Jago itu Mitos – Misteri yang Terpecahkan (Bag. 2)

the head of leda

the head of leda by leonardo da vinci

Mengapa seseorang Menggambar lebih baik dari orang lain?

Sejak awal manusia membuat karya seni, terlihat jelas sebuah perbedaan: ada orang yang dapat menggambar sebuah objek dengan mirip seperti tanpa usaha, dan orang yang berjuang mati-matian berjam-jam untuk mendapatkan sudut dan posisi yang benar. Apa yang membedakan orang yang bisa menggambar dengan yang tidak?

Sebuah penelitian yang masih berlanjut memberikan jawaban untuk pertanyaan yang telah lama tidak terpecahkan ini. Ada 3 faktor yang membentuk Kemampuan menggambar realis:

1. Bagaimana seseorang menangkap realita

2. Seberapa baik ia mengingat informasi visual dari satu momen ke momen selanjutnya

3. Elemen mana dari objek yang ingin ia gambar.

Kalau kita masih menemui kesulitan dan hanya bisa menggambar sesederhana stick figure, jangan kuatir, menurut peneliti di University College London, manusia dapat mengembangkan semua proses mental dengan PRAKTEK.

Pertama, orang yang tidak dapat menggambar dengan baik TIDAK MELIHAT DUNIA SEPERTI YANG NYATA. Ketika kita melihat sebuah objek, sistem visual kita secara otomatis salah menilai beberapa atribut seperti ukuran, bentuk, dan warna; penelitian selama 3 tahun ini menunjukkan setidaknya beberapa dari kesalahan PERSEPSI ini diterjemahkan dengan gambar yang salah/error. Paradoksnya, dalam kondisi lain kesalahan persepsi ini membantu kita membuat hal – hal menjadi masuk akal di dunia  nyata. Contohnya, objek yang muncul lebih besar ketika mereka dekat dari pada ketika mereka jauh. Meskipun begitu, sistem visual mempraktekan “size consistency” dengan melihat objek yang kira-kira sama besarnya meskipun seberapa jauh benda tersebut. Sistem visual kita, “mengetahui” objek yang jauh lebih besar dari yang terlihat, memberikan informasi yang salah ke otak tentang apa yang mata lihat.

size consitency

Menurut penelitian terkini oleh Justin Ostrofsky dan koleganya di Brooklyn College dan The Graduate Center of the City University of New York, orang yang memiliki masalah dalam menentukan besar, bentuk, warna dan terang  juga bidang biasanya akan kesulitan juga dalam menggambar. Mereka yang menggambar dengan baik dapat mengesampingkan persepsi visual yang salah dan memahami apa yang mata mereka lihat. Namun, penyerapan gambar yang tidak akurat adalah salah satu bagian dari cerita ini, kata Rebecca Chamberlain,psikolog dari University College London.

before2

http://blackwalnutdispatch.files.wordpress.com/2012/07/before2.jpg

Chamberlain dan koleganya melakukan eksperimen untuk melihat peran ingatan visual ke dalam proses menggambar. Mereka percaya bahwa skill menggambar merupakan hasil dari bagian kemampuan kita untuk mengingan relasi simple dari objek, seperti sudut antara 2 garis. Dari saat sudut itu diserap hingga saat digambar. Satu hal lagi “menggambar juga melibatkan fokus pada kedua hubungan proporsional holistic/menyeluruh serta  pada detail yang terisolasi dari keseluruhan. Mungkin itu adalah kemampuan untuk beralih antara 2 mode ini untuk melihat gambar yang baik.” Kata Chamberlain ke Life`s Little Mysteries.

Lebih jauh lagi, seperti yang dijelaskan saat bulan desember di jurnal Psychology of Aesthetics, Creativity, and the Arts, Ostrofsky dan koleganya menemukan bukti signifikan tentang kemampuan artist itu lebih baik dalam memilih elemen mana dari objek yang perlu dimasukkan untuk menunjukkan bentuk objek. Ketika artist sudah menentukan elemen penting, mereka bisa menentukan  detail mana saja yang menjadi perhatian di sekitar objek yang menjadi fokus mereka.

IMG_3745

“The devils is in the details, dan peneliti masih meneliti sebuah hubungan antara semua faktor yang mempengaruhi akurasi gambar. Namun, semua hal ini memungkinkan untuk dipelajari. “Tidak salah lagi kalau praktek itu merupakan komponen penting untuk dapat menggambar,” kata Chamberlain. Dalam penelitian yang disajikan di Columbia University dan sebentar lagi akan dipublikasikan oleh Columbia University Press, Chamberlain dan koleganya menemukan praktek menggambar dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan seseorang seiring dengan waktu, yang terlihat oleh orang yang berpartisipasi dalam studi ini.

Berdasarkan penelitian, psikolog merekomendasikan teknik ini untuk menjadi lebih baik dalam menggambar:

1. Fokus pada skala gambar agar muat di ukuran kertas; tentukan objek di sekelilingnya dengan menunjukan bagaimana objek tersebut berada di ruang

2. Fokus pada jarak antara elemen dari sebuah objek dan ukurannya; dan ruang – ruang kosong di antara objek.

3. Memiliki persepsi dan mampu melihat “garis” seperti apa adanya dan memahami batasan antara area terang dan gelap.

1399644_10201837510632959_95164864_o

Sumber: http://www.livescience.com/19878-drawing-ability.html

One thought on “Jago itu Mitos – Misteri yang Terpecahkan (Bag. 2)

Leave a Reply