Kenapa Skill Gambarmu Stuck dan Burn Out?: Ini 7 Hambatan Psikologis yang Jarang Disadari Artist!
Share
Banyak alasan untuk kita menggambar, namun jika kita ingin memperdalam skill gambar secara serius tentu akan menjadi proses yang berbeda dibandingkan jika kita ingin menggambar untuk bersenang-senang atau rekreasional.
Bagaimana jika kita telah menghabiskan waktu belajar panjang namun hasilnya tidak sesuai yang kita inginkan?. Apa saja sih yang bisa menghambat proses belajar menggambar kita? Catat baik-baik. Inilah 7 hal yang perlu kamu perhatikan!

1. Gambar Tanpa Tujuan
Gambar untuk kesenangan dan untuk belajar adalah hal beda. Gambar tanpa tujuan tidak menambah skill secara optimal. Untuk mengembangkan skill perlu sebuah tujuan dan target yang jelas sehingga tahu materi apa yang ingin dipelajari dalam sesi menggambar. Kamu harus menentukan skill apa yang akan kamu kuasai dalam sesi belajar gambar berikutnya dan ketika karya selesai kamu bisa kamu bisa tahu apa yang akan dikembangkan lagi di karya selanjutnya.
Secara neurosains, otak membutuhkan stimulasi spesifik melalui metode Deliberate Practice (latihan terfokus) untuk membentuk jalur sinapsis baru. Tanpa tujuan yang spesifik, otak tidak akan merekam proses tersebut sebagai sebuah keahlian baru, melainkan hanya sebagai aktivitas motorik kasual.
2. Tidak Sepenuhnya Tertarik
Otak hanya akan fokus pada sesuatu yang benar-benar menarik perhatian kita. Proses belajar menuntut prioritas fokus kita. Jika tidak sepenuhnya tertarik menggambar maka kita akan mudah terdistraksi dengan hal lain seperti game, media sosial, berbagai informasi yang tidak perlu dll. Jika ingin serius belajar menggambar atau belajar apapun itu, kamu harus selalu bisa menemukan alasan mengapa kamu memilih gambar untuk dipelajari dan jadikan itu reminder saat fokus kamu terpecah.
Otak kita digerakkan oleh dopamin. Ketika kita tidak memiliki ketertarikan emosional yang kuat terhadap apa yang kita pelajari, kadar dopamin menurun, membuat fokus melemah dan otak secara alami mencari distraksi yang memberikan kepuasan instan (seperti scrolling media sosial).

3. Tidak Memahami Psikologi Belajar: Otak Kerja ke Otak Bawah Sadar
Belajar adalah proses menyusun data ke dalam Otak Kerja (Working Memory) dengan tujuan akhir menyimpannya ke dalam Otak Bawah Sadar (Long-Term Memory) agar bisa dipanggil kembali kapan saja secara otomatis.
Menurut Cognitive Load Theory, kapasitas working memory manusia itu sangat terbatas. Jika kita belajar terlalu banyak materi sekaligus (misal: langsung belajar anatomi kompleks, lighting, komposisi, dan mewarnai dalam satu malam), otak akan mengalami burnout dan menolak informasi tersebut. Menyusun visual database harus dilakukan secara bertahap, teratur, rapi, dan berulang.
“Ingat bagaimana mendiang Kim Jung Gi bisa menggambar perspektif ekstrem langsung dari kepalanya? Itu bukan sihir. Beliau membangun visual database di memorinya dengan sangat rapi, mengobservasi objek harian secara mendalam, dan melatihnya satu demi satu selama puluhan tahun hingga masuk ke alam bawah sadar.”
4. Kurang Melatih Mata Artistik
2 orang yang sedang belajar menggambar bisa menghasilkan 2 kualitas karya yang berbeda dari tugas yang sama. Jiwa artistik membuat artist memiliki rasa ingin tahu dan kepekaaan dalam mengobservasi karya yang menarik dan mampu menerjemahkan apa yang membuat karya itu bagus. Proses berikutnya adalah mensimulasikan bagaimana proses karya itu dibuat dan mempelajarinya. Jiwa artistik bisa dikembangkan dengan memperluas wawasan dan preferensi.
Ini berkaitan dengan Pattern Recognition (pengenalan pola) pada otak. Artist senior memiliki kemampuan menganalisis komponen visual secara struktural, bukan sekadar melihat permukaan. Mereka mampu menerjemahkan mengapa sebuah karya terlihat bagus dari segi proporsi, ritme garis, dan keharmonisan warna.

5. Tidak Mengosongkan Gelas
Mengosongkan gelas seperti pepatah sepele. Namun artinya adalah menyingkirkan ego dan memberi ruang lebih luas untuk ilmu baru. Ego adalah mekanisme perlindungan yang tercipta untuk menghindari kegagalan yang justru dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan dalam jangka panjang. Kita perlu belajar mengelola ego kita dan mengubah kegagalan sebagai peluang untuk berkembang dan belajar.
Ketika karya kita dikritik, otak sering kali meresponsnya dengan cara yang sama seperti ancaman fisik—memicu respons fight or flight karena ego kita merasa terancam. Sifat defensif ini menutup plastisitas otak (neuroplasticity) untuk menerima informasi baru.
6. Effort yang Tidak Sepadan
Untuk mengetahui seberasa besar effort yang harus kita berikan kita perlu melakukan self assesement atau penilaian pribadi?. Self assesment bisa berbentuk pertanyaan, apakah waktu yang kita dedikasikan cukup dan efisien? Apakah kita sudah berani dengan challenge baru? Sudahkah mencoba keluar zona nyaman atau kapasitas kita? Sudahkah belajar dari kesalahan dan keberhasilan? Apakah kritik dan feedback yang kita dapatkan cukup?.
7. Splash Art Effect
Adalah ketika kamu ingin membuat karya sekeren splash art namun tidak menyadari proses kompleks pembuatannya. Jika kita ingin mencapai goal atau target yang kita inginkan, kita harus bisa dengan bijak menempatkan goal, effort dan seberapa besar alokasi waktu, tenaga dan pengorbanan yang akan kita berikan. Dengan goal yang realistis kita akan mampu mengukur rencana belajar kita dengan baik.
Menjadi mahir dalam menggambar adalah sebuah maraton, bukan sprint. Dengan memahami cara kerja otak dalam menyerap informasi dan menjaga mentalitas belajar yang sehat, proses belajarmu akan jauh lebih efektif dan menyenangkan.
Selamat berlatih!
(BP/CA)
