15 Tips yang akan menambah pengetahuan environment concept artist (Bag.1)

Konsep desain yang efektif itu cukup rumit. Berikut adalah beberapa tips alur kerja untuk membantu kita menciptakan environment yang realistis bagi karakter dalam desain.

Tugas utama concep artist adalah membuat konsep, merancang dan mengeksekusinya menjadi sebuah desain “dunia yang hidup dan masuk akal”.  Namun, keberhasilan konsep dalam environment ini tidak hanya bergantung pada skill artist saja – banyak sekali faktor yang mempengaruhi keseluruhan produksi.

Visual development adalah tentang sebuah proses evolusi dari ide hingga menjadi produk akhir. Jadi dalam pembuatan sebuah artwork, penting sekali sebuah susunan kerja yang terstruktur: konsep – desain – teknik. Cara berpikir kita menjadi kunci sukses produksi sebuah artwork project. Inilah 15 tips dalam pembuatan konsep environment.

01. Konsep seni = Konsep + Seni

 

Dalam artwork ini, karakter utama adalah “kebutuhan” desain; sementara karakter sekunder adalah “keinginan”desain.

 

Concept art bukan hanya tentang epik, atau eksekusi yang keren. Prioritas sebuah konsep adalah: kebutuhan dan keinginan. Apa yang dibutuhkan cerita harus di-konseptualisasi-kan terlebih dahulu. Kemudian artist akan memberikan disainnya agar fokus dan mendukung ceritanya.

Pada gambar di atas, “kebutuhan” pada gambar ini adalah merancang karakter peri Asia dan lingkungan magisnya. Karakter kedua adalah desain yang “diinginkan”, untuk memberi gambaran skala dan dimensi. Pilihan desain karakter sekunder menciptakan kesamaan hubungan dan keakraban antara keduanya.

02. Dynamic research.

 

Buat sketsa saat melakukan research sehingga kita tidak tenggelam dalam bahan referensi

 

Penelitian menghasilkan sesuatu yang otentik dalam evolusi desain, mulai dari konsep hingga produk akhir. Pahami aturan sebelum memecahkan masalah, kita harus belajar tentang realisme sebelum dapat merancang, atau mendesain ulang, sebuah objek atau environment.

Research memberi gambaran fungsionalitas, yang membuatnya dinamis adalah ketika kita mulai membuat sketsa dan membuat thumbnail saat melakukan research. Hal ini membuat kita tidak terjebak dalam bahan referensi. Kita perlu mempercayai naluri artistik kita saat membuat target desain dari bahan referensi, dan kita berhenti mencari lebih banyak dan mulai membuat sketsa. Pendekatan kita terhadap desain akan meningkat dengan melakukan proses dynamic research ini.

03. Berpikir “in the box” sebelum berpikir “out of the box”.

 

Artwork ini menceritakan kembali Kisah Titanic melalui cara berpikir di dalam dan luar kotak.

 

Sebagai seorang concept artist dan development artists, kita selalu diharuskan berpikir di luar kotak. Hal ini hanya mungkin jika artist tahu apa yang ada di dalam kotak. Tidak hanya untuk mengetahui apa yang ada di dalamnya, tapi juga mengerti bagaimana benda-benda itu di dalam kotak kerja.

Kita menyadari bahwa ada saatnya untuk tidak keluar dari luar kotak jika apa yang ada di dalamnya masih bekerja. Pada akhirnya, adalah bagaimana sebuah cerita atau ide bisa disampaikan dengan lebih efektiflah  yang akan mempengaruhi pilihan disain kita, bukan apakah itu ide yang berasal dari ‘luar sana’ dari dari luar zona nyaman.

Sketsa cepat ini memberi dua sisi dalam menceritakan kembali kisah Titanic. Gambar pertama adalah terjemahan “in the box”, dengan narasi literal dari situasi bawah airnya saat ini. Sebagai alternatif, kita bisa memilih opsi “out of the box” dengan membuat gambar yang disandingkan dari deskripsi yang seharusnya dan situasinya hari ini, yang dikemas dalam penyusunan kapal-dalam-botol secara klasik.

04. Merancang dengan lebih bebas.

Buatlah ide dengan lengan kita, tapi tariklah garis dengan pergelangan tangan kita.

 

Salah satu hal yang perlu diketahui bagi concept artist adalah tentang istilah “merancang dengan tangan dan menggambar dengan pergelangan tangan kita”. Artinya Ada keseimbangan kebebasan dan kontrol dinamis di pergelangan tangan, dan keseimbangan kebebasan dan kontrol yang dinamis dalam menemukan bahasa desain yang tepat saat lengan bergerak longgar. Ketika saya menjadi malas dan merasa lengan menjadi lelah, artwork akan cenderung statis dan menjadi tidak bernyawa.

Gambar-gambar ini berasal dari proses demo 90 menit dalam sebuah workshop. Kertas berukuran besar 40×60 cm memberi fleksibilitas lengan yang bagus. Lalu gambar difoto dengan handphone hi-res dan memindahkan file ke Photoshop untuk memberikan value dan warna.

05. Memahami komposisi.

 

Perspektif, penempatan subyek (Staging) yang tepat dan value merupakan kunci sebuah komposisi yang baik

 

Komposisi sangat penting sebagai kekuatan struktural desain. Komposisi bukanlah hal yang berdiri sendiri yang hanya menggambarkan susunan bentuk 2D dan 3D. Komposisi adalah tentang perspektif, value, penempatan subyek (staging) dalam kanvas dan warna yang disusun secara harmonis, untuk menceritakan cerita atau ide secara lebih efisien.

Perspektif adalah penempatan kamera dan jenis lensa yang digunakan. Value menerjemahkan aplikasi pencahayaan. Penempatan/Staging subyek adalah penataan elemen yang berbeda dalam kanvas dengan menggunakan kombinasi bentuk, ukuran dan bentuk yang saling bertumpangan, menciptakan kedalaman, dimensi dan keseimbangan. Warna sendiri adalah harmoni palet dan suhu.

06. Estetika visual menggunakan perspektif.

 

Angle dari atas menunjukkan ketidakterbatasan, kekuatan, kepercayaan dan kepemimpinan. Angle sejajar mata  memberi persepsi normal, netral, dan keterhubungan, dan angle rendah menunjukkan kerentanan, kelemahan, bahaya dan kesepian.

 

Perspektif memiliki efek psikologis yang kuat terhadap persepsi audience. Di bawah ini, berbagai penempatan kamera dari subjek dan lingkungan yang sama memberikan persepsi audience yang berbeda. Sudut pandangnya adalah mata audience.

07. Penerapan estetika visual.

 

Ide awal untuk gambar ini adalah menempatkan subjek pria pada jarak yang sama dari kamera, tapi diletakkan tepat di bawah wanita di jembatan. Namun, ini memberi kesan bahwa dia sudah sampai di tempat tujuannya. Jadi dikoreksi dengan memindahkannya sedikit ke kiri. Ini memberi isyarat bahwa dia belum menyelesaikan perjalanannya, tapi dia akan segera sampai di tempat tujuannya. Hal ini juga membantu terciptanya persepsi pergerakan dalam lukisan.

 

Estetika visual adalah studi tentang bagaimana elemen komposisi (nilai, perspektif, stadium dan warna) berinteraksi dan reaksi audience terhadapnya. Dengan hanya memahami komposisi tidak akan cukup untuk menjadikan kita bisa menjadi storyteller yang baik. Sebaliknya, penting sekali untuk memahami persepsi – bagaimana audience bereaksi terhadap komposisi.

Penggunaan komposisi yang tidak tepat akan menghasilkan persepsi audience melenceng dari apa yang ingin kita sampaikan. Pemahaman yang berbeda membuat audience terfokus pada hal yang tidak tepat dalam cerita kita. Berarti audience akan memiliki interpretasi yang berbeda terhadap cerita/ide. Dengan penggunaan estetika visual yang tepat, pilihan komposisi menjadi terencana dan mengarah pada persepsi yang diharapkan.

Saat artis mengontrol bagian mana yang ingin dilihat dalam sebuah artwork, pesan visual menjadi subjektif. Subjektif berarti persepsi terkontrol. Persepsi terkendali menghasilkan konteks yang terkendali, dan ini berarti penonton akan memiliki interpretasi tunggal atas gagasan ceritanya.

08. Estetika visual menggunakan value.

 

Komposisi value akan menentukan keberhasilan komposisi warna pada saat coloring

 

Value adalah terang atau gelapnya warna. Setiap warna memiliki nilai yang sesuai, dan terang atau gelap tergantung pada jumlah pencahayaan yang diterapkan pada warna.

Tiga aturan penting dari value adalah:

  1. Value mengendalikan titik fokus – biasanya area paling terang memiliki kontras tertinggi, atau bila value yang dominan menempati sebagian besar dari value yang berlawanan;
  2. Value memberi ilusi bentuk tiga dimensi, untuk menunjukkan permukaan yang terkena cahaya dan permukaan di bawah bayang-bayang;
  3. Value menciptakan ilusi kedalaman (mengubah jarak antara gelap dan cahaya akan menciptakan kedalaman).

Persepsi mood atau emosi dari cerita yang diceritakan di kanvas ini ditetapkan oleh pencahayaan yang diterapkan yang diterjemahkan ke dalam value. Kesuksesan komposisi warna mutlak tergantung dari komposisi nilai.

(Baca selanjutnya di BAGIAN 2)

Source: https://www.creativebloq.com/how-to/concept-design-tips-for-artists

One thought on “15 Tips yang akan menambah pengetahuan environment concept artist (Bag.1)

Leave a Reply