Type to search

ART FIGURES NEWS

Menjaga Akar, Merayakan Kebebasan: Mengenang Nasirun dan Jejak Inspirasi bagi Seni Rupa Indonesia

Share
mizuma-art.co.jp/Hanoman-Obong-150-x-300cm-oil-on-canvas-Nasirun

Dunia seni rupa Indonesia berduka atas berpulangnya salah satu maestro kontemporer paling berpengaruh, Nasirun. Nasirun menghembuskan napas terakhirnya di usia 60 tahun pada Sabtu, 1 Agustus 2026 di Rumah Sakit AMC Muhammadiyah, Yogyakarta, sekitar pukul 05.30 WIB.

Berita ini resmi dikonfirmasi oleh sastrawan dan budayawan Agus Noor lewat unggahan media sosial. Ia menuliskan belasungkawa terhadap kepergian rekan sejawatnya. Agus mengenang sosok Nasirun sebagai yang memiliki kedermawanan yang tinggi. Agus Noor menuturkan sang pelukis semasa hidup dikenalnya sebagai sosok penyabar yang luar biasa dan juga sosok yang jenaka.

mizuma-art.co.jp/Untitled-90-x-145cm-oil-on-canvas-Nasirun

Kepergian seniman kelahiran Cilacap, Jawa Tengah ini meninggalkan ruang hampa yang mendalam di panggung seni nasional maupun internasional. Namun, sebagaimana karya-karyanya yang sarat dengan simbolis kehidupan dan spiritualitas, jejak langkah dan pemikirannya akan terus hidup menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering.

Sintesis Tradisi dan Kebebasan Ekspresi

Nasirun dikenal sebagai maestro yang berhasil menjembatani dunia tradisi Jawa—seperti wayang, ornamen batik, dan mitologi nusantara—dengan bahasa seni rupa kontemporer yang dinamis dan ekspresif.

  • Bahasa Visual yang Khas: Goresan kuasnya yang spontan, padat, dan kaya akan warna-warna alami kerap menghadirkan suasana magis sekaligus komunikatif.
  • Wayang sebagai Narasi Kebajikan: Tokoh-tokoh rekaannya sering kali mengadaptasi elemen wayang kulit, namun diolah kembali untuk merespons isu-isu sosial, politik, dan kemanusiaan zaman modern.
  • Eksplorasi Tanpa Batas: Nasirun tak hanya berkarya di atas kanvas. Ia memanfaatkan media kayu, mobil, patung, hingga objek sehari-hari sebagai wadah ekspresi seni.
https://indoartnow.com/Arjuna Memanah/Nasirun

Lebih dari Sekadar Melukis: Penjaga dan Pengayom Seni

Keistimewaan Nasirun tidak hanya terletak pada kepiawaian jemarinya di depan kanvas, tetapi juga pada kepeduliannya yang luar biasa terhadap ekosistem seni rupa Indonesia. Kolektor Warisan Mengumpulkan dan merawat ribuan karya seni tradisi serta karya para perupa senior agar tidak punah atau hilang ditelan zaman. Pengayom Perupa Muda Menjadikan kediaman dan studio seninya di Yogyakarta sebagai ruang terbuka bagi diskusi, tempat belajar, dan wadah bertukar pikiran tanpa batasan generasi. Penyambung Silaturahmi Menghubungkan dunia akademis, seniman otodidak, hingga masyarakat awam melalui pendekatan kebudayaan yang inklusif.

Banyak Anak Banyak Rejeki, 2019 Nasirun

Filosofi Kesederhanaan dan Kerendahan Hati

“Seni itu bukan tentang siapa yang paling tinggi, melainkan bagaimana seni bisa memberi manfaat dan merawat nilai-nilai kemanusiaan.” Nasirun

Di balik nama besarnya yang diakui di balai lelang dunia dan galeri internasional, sosok Nasirun selalu dikenal hangat, jenaka, dan sangat bersahaja. Sikap hidupnya menjadi cermin bahwa pencapaian estetik tertinggi justru lahir dari kedalaman rasa dan kedekatan dengan akar rumput.

Nasirun merupakan sosok yang hidup tanpa gawai dan merdeka tanpa tergantung algoritma media sosial. Mengingat, seniman-seniman muda sekarang banyak mempertimbangkan algoritma media sosial agar karya-karyanya viral. Nasirun tidak mau terpenjara dengan hal semacam itu, dan karya-karyanya pun tetap kontekstual meskipun dia tidak terpenjara dengan tuntutan algoritma media sosial. Luar biasa.

Profil Singkat Nasirun

Nasirun (Foto: Instagram/artandbali)

Nasirun lahir di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pada 1 Oktober 1965. Ia mulai merantau ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan tinggi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Sampai akhir hayat, ia menetap di daerah istimewa tersebut.

Nasirun pernah menggelar pameran tunggal di Yogyakarta, Solo, dan Jakarta. Ia juga berpartisipasi dalam berbagai pameran kelompok di Indonesia, Singapura, hingga Belanda. 

Beberapa penghargaan yang diterima adalah Lukisan Terbaik ISI Yogyakarta tahun 1991, McDonald Award, Lustrum X, ISI Yogyakarta 1994. Nasirun juga menjadi salah satu pemenang hadiah Top Ten Awards Seni Indonesia pada tahun 1997.

Karya-karyanya adalah usaha menafsir ulang seni tradisi, terutama wayang, dengan melakukan distorsi anatomi para tokohnya dan mengevaluasi struktur nilainya. 

Tak jarang, interpretasi itu dikaitkan dengan masalah sosial-politik yang sedang aktual dengan sentuhan humor dan ironi yang kental.

Begawan Google, 2012 Nasirun

Warisan yang Tak Terpadamkan

Berpulangnya Nasirun tentu menjadi kehilangan besar bagi bangsa ini. Namun, dedikasi, karya, dan keteladannya telah terpatri kuat dalam sejarah perjalanan seni rupa Indonesia.

Bagi para pencinta dan pelaku seni, Nasirun mengalirkan pesan abadi: bahwa untuk terbang tinggi menjelajah dunia modern, seorang seniman tidak boleh lupa pada tanah dan akar budaya tempat ia tumbuh. Selamat jalan, Maestro. Karya dan kebaikanmu akan terus menginspirasi generasi demi generasi.

Abstraction of Nature’s Aura, 2014

Dirangkum dari CNNIndonesia,Kompas.com dan Medcom.Id

Tags:

Leave a Comment