Pemalsuan Seni Terbesar Dalam Sejarah: Bagaimana Satu Seniman Jenius Menipu Seluruh Pakar Dunia?
Share
Pada tahun 1937, Abraham Bredius, yang sebagai salah satu sejarawan seni paling terkemuka telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk mempelajari Vermeer, didekati oleh seorang pengacara yang mengaku sebagai wali amanat dari sebuah keluarga Belanda untuk memintanya memeriksa sebuah lukisan berukuran cukup besar tentang
Kristus dan Para Murid di Emmaus.

Tak lama setelah melihat lukisan itu, sejarawan seni berusia 83 tahun itu menulis sebuah artikel di Burlington Magazine, “kitab suci seni” pada masanya, di mana ia menyatakan, “Sungguh momen yang luar biasa dalam kehidupan seorang pencinta seni ketika ia tiba-tiba dihadapkan dengan lukisan yang sebelumnya tidak dikenal karya seorang maestro besar, utuh, di atas kanvas asli, dan tanpa restorasi apa pun—persis seperti saat meninggalkan studio pelukis.
Dan betapa indahnya lukisan itu! Baik tanda tangan yang indah… maupun titik- titik pada roti yang diberkati Kristus, tidak perlu untuk meyakinkan kita bahwa di sini kita memiliki—saya cenderung mengatakan— karya agung Johannes Vermeer dari Delft… sangat berbeda dari semua lukisan lainnya namun tetap merupakan karya Vermeer sejati. Dalam lukisan lain karya maestro besar Delft ini, kita tidak menemukan sentimen seperti itu, pemahaman yang begitu mendalam tentang kisah Alkitab—sentimen yang begitu mulia dan manusiawi yang diungkapkan melalui media seni tertinggi.”

Hanya sedikit keraguan yang dikemukakan oleh rekan-rekannya karena pendapat Bredius dianggap sebagai kebenaran mutlak di dunia seni, bahkan sampai-sampai ia dijuluki “Sang Paus.”
Karya ini, yang saat ini tampak begitu kasar dan canggung, sebenarnya adalah karya palsu karya Han van Meegeren, seorang seniman Belanda biasa-biasa saja yang hidup dan bekerja dalam ketidakjelasan relatif.
Kisah Han van Meegeren adalah mahakarya pemalsuan seni paling licik sekaligus dramatis dalam sejarah. Berbeda dari jebakan jurnalisme sederhana, kasus Van Meegeren melibatkan balas dendam pribadi, kecerdasan kimiawi, hingga tuduhan pengkhianatan negara pasca-Perang Dunia II.

Motivasi: Balas Dendam pada Kritikus Seni
Han van Meegeren adalah seorang pelukis asal Belanda pada awal abad ke-20. Meski memiliki keterampilan teknis yang luar biasa tinggi, karya-karya aslinya ditolak dan dikritik habis-habisan oleh para pengamat seni karena dianggap kaku, ketinggalan zaman, dan tidak memiliki orisinalitas.
Sakit hati atas penolakan tersebut, Van Meegeren memutuskan untuk membuktikan bahwa kemampuannya jauh melampaui penilaian para kritikus. Ia bertekad memalsukan lukisan master era Dutch Golden Age, khususnya Johannes Vermeer, lalu menipu para ahli yang dulu menghinanya.

Yesus di Antara Para Dokter tahun 1945
Teknik Pemalsuan yang Sangat Genius
Memalsukan karya abad ke-17 di abad ke-20 bukan hal mudah karena uji laboratorium sudah bisa mendeteksi usia cat minyak. Namun, Van Meegeren menciptakan metode kimiawi yang sangat presisi:
Bahan Kimia Khusus: Ia mencampur pigmen warna kuno dengan bakelite (sejenis resin sintetik) dan formaldehida. Saat dipanggang di dalam oven, campuran ini mengeras secara instan dan memberikan efek retakan halus (craquelure) persis seperti cat minyak yang sudah berusia 300 tahun.
Kanvas Asli: Ia membeli kanvas asli dari abad ke-17, mengikis lukisan lamanya, dan melukis kembali di atasnya agar serat kain lolos uji usia.
Trik Gaya Lukis: Ia sengaja membuat gaya lukisan Vermeer periode “awal” yang belum pernah ditemukan sejarah, sehingga para ahli menganggapnya sebagai penemuan sejarah seni yang paling berharga.
Mahakaryanya yang paling terkenal, The Supper at Emmaus, disahkan oleh pakar seni Vermeer paling terkemuka saat itu, Abraham Bredius, sebagai “karya master Vermeer yang paling luar biasa.” Lukisan itu kemudian terjual dengan harga fantastis.

Han van Meegeren
1936–1937
Old canvas, relined, 115 x 127 cm.
Museum Boijmans Van Beuningen, Rotterdam

Han van Meegeren, after Vermeer
1942
Plot Twist: Dari Pemalsu Menjadi Pahlawan Nasional
Van Meegeren mengeruk kekayaan melimpah dari menjual puluhan lukisan palsu selama bertahun-tahun. Namun, kebohongannya runtuh akibat Perang Dunia II dengan cara yang tidak terduga.
- Jual ke Petinggi Nazi: Salah satu lukisan Vermeer palsu buatannya, Christ with the Adulteress, dibeli oleh Hermann Göring, komandan tertinggi Nazi sekaligus tangan kanan Adolf Hitler.
- Ditangkap atas Tuduhan Pengkhianatan: Setelah Sekutu memenangkan perang, lukisan tersebut ditemukan di bunker milik Göring. Pemerintah Belanda melacak penjualnya dan menangkap Van Meegeren pada tahun 1945 atas tuduhan menjual warisan budaya bangsa kepada musuh (Nazi)—kejahatan berat yang diancam hukuman mati.
- Pengakuan Menyengat: Untuk menyelamatkan nyawanya dari hukuman mati, Van Meegeren terpaksa mengakui kenyataan yang mengejutkan: lukisan itu bukan warisan budaya Belanda, melainkan buatan tangannya sendiri.
- Pembuktian di Ruang Sidang: Polisi dan pengadilan tidak mempercayainya begitu saja. Untuk membuktikannya, Van Meegeren melukis karya palsu Vermeer terakhirnya, Jesus among the Doctors, di bawah pengawasan ketat pihak berwenang di dalam sel tahanan.
Seketika, status Van Meegeren di mata publik Belanda berubah total dari “pengkhianat bangsa” menjadi pahlawan rakyat yang berhasil menipu dan menguras uang komandan Nazi. Van Meegeren hanya dijatuhi hukuman satu tahun penjara atas tuduhan pemalsuan, meski ia meninggal dunia karena serangan jantung beberapa minggu sebelum menjalani hukumannya.

Han van Meegeren
c. 1939
Oil on old canvas, relined
48 x 30 cm.
Museum Boijmans Van
Beuningen, Rotterdam
Secara keseluruhan, Van Meegeren menghasilkan lebih dari tujuh juta guilder, sekitar 2 juta dolar AS pada waktu itu dan kira-kira dua puluh kali lipat jumlah itu saat ini. Di tahun-tahun terakhirnya, Van Meegeren menjalani kehidupan mewah dan telah membeli sejumlah rumah hingga ia tertangkap.
(BP/CA)
