Sepenggal catatan dari Sweta Kartika

1962725_10201402364483272_1133561996_n

Di ruang tunggu travel yang akan mengantarnya kembali ke Bandung setelah 7 jam mengisi Masterclass di Carrot Academy, komikus Grey dan Jingga itu duduk tenang sambil membuat sketsa di sketch book A5nya.
“Buat apa tuh Swet, emang loe selalu gambar ya di waktu-waktu senggang gini?
“Gambar buat kerjaan” Jawab Sweta sambil terus mencoret-coretkan pensil membentuk arsiran gambar bambu. Nggak sampai 10 menit dia menyelesaikan gambarnya dan memasukkan sketch book ke tas dan melanjutkan obrolan.

Tiba-tiba terlintas pertanyaan yang tadi tidak terpikirkan sewaktu interview di kelas. Pertanyaan yang sederhana terlontar ke Sweta. “Sebenarnya loe pernah bercita-cita menjadi Sweta yang seperti sekarang ini nggak sih? Muda, sukses, jadi ilustrator jago yang inspiratif, komikus terkenal dengan fans Grey dan Jingga yang berjibun, belum lagi para Jagawana yang sangat loyal?”

Gue menunggu jawaban panjang lebar tentang cita-cita besarnya dan bagaimana ia membangun mimpi-mimpinya…..di luar dugaan jawabannya bikin kening gue berkernyit.

“Tidak” Jawabnya pendek

Sebelum diminta, Sweta yang sudah melihat kebingungan di wajah guepun menjelaskan bagaimana ia bisa berada di titik yang  ia capai sekarang ini.
“Gue tidak pernah mematok cita-cita sespesifik seperti yang telah gue raih selama ini, gue hanya melakukan satu hal sederhana dan bisa dilakukan semua orang yaitu “melakukan apa yang gw suka – dengan konsisten” dan memilih untuk tidak mengerjakan apa yang tidak gue sukai. Nggak percaya?”
“Hmm…oke gue ceritain bagaimana gue bisa menjadi seperti sekarang ini. Mulai dari Grey dan Jingga. Gue dulu membuat komik Grey dan Jingga karena gue memang suka dan ingin membuatnya, bukan karena gue ingin dibayar atau terkenal. Gue menikmati setiap proses pembuatannya dan gue melakukannya dengan konsisten. Lembar demi lembar. Cerita demi cerita..dan akhirnya seperti yang terlihat sekarang ini, Grey dan Jingga syukurlah bisa diterima dengan baik.”

“Karena gue suka gambar, pasti gue selalu meluangkan waktu buat gambar dong. Gue selalu mencari cara bukan mencari alasan. Gue sadar passion tanpa melakukan sesuatu itu hanya omong kosong. Gue menggambar karena gw menyukainya, gue lakukan dengan konsisten, gue eksplorasi terus, dan tentu saja gue selalu berusaha memenuhi pencapaian yang terbaik. O ya jangan lupa untuk selalu berusaha menjadi berguna buat orang lain. Loe bisa kok berbagi banyak hal, share hal-hal positif dengan berbagai cara.”

Nha di tengah perjalanan menjadi ilustrator dan komikus dan dari keinginan untuk selalu berbagi dan berguna buat orang lain, akhirnya gue juga ditawari ngajar, menjadi instruktur seperti sekarang ini misalnya di Masterclass di Carrot Academy.  Sebelumnya, itu bahkan tidak terbayangkan sama sekali. Kemampuan mengajar ini akan tumbuh kalau kita suka berbagi. Ketika berbagi kita justru akan mendapatkan yang lebih lagi. Gw nggak pernah bercita-cita jadi pengajar lho. Gue melakukan apa yang gue suka, itu aja. Oya, pengalaman satu lagi, gue pernah jadi juri lomba di Fakultas Arsiterktur Landscape. Satu bidang yang bukan merupakan bidang gue. Saat proses penjurian, gue waktu itu mengupas aspek lain dari arsitektur yang gue kuasai, juri lain sampai nanya, kok loe bisa gitu. Gue ingat, sebelum ini pernah mengerjakan proyek ilustrasi buat game, dan itu sangat berhubungan dengan landscape. Nha dari situ pengetahuan gue berasal. Tentu saja karena sewaktu mengerjakan proyek itu gue mengerjakannya dengan konsisten, ada riset dan eksplorasi dan gue menemukan banyak hal menarik tentang landscape.”

“Mmm trus ntar gimana dong bisa kita dapat penghasilan, artist kan juga harus sukses secara finansial?” Pertanyaan gue mulai kritis nih kalo menyangkut uang.

Dengan kalem Sweta menerangkan”Gue pasti memikirkan juga hal itu,  tapi gue meyakini prinsip bahwa uang itu akan mengikuti passion kita. Kalau kita mengikuti uang, kita harus berkompromi dengan banyak hal. Oke, gue kasi contoh ketika gue mengerjakan OST Grey dan Jingga. Gue butuh biaya buat musisi, sewa studio…gue menyiapkan uang untuk semua keperluan itu. Di luar dugaan, waktu itu tiba-tiba ada saja yang nawarin buat ngisi musik, pinjemin studio dan membantu proses pembuatan OST sampai selesai…..dan ide memproduksi CD Ost pun lahir.”
(Beberapa hari ini Sweta sedang sibuk dengan peluncuran komik versi cetak Grey dan Jingga yang waktu obrolan ini berlangsung masih dalam proses produksi).

“Oya loe pernah menjadi Ambassador merk Smartphone itu duitnya banyak dong” tanya gue kepo
“Enggak, duitnya nggak seberapa, tapi gw dapat banyak hal yang nggak ternilai, pengalaman, creative circle yang makin luas” jawab Sweta bijak.
“Dan pasti tambah ngetop dong Swet”tukas gue sok tau.
“Yah reputasi itu mengikuti perbuatan kok, gak usah ngiklan kalo loe udah berbuat banyak dan bermanfaat bagi orang banyak juga orang akan mengenal siapa kita” lagi-lagi Sweta menjawab dengan bijaknya.

“Contoh lain tentang passion dan uang adalah ketika salah seorang teman komikus senior yang harus berkompromi dengan investor karena dia waktu itu meyakini, untuk kelanjutan proyek ini harus ada investor. Pada akhirnya terlalu banyak kompromi dengan investor malah membuat proyek tersebut tidak berkelanjutan, termasuk idealisme si artist yang akhirnya menjadi korban. Di studio yang gw kelola sekarang ini, kita adalah tim kecil dan selalu mencari dan mengerjakan proyek yang kita sukai, kita membuat sesuatu bagi roang lain yang kita juga ingin menikmatinya. Banyak kok pekerjaan yang menanti kita apabila kita memang kapabel. Memaksakan diri mengambil proyek yang tidak kita sukai akan membuat kita bekerja lebih keras tanpa bisa menikmati proses, mengorbankan idealisme kita dan hasilnya juga tidak akan maksimal dan tidak akan membawa kita ke mana-mana.”

“Jadi, apa yang kita lakukan saat ini, akan mengantarkan kita menjadi siapa kita nanti. Kita bisa bercita-cita jadi apapun, tapi apa yang kita lakukan hari ini yang akan menentukannya.”

Tiba-tiba obrolan terputus dengan tayangan Capres-capresan yang super garing annoying irritating di tivi di ruang tunggu travel….hmm yahh siapapun memang bisa bermimpi jadi apapun, mau jadi presiden, komikus ato apapun itu dengan menempuh segala cara untuk meraihnya. Tapi kita bisa kok, memilih fokus dan memusatkan energi kita melakukan banyak hal yang kita suka sesuai passion kita dengan konsisten, mencoba berguna buat orang lain dan membiarkan proses mengantar kita ke titik pencapaian kita, itu adalah pilihan…

eh nggak terasa ternyata udah jam 7 malam, travelpun siap-siap berangkat.
Wah trims banget Sweta, malam ini ada 1 manusia telah tercerahkan kembali..sehabis obrolan ini semangatpun seperti terpompa kembali. Kadang selama ini kita mengkuatirkan banyak hal sampai melupakan untuk mengerjakan apa yang ada di depan mata. Hmm….tiba-tiba gw lupa terakhir naruh sketch book gw…..sketch book mana sketch book..
(BP)

One thought on “Sepenggal catatan dari Sweta Kartika

Leave a Reply