Kutukan Afantasia?: Saat Artist Harus Hidup Tanpa Bisa Berimajinasi!
Share
Nggak Bisa Berimajinasi = Nggak Kreatif? Mengenal Aphantasia dalam Dunia Seni

Pernahkah kamu diminta untuk “membayangkan sebuah apel merah” di dalam pikiran, tapi yang kamu lihat hanyalah kegelapan total? Jika iya, kamu mungkin salah satu dari 2–5% populasi dunia yang memiliki kondisi bernama Aphantasia.
“Bayangkan kamu memejamkan mata dan kamu tidak bisa memunculkan bayangan apapun di dalam pikiran kamu.” Glen Keane, Disney Animator
Apa Jadinya Jika Artist Tidak Bisa Berimajinasi?!
Banyak orang beranggapan bahwa menjadi artist berarti harus memiliki “mata batin” yang tajam untuk memvisualisasikan karya sebelum tumpah ke kanvas. Namun, benarkah tanpa imajinasi visual kita tidak bisa kreatif? Mari bedah mitos ini.
Apa Itu Aphantasia?
Menurut penelitian dari Zeman, Dewar, & Della Sala (2015), Aphantasia atau Afantasia adalah kondisi di mana seseorang tidak mampu secara sukarela menghasilkan citra visual mental atau “imajinasi visual internal”.
Sederhananya, jika orang lain memiliki “layar monitor” di kepala mereka, orang dengan aphantasia memiliki layar yang mati. Namun, penting untuk dicatat bahwa aphantasia bukanlah hambatan kognitif. Ini hanyalah perbedaan cara otak memproses informasi.

Artist Besar dengan Aphantasia yang Sukses di Industri Seni

Sebuah stereotype bahwa artist harus memiliki kemampuan berimajinasi tinggi untuk mengolah ide dalam pikiran dan mewujudkannya menjadi karya seni. Siapa sangka, beberapa tokoh paling berpengaruh di industri kreatif dunia justru tidak memiliki imajinasi visual, 2 nama besar artist dengan Afantasia antara lain:
- Glen Keane: Animator legendaris di balik karakter The Little Mermaid dan Beauty and the Beast. Meskipun memenangkan Oscar, ia mengaku tidak bisa “melihat” karakter-karakter tersebut di kepalanya. Ia menggambar untuk menemukan bentuknya, bukan memindahkan apa yang sudah ada di pikiran.
- Ed Catmull: Co-Founder Pixar dan mantan presiden Walt Disney Animation Studios. Catmull menegaskan bahwa kreativitas tidak sama dengan visualisasi. Baginya, ide adalah hasil dari proses kerja, bukan sekadar bayangan sekilas.
“Orang-orang sering mencampuradukkan visualisasi dengan kreativitas. Padahal, keduanya adalah hal yang berbeda.” — Ed Catmull.
Seniman dengan afantasia (ketidakmampuan untuk memvisualisasikan gambar secara mental) dapat berhasil dengan mengandalkan pemikiran konseptual, pengamatan intensif, dan penggunaan materi referensi yang banyak, daripada visualisasi internal. Dengan kondisi ini, animator Disney, Glen Keane, justru berhasil menciptakan The Little Mermaid dan Tarzan melalui “ledakan coretan” daripada citra mental yang telah direncanakan sebelumnya.

Bagaimana proses kreatif Glen Kleane sebagai artist dengan Afantasia dalam membuat karya-karyanya?
Legenda Disney Glen Keane menganimasikan beberapa karakter studio yang paling dicintai, termasuk Beast, Ariel, dan Aladdin. Menurut Ed Catmull, mantan presiden Pixar dan
Walt Disney Studios,”Glen adalah salah satu animator terbaik dalam sejarah animasi gambar tangan.”
Bagaimana proses kreatif Glen Kleane sebagai artist dengan Afantasia dalam membuat karya-karyanya?:

1. Mengetahui Vs Mengingat
Ada perbedaan antara mengetahui atau mengingat dan menghasilkan gambaran mental tentang benda. Untuk menggambarnya, kita hanya perlu tahu seperti apa bentuknya, atau kira-kira seperti apa bentuknya. Afantasia membuat artist tidak bisa mengingat namun mereka bisa menggunakan informasi tentang obyek itu dalam menggambar. Saat membuat Ariel, Keane menggabungkan pengetahuannya tentang gambar manusia dan ikan.
Jadikan Referensi sebagai Sahabat Karib
Jangan merasa bersalah karena menggunakan referensi. Kamu tetaplah artist sejati! Karena tidak bisa memvisualisasikan detail di pikiran, gunakan foto atau objek nyata untuk memandu proporsi, komposisi, dan palet warna. Referensi adalah “data” yang membantu otakmu bekerja.
2. Melihat Vs Membayangkan
Bagi Keane visualisasi terjadi di dalam otak sedangkan menggambar adalah sebuah proses eksternal. Keane lebih mengandalkan penglihatannya saat menggambar.
Berbagai hal bisa digunakan Keane sebagai sumber informasi. Lewat “ledakan coretan” ia membuat banyak coretan kemudian mengurangi dan menambahkan detail
hingga tercipta gambar yang diinginkan. Karakter Beast juga bermula dari hiasan kepala kerbau di studio.
Proses Iterasi dan Sketsa Kasar
Bagi aphantasic artist, sketsa kasar adalah pengganti imajinasi visual. Jangan takut untuk membuat puluhan coretan sampai kamu menemukan bentuk yang “terasa benar”. Kamu membangun gambar di atas kertas, bukan di kepala.
3. Kreativitas yang Beragam
Keane harus keluar dari stereotype bahwa kreativitas artistik adakah sebuah kapasitas internal, yang hasilnya hanya direproduksi di dunia luar. Hal ini menjadi sebuah tantangan baginya untuk mencari penemuan di luar pikiran mereka. Keane dan artist-artist lain yang mengalami afantasia menunjukkan bahwa proses kreatif dapat dengan mudah dimulai dengan, dan bergantung pada dunia material di sekitar mereka. Kondisi Afantasia tidak menghentikan pasion mereka
Fokus pada Indera Lain (Multisensori)
Jika kamu tidak bisa “melihat” tekstur, cobalah untuk “merasakannya”. Fokuslah pada emosi, suara, atau sensasi taktil (sentuhan) yang ingin kamu sampaikan. Gunakan tekstur yang nyata atau pola-pola yang bisa memicu perasaan tertentu pada penonton.
Eksplorasi Medium yang Lebih Fisik
Beberapa medium seni tidak terlalu bergantung pada bayangan mental. Cobalah bermain dengan:
- Clay/Patung: Membentuk langsung dengan tangan membantu kamu memahami form dan dimensi secara fisik.
- Collage (Kolase): Menyusun elemen yang sudah ada menjadi komposisi baru.
- Fotografi: Menangkap keindahan yang sudah ada di depan mata.
Afantasia Bukanlah Kutukan tapi Keunikan yang Harus Dirayakan
Aphantasia membuktikan bahwa seni bukan soal apa yang kita “lihat” di dalam pikiran, tapi soal apa yang kita rasakan dan bagaimana kita mengeksekusinya. Kreativitas adalah tentang pemecahan masalah dan ekspresi, dan itu tidak butuh layar di dalam kepala untuk bisa bersinar.
Jadi, buat kamu yang merasa “buta” secara visual, jangan berhenti. Jika Passion kamu lebih besar dari kemampuanmu berimajinasi, maka berkaryalah tanpa takut. Aphantasia memberimu cara pandang yang berbeda terhadap dunia. Karya kamu mungkin akan lebih fokus pada struktur, konsep, atau emosi mentah daripada sekadar imitasi visual. Inilah yang membuat karya kamu autentik dan original.
(BP/CA)
