Type to search

NEWS PARENTING AND GROWTH

Anak Dibully Tapi Tidak Mau Bercerita? Ini Penyebab & Cara Mengatasinya

Share

Anak Dibully Tapi Tidak Mau Bercerita: Kenapa Bisa Terjadi dan Apa yang Harus Orang Tua Lakukan?

Banyak orang tua berpikir, “Kalau anakku dibully, pasti dia akan cerita.” Sayangnya, realitanya tidak sesederhana itu. Menurut Gabor Maté, anak hanya akan berbicara ketika mereka merasa aman secara emosional, bukan sekadar karena mereka tahu itu “hal yang benar untuk dilakukan”.

 Mikhail Nilov/Pexels.com

Kenapa Anak Memilih Diam?

Ketika anak tidak mau bercerita soal bullying, itu bukan berarti mereka tidak percaya sama sekali. Seringkali, ada alasan yang lebih dalam, antara lain:

1. Takut membuat orang tua kecewa atau marah
Anak bisa berpikir, “Kalau aku cerita, orang tua akan sedih atau marah… lebih baik aku simpan sendiri.”

2. Takut disalahkan
Beberapa anak khawatir akan mendengar kalimat seperti:
“Makanya jangan lemah,” atau “Kamu sih…”
Ini membuat mereka memilih diam.

3. Tidak merasa aman untuk jujur
Menurut Gabor Maté, anak sangat peka terhadap respons emosional orang tua. Jika sebelumnya mereka pernah diabaikan, dihakimi, atau diremehkan, mereka belajar:
“Lebih aman tidak cerita.”

4. Ingin tetap “terlihat kuat”
Anak—terutama yang lebih besar—kadang merasa harus menyelesaikan masalah sendiri.


Perspektif Psikologis: Attachment Lebih Penting dari Nasihat

Dalam banyak pemikirannya, Gabor Maté menekankan bahwa:

Anak tidak butuh orang tua yang langsung memberi solusi.
Mereka butuh orang tua yang membuat mereka merasa diterima.

Ketika hubungan emosional (attachment) kuat, anak akan lebih mudah membuka diri—bahkan tanpa ditanya.


Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?

Gustavo Frink/Pexels.com

Bukan dengan memaksa anak bercerita, tapi dengan membangun rasa aman secara perlahan.

1. Kurangi interogasi, perbanyak koneksi
Alih-alih:
“Kenapa kamu diam? Ada apa di sekolah?”
Coba:
“Kayaknya hari ini berat ya… kalau kamu mau cerita, aku ada.”

2. Tahan reaksi berlebihan
Jika anak akhirnya bercerita, hindari langsung marah atau panik.
Reaksi emosional yang besar justru bisa membuat anak menutup diri lagi.

3. Validasi perasaan, bukan langsung solusi
Katakan:
“Pasti nggak enak banget ya diperlakukan begitu.”
Bukan langsung:
“Besok kamu harus begini ya…”

4. Bangun rutinitas “safe space”
Misalnya ngobrol santai sebelum tidur, saat makan, atau saat jalan bareng.
Anak lebih mudah terbuka di momen yang tidak terasa seperti “diinterogasi”.

5. Perhatikan sinyal non-verbal
Perubahan seperti:

  • lebih pendiam
  • malas sekolah
  • mudah marah

Bisa jadi tanda ada sesuatu yang mereka pendam.


Intinya

Anak yang tidak bercerita bukan berarti tidak butuh bantuan. Seringkali, mereka hanya belum merasa cukup aman untuk berbagi.

Seperti yang ditekankan oleh Gabor Maté:
Hubungan yang hangat dan aman adalah “pintu” utama agar anak mau terbuka.

Bukan soal seberapa sering kita bertanya, tapi seberapa nyaman anak merasa saat bersama kita.

(BP/CA)

Tags:

Leave a Comment