mudah dan menyenangkan untuk dipelajari dengan hasil yang terukur seperti contoh karya transformasi siswa Carrot Academy Albee Aletha untuk kelas teens dan Ibu Sandra untuk kelas Umum berikut ini:

Buat kamu yang merasa tidak memiliki bakat menggambar namun ingin sekali BISA menggambar untuk menyalurkan hobi dan kreasi, tidak ada salahnya mencoba mempelajari cara menggambar yang benar yang akan merubah kamu dari tidak bisa menjadi BISA menggambar!

(BP/CA)

Tags:

Leave a Comment