Type to search

ART FIGURES VALUABLE ARTICLES

Hanya Sekali Lihat dari Helikopter! Artist Ini Bisa Menggambar Lanskap New York dengan Presisi Sempurna

Share

Bagi sebagian besar orang, mengingat detail arsitektur sebuah gedung setelah sekali lewat adalah hal yang mustahil. Namun bagi Stephen Wiltshire, sebuah helikopter, waktu 20 menit, dan selembar kanvas kosong adalah semua yang ia butuhkan untuk memindahkan seluruh kota—lengkap dari lekuk lampu jalan hingga jumlah pilar bangunan yang presisi—langsung dari memorinya.

Lahir di London pada tahun 1974, seniman arsitektur asal Inggris dan seorang autistic savant ini dikenal dunia karena kemampuan fotografisnya yang luar biasa. Karya-karyanya bukan sekadar sketsa biasa, melainkan lanskap megah berskala sempurna yang digambar murni dari ingatan.

Menemukan Suara Lewat Goresan Pena

Masa kecil Stephen dipenuhi dengan keheningan. Diadagnosis menderita autisme pada usia tiga tahun, ia tumbuh sebagai anak yang non-verbal dan hidup dalam dunianya sendiri. Di tengah keterbatasan komunikasi tersebut, Stephen menemukan “bahasa” pertamanya pada usia lima tahun ketika dikirim ke Queensmill School di London: menggambar.

Ia mulai menggambar hewan, bus kota khas London, dan lambat laun beralih ke bangunan-bangunan megah. Menyadari bahwa menggambar adalah satu-satunya cara Stephen berinteraksi dengan dunia, para gurunya menggunakan trik unik dengan menyembunyikan alat gambarnya agar ia mau bersuara. Trik ini berhasil; kata pertama yang diucapkan Stephen sepanjang hidupnya adalah “kertas” (paper). Ia baru bisa berbicara sepenuhnya pada usia sembilan tahun.

Bakatnya yang luar biasa segera menarik perhatian publik. Pada usia delapan tahun, Stephen bahkan sudah menerima pesanan (commission) pertamanya untuk menggambar Katedral Salisbury dari Perdana Menteri Inggris kala itu. Mantan Presiden Royal Academy of Arts London, Sir Hugh Casson, bahkan menyebutnya sebagai “kemungkinan anak seniman terbaik di Inggris”.

Kamera Manusia: Merekam Kota dari Langit

Metode kerja Stephen Wiltshire selalu berhasil membuat dunia terpukau. Ia kerap melakukan perjalanan singkat menggunakan helikopter di atas kota-kota metropolitan besar dunia sebelum mulai menggambar.

Beberapa mahakarya panorama memorinya yang paling terkenal meliputi:

  • New York City: Berdasarkan penerbangan helikopter selama 20 menit, Stephen menggambar lanskap seluas 305 mil persegi di atas kanvas sepanjang 19 kaki (~5,7 meter) dengan presisi geometris yang mencengangkan.
  • Roma: Ketika menggambar kota Roma setelah sekali melintas, Stephen mereproduksi lanskap tersebut dengan sangat detail, bahkan hingga jumlah pilar pada bangunan bersejarah Pantheon digambar dengan jumlah yang persis sama dengan aslinya.
  • Tokyo: Pada tahun 2005, ia menyelesaikan salah satu karya terpanjangnya, sebuah panorama kota Tokyo sepanjang 10 meter yang ia selesaikan dalam waktu tujuh hari murni dari ingatan.

Stephen sering terlihat menggambar di depan publik secara langsung sembari mendengarkan musik lewat headphone-nya, memindahkan miliaran detail arsitektur perkotaan hanya dengan menggunakan pena.

Pengakuan Dunia dan Warisan Seni

Stephen, yang menyelesaikan studinya di City and Guilds of London Art School, kini telah menjadi salah satu seniman paling ikonik di Inggris. Pada tahun 2006, atas dedikasi dan kontribusinya yang luar biasa pada dunia seni, Ratu Elizabeth II menganugerahinya gelar MBE (Member of the Order of the British Empire). Di tahun yang sama, ia membuka galeri permanennya sendiri di Royal Opera Arcade, London.

Kini karya-karyanya dipamerkan di berbagai tempat bergengsi di seluruh dunia, termasuk pameran di lantai 80 Empire State Building, New York—salah satu gedung favorit yang sering ia gambar sejak kecil. Bagi para pencinta seni yang ingin memesan karya aslinya, daftar tunggu bahkan bisa mencapai empat hingga delapan bulan.

Kisah hidup Stephen Wiltshire adalah bukti nyata bahwa keterbatasan verbal atau perbedaan neurodivergen bukanlah penghalang untuk menyentuh hati jutaan orang. Lewat ketekunannya, ia tidak hanya merekam keindahan arsitektur dunia, tetapi juga membuktikan prinsip hidupnya yang selalu ia pegang teguh:

“Do the best you can and never stop”

(BP/CA)

Tags:

Leave a Comment