Type to search

ART FIGURES INSPIRATION VALUABLE ARTICLES

Kisah Lee Man Fong: Pelukis Legendaris yang Dipenjara Jepang dan Berjasa bagi Kemerdekaan RI

Share

Lee Man Fong: Maestro Seni dan Jejak Perjuangannya Demi Kemerdekaan Indonesia

Nama Lee Man Fong (1913–1988) dipatri emas dalam sejarah seni rupa modern Indonesia dan Asia Tenggara. Dikenal lewat perpaduan memukau antara teknik lukis Barat dan keanggunan estetika Timur (Sumi-e), karya-karyanya selalu memancarkan kehangatan dan kedamaian. Namun di balik kelembutan warna-warna earthy dan sapuan kuasnya yang puitis, tersimpan kisah keteguhan hati seorang seniman yang ikut mengarungi gelora perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Perlawanan di Masa Pendudukan Jepang

Ketika tentara Jepang menduduki Batavia (Jakarta) pada tahun 1942, Lee Man Fong tidak tinggal diam. Ia menunjukkan sikap tegas menolak penjajahan dan terlibat aktif dalam gerakan perlawanan underground. Akibat aktivitas subversifnya terhadap pemerintah militer Jepang, Lee Man Fong ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara selama kurang lebih enam bulan.

Kehidupannya terselamatkan tatkala perwira Jepang bernama Takahashi Masao menyadari bakat seninya yang luar biasa. Meski bebas dari balik jeruji besi, pengalaman pahit tersebut semakin memperkuat ikatan emosional dan dedikasinya terhadap tanah air Indonesia.

Kepercayaan Presiden Soekarno dan Pelukis Istana

Pasca-proklamasi kemerdekaan, bakat istimewa Lee Man Fong menarik perhatian Presiden Soekarno, seorang proklamator yang juga kolektor seni ulung. Pada tahun 1961, Soekarno secara resmi mengangkat Lee Man Fong menjadi Pelukis Istana Keperintisan Republik Indonesia.

Salah satu sumbangsih terbesarnya bagi dokumentasi sejarah bangsa adalah ketika ia dipercaya memprakarsai dan mengedit buku katalog 5 jilid karya seni koleksi Presiden Soekarno. Katalog ini bukan sekadar buku, melainkan benteng inventarisasi warisan budaya pertama yang menunjukkan bahwa Indonesia yang baru merdeka adalah bangsa berkeperadaban tinggi.

Senjata Diplomasi Kebudayaan dan Identitas Nasional

Perjuangan Lee Man Fong di era pasca-kemerdekaan berwujud diplomasi kebudayaan. Saat bangsa-bangsa Barat memandang sebelah mata negara baru ini, lukisan-lukisan Lee Man Fong yang menampilkan keharmonisan masyarakat desa, keindahan alam, dan kehidupan rakyat kecil menjadi duta kebudayaan di mata internasional.

Menjelang ajang Asian Games IV tahun 1962, Presiden Soekarno menugaskan Lee Man Fong untuk merancang mural raksasa bertajuk “Margasatwa dan Puspita Indonesia” di Hotel Indonesia. Mural ini dipajang sebagai etalase megah kebudayaan Nusantara untuk menyambut para tamu negara dan atlet internasional—menegaskan harga diri serta kedaulatan Indonesia.

Penghargaan dan Legenda Bangsa

Atas jasa dan dedikasinya yang tanpa ragu terhadap perjalanan kebudayaan tanah air di masa-masa kritis, pemerintah Republik Indonesia secara resmi menganugerahi status Kewarganegaraan Indonesia (WNI) kepadanya. Mahakaryanya seperti Bali Life hingga kini tidak hanya mencatatkan rekor nilai karya seni di lelang internasional, tetapi juga menjadi saksi bisu bagaimana seni dan cinta tanah air bersatu dalam kanvas seorang Lee Man Fong.

(BP/CA)

Tags:

Leave a Comment