Cerita di Balik Sukses Komik Mat Jagung

Minggu 16 Februari 2013, Carotens (sebutan untuk warga Carrot Academy) berkesempatan mampir ke studio sekaligus kediaman Diyan Bijac aka Dian Her Dwiandaru Rumaksono Djoyodipuro. Lahir di Jakarta 8 Oktober 1974, komikus inilah yang bertanggung jawab di balik sukses komik bersambung Mat Jagung Pemberangus Korupsi. Buat pembaca setia Tempo, mungkin sudah gak asing dengan sepak terjang Jaksa Penyidik yang nekat bak Indiana Jones ini. Salah satu karya mas Diyan lain yang populer adalah 101 Humor Lalu Lintas yang masuk Lima Besar Daftar Buku Pilihan Pembaca Indonesia tahun 2012 Kategori Komik/Novel Grafis.
b7

Nah buat kenal tokoh pencipta karakter Mat Jagung lebih dalam dan dalam lagi alangkah baiknya kita langsung menuju sesi tanya jawab dengan salah satu maestro komik lokal kita….
Carotens : Ehm.. Lagi sibuk apa nih mas??
Diyan : Yah sekarang sih lagi sibuk jadi kontributor komik buat koran Tempo.
Carotens : Udah berapa lama nih Mas Diyan terjun ke Industri komik??
Diyan : Hmmm….sudah cukup lama ya. Jadi saya mulai banting stir jadi komikus itu sejak 2006 lalu.Waktu itu, saya dapat tawaran menggarap komik bersambung buat harian Tempo.
Carotens : Dapat wangsit dari mana mas bisa terbersit komik dengan tokoh Jaksa gitu??
Diyan : Ya itu hasil musyawarah sama pihak redaksi Tempo. Jadi maksud hati kita pengen nyindir pemerintah lewat kinerja Jaksa Agung, tau sendiri kan banyak banget kasus korupsi numpuk di meja.
Carotens : Tapi itu gak kena tuntutan mas dari pemerintah??

Diyan : Wah kalau dapat teror gitu sih sering banget ya. Bahkan pernah dapat ancaman kalau tempo mau ditutup. Menyedihkan banget kan, 200 lebih karyawan di sana terancam diberhentikan gara-gara masalah ini (apa kata dunia). Akhirnya kita sepakat untuk sedikit memperhalus sindirannya, tapi tetep bisa buat orang ngerti.
Carotens : Wow, luar biasa. Gimana perjalanan awal mas Diyan sampai menjadi komikus Tempo?
Diyan : Jadi saya mengawali karir itu sebagai drafter dulu, basic pendidikan saya emang dari drafter, tapi karena jenuh sama kerjaan yang begitu-begitu saja, akhirnya saya terjun ke dunia animasi dari 1994 sampai 2003.
Carotens : Wah jadi sebelum ngomik ke animasi dulu tuh mas??
Diyan : Iya, ironisnya yang buat film anime itu orang-orang kita juga kok. Meski gak semuanya di buat di sini. Jadi prosesnya di sini dulu, nah pas udah kelar rollnya itu di kirim dan diremastered di sana, baru setelah 10 tahun kemudian kita orang Indo bisa menikmati film itu, lalu tanpa kita sadari kita bilang bahwa film anime Jepang itu hebat ya.
Carotenspun sempat terhenyak mendengar penuturan mas Diyan, begitu banyak potensi yang belum dimaksimalkan dari artist-artist dalam negeri. Sambil menikmati suguhan teh hangat dan semeja penuh hidangan, obrolan berlanjut
Diyan : Oke, setelah perusahaan animasi itu colaps dan akhirnya semua pegawai di PHK , akhirnya saya banting stir ke dunia komik. Awal mulai gambar saya masih belum bagus, nah disitu saya mulai coba-coba buat komik indie, trus saya tawarin ke penerbit – penerbit maupun media besar,…dan tau apa hasilnya? Alhamdulillah semua ditolak, he he he.
Carotens : Wah sekaliber mas Diyan aja bisa ditolak, bagaimana itu mungkin mas????
Diyan : Iya, penolakan itu hal yang wajar dan jangan pernah takut atau down dengan penolakan, bahkan di awal-awal sering gambar saya dibilang jelek, yang penting dari situ kita tahu di mana yang harus kita kembangkan sampai bisa memenuhi standar industri. Oya, kalo mau improve gambar komik, cobalah gabung ke Akademi Samali, di sana kita bisa menggali banyak hal tentang dunia komik. Tapi di sana lebih mengangkat tema – tema lokal.
Sambil menunjukkan beberapa portfolionya, mas Diyan mengajari beberapa teknik di dalam proses pengerjaan sebuah komik.
b8
Carotens : Owh jadi prosesnya gimana nih mas dari naskah terus bisa kesulap jadi komik??
Diyan : Nah jadi prosesnya gini naskah Mat Jagung di kasih sama seorang penulis bernama Radhar Panca Dahana ke stock story untuk 1 TAHUN (lama ya). Dari naskah yang tebelnya gak karuan itu, saya penggal sedikit – sedikit buat ditampilin setiap minggunya.
Awalnya kan masih satu halaman koran penuh ya, sekitar 30 panellah, lumayan menguras waktu. Sekarang sih udah dikurangin, setiap terbit sekitar 10 panel.
Carotens : Deadlinenya berapa hari ya mas?? Gimana cara mas menyiasati waktu kerjanya??
Diyan : Gw dikasih waktu cuma sampe 4 hari, tapi saya beusahan secara konsisten selesai dalam waktu 2 hari saja. Waktu kerjanya juga mengikuti orang kantoran, jam 8 pagi sampe jam 5 sore. Memberi target dan disiplin pada diri sendiri adalah salah cara menyiasati deadline.
Carotens : Wah gak bebas dong mas?
Diyan : Bebaslah wong kerjanya di rumah..he he he (senyum bahagia)
Carotens : Terus gimana nih mas tips n trick buat bisa jadi kayak mas, share dong ke kita??
Diyan : Saran saya sih cuma satu banyak-banyaklah berkarya, jangan gampang nyerah. Kalo memang punya passion di dunia ilustrasi pasti bisa, yakin itu kunci nomor satu. Kayak saya yang cinta mati sama pekerjaan ini, Insya Allah bakal terus gambar sampai pensil penghabisan. Kecuali kalau ternyata makin banyak klien yang melupakan kewajibannya…..

Carotens : Semangat 45 ya mas…… Oya mas satu lagi, syarat komik biar laku apa ya??
Diyan : Sebenernya gak ada syarat khusus atau wajibnya, tapi sebuah komik yang punya quality dan quantity itu berbanding lurus dengan kredibility dan readability. Jadi sebuah komik yang punya nilai itu harus mempertimbangkan konten atau isi yang kuat, yang punya jiwa dalam perkembangan ceritanya, tapi lebih dari itu, satu yang harus dimiliki komik biar bisa di konsumsi masyarakat Indonesia yaitu harga yang murah/terjangkau.
Dari obrolan santai ini terlihat Diyan Bijac sangat menikmati pekerjaannya sebagai komikus. Kecintaan pada bidang ini telah memberikan banyak pencapaian dalam berbagai hal, termasuk berbagai penghargaan yang ia peroleh selama ini. Namun, bukan hal yang mudah untuk mencapai semua itu. Walau Di awal perjalanannya, ia tidak medapat dukungan penuh dari keluarga dan lingkungan, dengan tekad dan usaha yang konsisten, kini ia bisa membuktikan bahwa pilihannya benar. Berani memilih meninggalkan pekerjaan lama yang mapan dan langsung terjun dalam dunia ilustrasi membuktikan komitmennya. Menurutnya, apapun profesi yang kita tekuni, harus ada rasa CINTA atau PASSION di situ. Harus ada rasa suka, itu yang paling penting. Kalau memang tidak ada rasa suka, LUPAKAN pekerjaan itu. Pada awalnya orang lain mungkin akan menganggap remeh, itu adalah hal yang wajar, karena pada akhirnya karya kitalah yang akan menunjukkan kita siapa. Satu hal lagi, Diyan tidak mengenal istilah berlatih dan coba-coba, menurutnya untuk menjadi illustrator yang handal adalah dengan berkarya bukan dengan berlatih. Diyan merasakan kualitas karyanya terus berkembang dan makin konsisten seiring makin produktifnya ia dalam berkarya. Jadi tunggu apalagi, JUST DO IT!!

Oya, mas Diyan juga termasuk salah satu anggota aktif dari Akademi Samali, kalau ingin tahu banyak tentang dunia komik Indonesia, silakan kunjungi komunitas ini
Akademi Samali Jl. Mampang Prapatan XVI/28 (Buncit 12) Jakarta Selatan 12760.
Telp: 021 79198858 (cp:Beng Rahadian).
“Bersama Kami, Membuat Komik Jadi Lebih Mudah”. Akademi Samali

b3

(@herlArt/@rutofi/@budhipramana)

3 thoughts on “Cerita di Balik Sukses Komik Mat Jagung

Leave a Reply