Type to search

VALUABLE ARTICLES

Mager Gambar Bikin Gusar?: 5 Tips Anti Mager ini Buat Bikin Konsisten Gambar!

Share

Bagi banyak seniman, musuh terbesar bukanlah kurangnya bakat, melainkan inkonsistensi. Pernahkah Anda merasa sangat bersemangat di awal proyek, namun kehilangan motivasi di tengah jalan? Fenomena ini sering kali berkaitan dengan hambatan psikologis seperti perfectionism atau tekanan impostor syndrome. Gak usah down ya kalo kita sering inkonsisten karena itu memang manusiawi banget. Namun tentu saja hal yang penting kita lakukan adalah dengan mengendalikannya.

Apa sih penyebab kita jadi sering nggak konsisten menggambar?

Kemampuan artist untuk menjadi konsisten dipengaruhi beberapa hal yang kita sadari dan sebagian muncul tanpa kita sadari, antara lain:

1. Standar atau target yang tidak jelas. Kita jadi sulit menentukan seberapa besar effort yang kita berikan atau seberapa besar pencapaian kita dalam berkarya.
2. Kurangnya rasa tanggung jawab. Sehingga membuat artist merasa kurang memiliki keinginan untuk menjaga kebiasaan baik dalam menggambar.
3. Menggantungkan proses berkarya pada mood. Karena mood tiap manusia selalu berubah-ubah tentu saja jika kita menggantungkan proses berkarya pada mood kita akan menjadi tidak konsisten.
4. Cognitive bias. Sebuah istilah yang artinya adalah “kesalahan di otak kita” dalam mengolah informasi yang mempengaruhi kita mengambil keputusan untuk menjaga konsistensi. Penyebabnya bisa karena kita tidak bisa menunda kesenangan, tergoda distraksi dan lain-lain.

Nha setelah tahu penyebabnya, berikut ini adalah 5 cara efektif untuk menjaga konsistensi dalam berkarya. Mungkin bebera tips pernah kamu coba, setidaknya ini bisa jadi reminder buat kamu!.


1. Pahami “The Resistance” dan Lawan dengan Rutinitas

Steven Pressfield, penulis buku The War of Art, menyebut hambatan internal yang menghentikan kita berkarya sebagai “Resistance”. Psikologi memandang ini sebagai mekanisme pertahanan otak untuk menghindari rasa takut akan kegagalan.

  • Saran Profesional: Jangan menunggu inspirasi datang. Seniman legendaris seperti Chuck Close pernah berkata: “Inspiration is for amateurs. The rest of us just show up and get to work.” Bangunlah jadwal tetap, meskipun hanya 30 menit sehari, agar otak terbiasa masuk ke dalam mode kreatif tanpa harus menunggu “mood”.

Buatlah jadwal tertentu dengan waktu yang sama. Dengan

2. Gunakan Teknik “Atomic Habits” (Mulai dari Hal Kecil)

Secara psikologis, target yang terlalu besar sering kali memicu kecemasan, yang akhirnya menyebabkan prokrastinasi. Konsep Atomic Habits oleh James Clear menekankan pentingnya perubahan kecil yang konsisten.

  • Aplikasi Praktis: Jika target membuat ilustrasi penuh terasa berat, mulailah dengan target “hanya membuat sketsa kasar selama 5 menit”. Saat hambatan untuk memulai diperkecil, otak akan lebih mudah untuk melanjutkan pekerjaan tersebut hingga selesai.

3. Kelola “Perfectionism” yang Menghambat

Banyak artist terjebak dalam siklus inkonsistensi karena ingin setiap karya menjadi masterpiece. Dalam psikologi, perfeksionisme sering kali berhubungan dengan rasa takut akan penilaian orang lain.

  • Saran Ahli: Fokuslah pada kuantitas terlebih dahulu, kualitas akan mengikuti. James Gurney sering menekankan pentingnya observasi dan latihan harian yang jujur daripada sekadar mengejar hasil akhir yang sempurna. Ingatlah bahwa kegagalan dalam satu karya adalah data untuk perbaikan di karya berikutnya.

4. Ciptakan Lingkungan yang Mendukung Fokus

Faktor lingkungan berperan besar dalam mempertahankan flow state—keadaan psikologis di mana seseorang sepenuhnya tenggelam dalam aktivitasnya. Gangguan digital adalah pembunuh konsistensi nomor satu di era modern.

  • Tips dari Artist Senior: Banyak profesional seperti Feng Zhu menekankan pentingnya disiplin dalam belajar dan bekerja. Jauhkan ponsel, siapkan playlist yang membantu fokus, dan buat area kerja yang membuat Anda merasa nyaman untuk berkreasi dalam waktu lama.

Mungkin kamu juga bisa mencoba Konsep 5-S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke) dari Jepang untuk menciptakan lingkungan atau ruang berkarya yang nyaman dan bikin betah.

5. Bangun Koneksi dengan Komunitas

Manusia adalah makhluk sosial. Secara psikologis, dukungan dari lingkungan atau peer group dapat meningkatkan hormon dopamin yang berkaitan dengan motivasi dan penghargaan diri.

  • Manfaat Komunitas: Bergabung dengan komunitas seperti di Carrot Academy memungkinkan Anda untuk melihat progres orang lain dan mendapatkan umpan balik yang membangun. Mengetahui bahwa seniman profesional sekalipun pernah mengalami masa sulit akan membantu Anda tetap bertahan saat motivasi sedang menurun.

Konsistensi bukanlah tentang seberapa cepat Anda berlari, melainkan seberapa lama Anda mampu bertahan di jalur tersebut. Dengan memahami pola psikologi diri sendiri dan menerapkan disiplin ala profesional, berkarya tidak lagi menjadi beban, melainkan sebuah gaya hidup yang berkelanjutan.

Tetap semangat berkarya dan sampai jumpa di kelas!

(BP/CA)

Tags:

Leave a Comment