Mengenal Raden Saleh: Pionir Seni Modern Asia yang Taklukkan Jantung Eropa
Share
Raden Saleh Sjarif Boestaman (1811-1880) bukan sekadar pelukis, melainkan sosok revolusioner yang menjembatani seni rupa Timur dan Barat. Sebagai pionir seni lukis modern Indonesia, kisah hidupnya penuh dengan intrik, prestasi internasional, dan nasionalisme yang tersirat.
Inilah 10 fakta unik tentang Raden Saleh!
1. Pionir Aliran Romantisme di Asia
Raden Saleh adalah orang Indonesia (dan Asia) pertama yang mendapat pendidikan seni rupa di Eropa. Ia dikenal sebagai maestro aliran Romantisme yang menekankan pada emosi yang kuat, drama, dan keindahan alam yang liar.


2. Memiliki Gelar “Pelukis Sang Raja”
Kemampuannya yang luar biasa membuat Raden Saleh mendapat gelar Schilder des Konings (Pelukis Sang Raja) dari Raja Willem III dari Belanda. Tak hanya di Belanda, ia juga menjadi pelukis istana di berbagai kerajaan Eropa, termasuk Jerman dan Prancis.

3. Belajar Melukis Hewan di Kebun Binatang
Keistimewaan Raden Saleh adalah kemampuannya melukis hewan buas dengan sangat detail. Saat di Eropa, ia sering menghabiskan waktu di The Menagerie (kebun binatang keliling) untuk mengamati anatomi dan perilaku singa serta harimau sebelum memindahkannya ke kanvas.

4. Perlawanan Simbolik melalui “Penangkapan Pangeran Diponegoro”
Lukisan paling ikonik miliknya, Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857), merupakan bentuk protes terhadap versi pelukis Belanda, Nicolaas Pieneman. Jika Pieneman melukis Diponegoro dengan wajah lesu, Raden Saleh melukisnya dengan kepala tegak, dada membusung, dan ekspresi tegas sebagai bentuk perlawanan harga diri.

5. Seorang Ilmuwan dan Arkeolog
Selain melukis, Raden Saleh sangat tertarik pada ilmu pengetahuan. Ia terlibat dalam penggalian fosil di Jawa dan menyumbangkan banyak koleksi artefak serta spesimen alam ke museum di Belanda. Ia adalah sosok Renaissance Man pertama dari Indonesia.

6. Sosok di Balik Berdirinya Taman Ismail Marzuki (TIM)
Lahan tempat berdirinya Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM) dulunya adalah rumah kediaman pribadi Raden Saleh. Ia menghibahkan sebagian tanahnya untuk dijadikan kebun binatang (yang kini menjadi Kebun Binatang Ragunan sebelum pindah) dan taman umum.

7. Sering Memakai Kostum Unik
Raden Saleh dikenal sebagai sosok yang sangat sadar akan citra diri. Di Eropa, ia sering tampil mengenakan pakaian adat Jawa lengkap dengan blangkon untuk menegaskan identitasnya, namun di lain waktu ia bisa tampil sangat elegan dengan seragam militer atau pakaian bangsawan Eropa.

8. Rekor Harga Lukisan yang Fantastis
Hingga saat ini, karya-karya asli Raden Saleh menjadi incaran kolektor dunia. Salah satu lukisannya yang berjudul La Chasse au Taureau Sauvage (Perburuan Banteng) terjual di Prancis pada tahun 2018 dengan harga mencapai €7,2 juta (sekitar Rp120 miliar), memecahkan rekor untuk karya seni Indonesia.

Pemandangan Merbabu dan Merapi menjadi salah satu lukisan Raden Saleh yang dilelang oleh Sotheby’s pada gelaran Singapore Art Week awal 2025 ini. Karya seniman asal Indonesia yang sebelumnya dimiiki pribadi ini laku seharga 2 juta dolar Singapura atau sekitar Rp24,4 miliar, lho!
Dalam karya tersebut, Raden Saleh menggambarkan pemandangan Merapi dan Merbabu dengan apik dalam kanvas berukuran 77 x 120 cm. Lukisan dengan cat minyak ini dibuat tahun 1862.


Meski hidup bergelimang kemewahan di Eropa, Raden Saleh memilih menghabiskan masa tuanya di Bogor. Ia wafat pada tahun 1880 dan dimakamkan di sebuah pemakaman keluarga yang cukup sederhana di Bondongan, Bogor, jauh dari kemegahan istana-istana tempat karyanya digantung.
Raden Saleh adalah sosok yang melampaui masanya. Ia bukan hanya seniman berbakat yang menguasai teknik Barat, tetapi juga seorang intelektual dan patriot yang menggunakan kuasnya untuk menyuarakan martabat bangsa. Melalui aliran Romantisme, ia berhasil menyejajarkan seni rupa Indonesia di panggung internasional, sekaligus meletakkan dasar bagi perkembangan seni modern dan ilmu pengetahuan di tanah air. Warisannya, baik dalam bentuk karya lukis maupun kontribusi sosial seperti lahan untuk ruang publik, tetap menjadi inspirasi yang tak ternilai hingga saat ini.

(BP/CA)
