Kurangnya Co-Parenting di Indonesia: Benarkah Kita Negara “Fatherless”?
Share
Kita Tidak Kekurangan Ayah. Kita Kekurangan Kehadiran.
(Jakarta, Carrot Academy) Indonesia bukanlah negara tanpa ayah. Di banyak rumah, ayah ada. Mereka pulang setiap malam, duduk di ruang tamu, menonton TV, atau sibuk dengan ponsel. Mereka bekerja keras, membayar sekolah anak, memenuhi kebutuhan keluarga.
Tapi pertanyaannya:”Apakah mereka benar-benar hadir?“. Inilah inti masalah yang sering disalahpahami. Kita tidak sedang krisis jumlah ayah. Kita sedang krisis peran ayah.

Label “Fatherless” Itu Terlalu Sederhana—Tapi Tidak Sepenuhnya Salah
Istilah fatherless sering terasa ofensif. Seolah-olah menuduh jutaan ayah gagal menjalankan perannya. Namun jika kita lihat lebih dalam, istilah ini bukan soal keberadaan fisik – melainkan ketiadaan emosional. Data menunjukkan jutaan anak Indonesia:
- Tumbuh tanpa interaksi bermakna dengan ayah
- Jarang diajak bicara dari hati ke hati
- Tidak memiliki figur yang benar-benar mengenal mereka
Jadi ya, kita mungkin tidak “fatherless” secara harfiah. Tapi secara emosional? Itu cerita yang berbeda.
Budaya Lama yang Masih Kita Pertahankan Tanpa Dipertanyakan
Masalah ini bukan muncul tiba-tiba. Ia diwariskan. Selama puluhan tahun, kita hidup dalam narasi yang sama: ayah bekerja, ibu mengasuh dan anak “ikut saja”. Dan anehnya, pola ini jarang dipertanyakan. Padahal, dunia sudah berubah. Anak-anak hari ini hidup di era informasi tanpa batas, tekanan sosial tinggi dan krisis identitas yang lebih kompleks. Namun cara kita membesarkan mereka masih seperti 30 tahun lalu.
Kita Menghargai Ayah yang Memberi Nafkah, Tapi Mengabaikan Ayah yang Mengasuh
Ada satu bias besar dalam masyarakat kita:
Ayah dianggap “baik” jika ia bekerja keras.
Bukan jika ia dekat dengan anaknya.
Akibatnya:
- Ayah yang jarang pulang tetap dipuji
- Ayah yang aktif mengasuh justru dianggap “tidak maskulin”
Ini bukan hanya masalah keluarga. Ini masalah cara kita mendefinisikan laki-laki.
Ayah Tidak Diajarkan Cara Menjadi Ayah
Ironisnya, banyak ayah sebenarnya ingin terlibat. Tapi mereka tidak tahu caranya. Kenapa? Karena:
- Mereka juga dibesarkan oleh ayah yang tidak hadir
- Tidak pernah diajarkan komunikasi emosional
- Tidak punya role model parenting yang sehat
Jadi ketika mereka menjadi ayah, yang mereka lakukan hanyalah mengulang pola yang sama. Ini bukan sekadar kegagalan individu. Ini adalah siklus generasi.

Dampaknya Tidak Selalu Terlihat—Tapi Nyata
Ketiadaan peran ayah tidak selalu menghasilkan “anak bermasalah” secara kasat mata. Kadang dampaknya lebih halus:
- Anak yang tidak percaya diri
- Remaja yang haus validasi
- Dewasa yang tidak tahu cara membangun hubungan sehat
Mereka terlihat “baik-baik saja”. Tapi di dalam, ada sesuatu yang hilang.
Co-Parenting Bukan Tren Barat—Ini Kebutuhan Dasar
Banyak orang menganggap co-parenting sebagai konsep modern atau “kebarat-baratan”. Padahal, secara psikologis, anak memang membutuhkan kehangatan (sering diasosiasikan dengan ibu) dan struktur dan tantangan (sering diasosiasikan dengan ayah). Ketika salah satu hilang, perkembangan anak menjadi timpang. Co-parenting bukan soal kesetaraan gender. Ini soal keseimbangan perkembangan manusia.
Masalahnya Lebih Besar dari Sekadar Keluarga
Kita sering menyalahkan individu: “Ayahnya kurang peduli”. “Orang tuanya sibuk”. Padahal, ada faktor sistemik yang lebih besar:
1. Budaya kerja yang tidak ramah keluarga
Jam kerja panjang membuat ayah nyaris tidak punya waktu.
2. Minimnya edukasi parenting untuk pria
Program parenting masih menyasar ibu.
3. Tekanan ekonomi
Banyak ayah merasa nilai mereka hanya diukur dari penghasilan. Jadi ketika kita bicara fatherless, kita sebenarnya sedang bicara tentang struktur sosial yang gagal mendukung keluarga.
Kita Perlu Berhenti Menormalisasi Ketidakhadiran Ayah
Kalimat seperti ini terlalu sering kita dengar:
- “Yang penting ayahnya kerja keras”
- “Namanya juga laki-laki, ya begitu”
- “Ayah memang tidak banyak bicara”
Masalahnya, normalisasi ini membuat kita berhenti bertanya: “Apakah ini benar cukup untuk anak?“.
Menjadi Ayah Itu Bukan Peran Sampingan
Selama ini, banyak ayah melihat dirinya sebagai: pendukung, cadangan atau bahkan “tamu” dalam kehidupan anak. Padahal, dalam perkembangan anak, ayah adalah:
- Sumber validasi
- Model identitas
- Referensi hubungan sosial
Tanpa itu, anak tumbuh dengan potongan puzzle yang hilang.
Perubahan Tidak Harus Besar—Tapi Harus Dimulai
Kita tidak butuh revolusi besar untuk memulai perubahan. Hal sederhana seperti mendengarkan anak tanpa distraksi, mengantar sekolah sesekali dan bertanya tentang perasaan mereka. Itu sudah cukup untuk mengubah arah hubungan. Karena bagi anak, yang mereka ingat bukan berapa banyak uang yang ayah hasilkan, tetapi seberapa sering ayah hadir untuk mereka.
Kesimpulan: Ini Bukan Tentang Menyalahkan Ayah
Artikel ini bukan untuk menyalahkan ayah. Ini tentang menyadari bahwa kita mewarisi pola lama, hidup dalam sistem yang tidak ideal tapi kita punya pilihan untuk berubah. Indonesia tidak kekurangan ayah. Kita hanya belum terbiasa dengan ayah yang benar-benar hadir. Dan mungkin, perubahan generasi dimulai dari satu keputusan sederhana: “Seorang ayah yang memilih untuk tidak hanya ada—tapi juga hadir”.
(BP/CA)
